Bidan · Islam

being a Doula

بسم الله الر حمن الر حيم

Keberadaan Doula sebetulnya sudah hadir sejak lama dan berkembang di luar negeri. Namun di Indonesia, istilah ini baru-baru saja mulai menjadi tren, terkhusus di kalangan ibu-ibu hamil yang tengah mempersiapkan proses persalinannya. Doula yang dalam bahasa sederhana dapat diartikan  sebagai pendamping persalinan atau yang mendampingi ibu selama kehamilan, pada dasarnya merupakan satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari sosok seorang bidan. Ketika menjadi bidan, otomatis kita juga berperan sebagai pendamping selama kehamilan serta persalinan, bukan hanya penolong persalinan saja. Namun mengingat dengan begitu banyaknya tugas yang diemban oleh seorang bidan (bagi teman-teman bidan tentu paham akan hal ini), kehadiran Doula menjadi sosok baru yang bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk dapat membantu meringankan tugas bidan dalam memberikan asuhan.

Siapapun sebetulnya bisa menjadi Doula, tidak hanya mereka yang memang sengaja mengikuti pelatihannya. Termasuk suami, keluarga, teman pun bisa menjadi Doula. Dan, baru saja kemarin ana berkesempatan menjadi seorang Doula, not being a Midwife, hehe..

love-doulasumber gambar di sini

Setelah beberapa bulan atau bahkan hampir setahun tidak turun lapangan dan tiba-tiba kembali memasuki dunia “tersebut”, namun bukan sebagai bidan, ternyata memberikan sensasi dan pengalaman berbeda bagi diri ana pribadi. Meski telah bebekal pengalaman praktek menjadi bidan dalam mendampingi dan menolong persalinan, being a Doula ternyata tidak semudah seperti apa yang pernah ana lakukan ketika berperan sebagai bidan. Menjadi Doula, kita harus benar-benar stay di tempat setiap saat mendampingi ibu. Mendengar setiap keluhan dan keinginannya. Dan menjadi Doula itu pun, menurut ana juga harus benar-benar kuat. Kuat imannya, kuat hatinya serta kuat kakinya kalau harus terus berdiri lama di ruang persalinan (pengalaman pribadi). Hahaha…

Saat persalinan merupakan waktu-waktu yang paling genting yang terjadi pada diri seorang ibu. Saat di mana terkadang ibu kurang mampu mengendali diri, emosi, dan pemikirannya. Mungkin bagi yang pernah mendampingi istri, saudara, atau teman saat bersalin, tahu persis bagaimana seorang istri bisa saja akan mengangkat suara dihadapan suami yang mendampingi, memegang tangan suami begitu erat sehingga mungkin terasa sakit, atau istri akan menangis. Bahkan ada yang kemudian meminta untuk di SC (operasi) saja karena merasa tak mampu lagi membendung rasa sakit yang begitu luar biasa. Saat itulah ketangguhan seorang Doula akan benar-benar diuji. Kesemua itu sebetulnya merupakan hal yang wajar terjadi dan dialami oleh setiap perempuan yang akan bersalin, sebagaimana ibunda Maryam pun ketika akan melahirkan Nabi Isa juga merasakan dan mengalami hal yang sama

Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, “ Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.”

Maryam (19) : 23

Lalu bagaimana seorang Doula seharusnya bersikap dan bertindak?  Sebetulnya mudah.
Hiburlah dan kuatkanlah ibu sebagaimana Allah telah memerintahkan pada malaikat Jibril ketika mendampingi Maryam. Selain itu, yang terpenting dan paling penting, seorang Doula juga harus mampu menanamkan tauhid pada diri ibu terkhusus ketika bersalin. Meyakinkan ibu bahwa  tiada pertolongan melainkan semuanya dari Allah, serta hanya Allah lah yang mengetahui kapan seorang ibu itu akan melahirkan. Tidak sedikit ibu-ibu yang bertanya, “Apa ini masih lama? Kapan bayinya akan lahir?” Dan kita pun (bidan atau doula), termasuk ana, menjawab,“Iya sebentar lagi bu, sedikit lagi. Sabar yaa…” Sekilas mungkin kalimat yang kita sampaikan terdengar biasa dan justru memotivasi ibu untuk lebih bersabar. Namun jika lebih dicermati, maka kalimat tersebut bermasalah. Akan lebih baik kiranya kalimat sejenis inilah yang seharusnya kita sampaikan,“Secara medis,insyaAllah ibu butuh bersabar sedikit lagi  menunggu pembukaannya lengkap. Namun semuanya tergantung Allah bu. Teori medis sekalipun bisa dipatahkan jika Allah berkehendak lain. Semoga saja Allah menyegerakan ya bu.” 

***

Menjadi Doula itu ternyata menyenangkan. Namun ketika kita seorang bidan hanya mendampingi tanpa bisa menolong persalinan, rasanya itu…..

Bukittinggi, 4 Syawwal 1438 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s