Islam

Frekuensi yang Tak lagi Sama

بسم الله الر حمن الر حيم

Ruh itu seperti tentara. Ada sandi di antara mereka.Jika sandi telah dikenali, tak perlu banyak lagi yang diketahui. Cukup itu saja. Mereka akan bersepakat. Mereka adalah sekawan dan sepihak. Mereka akan bergerak untuk satu tujuan yang diyakini. Jadi apakah yang menjadi sandi di antara para ruh? Iman. Tentu saja. Kadar-kadarnya akan menerbitkan gelombang frekuensi yang sama . Jika tak serupa, jika sandinya tidak diterima, ia telah berbeda dan sejak awal tak hendak menyatu.
– Ust. Salim A. Fillah

Kutipan ini ana jumpai pada salah satu tulisan al-ustadz yang bertemakan tentang pernikahan. Namun, barisan kalimat tersebut ana rasa tidak hanya berlaku ketika kita mencoba menemukan kesejiwaan pada calon teman hidup saja. Dalam interaksi di kehidupan sehari-hari pun kita butuh kesejiwaan.

1Sumber gambar di sini

Mungkin saudari fillah ada yang pernah merasakan ketika sedang berada dalam suatu komunitas, kelompok masyarakat, atau bahkan mungkin keluarga, diam-diam hati kita berbisik,”Sepertinya ana nggak cocok deh berada di sini.” Kita merasa asing di tengah keriuhan yang katanya bisa mendekatkan. Tahukah kenapa hal tersebut bisa terjadi? Frekuensi yang tak lagi sama.

Perbedaan frekuensi itu bermacam bentuknya. Misalnya saja ada orang yang menggilai olah raga bola berdiskusi dengan yang menghabiskan hidupnya bercumbu dengan buku. Kira-kira apa yang terjadi? “Nggak asik ngobrol sama die, nggak nyambung. Kita ke timur die ke barat,” Perbedaan frekuensi dalam perkara duniawi, seperti kegemaran, telah membuat ruh enggan saling mendekat. Lalu bagaimana jika bentuk perbedaan melebihi hal tersebut? Seperti tujuan hidup misalnya?

Mungkin ada juga yang pernah mengalami, berjumpa dengan seseorang untuk pertama kali, namun rasanya kita telah saling mengenal begitu lama. Kita begitu tertarik dengannya dan ingin berlama-lama untuk bertukar pikiran. Itulah kesejiwaan. Tanpa pernah bertemu, ruh mereka telah saling mengenal. Kecintaan yang sama terhadap suatu hal membuat mereka begitu mudah menemukan berbagai kecocokan. Begitu mudah untuk mendekat karena frekuensi yang telah sama

Kesejiwaan hakiki setiap diri itu sungguh bukan karena mereka memiliki kesamaan frekuensi dalam hal duniawi. Kesejiwaan hakiki itu akan muncul dari setiap jiwa yang memiliki kesamaan frekuensi yang melebihi batas dunia, Akhirat.

Bukittinggi, 6 Syawwal 1438 H
Dalam kerinduan untuk kembali ke Surabaya

***

Tulisan ini terinspirasi dari salah satu tulisan saudara fillah, semoga Allah selalu menjaganya dalam ketaatan, Amin…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s