بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

“Apa hal yang terberat dalam hidup kalian?”

Pertanyaan seperti ini tentu akan memunculkan banyak sekali jawaban. Mungkin di antara kita ada yang memendam jawaban, bagi yang masih kuliah, dosen pembimbing yang sulit ditemui sehingga menyebabkan  skripsi tak kunjung usai menjadi hal yang paling berat yang pernah dialami dalam hidup. Atau bagi yang sedang bekerja mungkin kegagalan dalam karir sehingga  harus memulai membangun dari awal lagi menjadi hal yang teramat berat yang mesti dilewati. Rata-rata jawaban kita akan berputar-putar dan mengarah pada titik yang sama,yaitu hal yang paling berat dalam hidup adalah ketika kita tidak mampu memenuhi satu hal yang seharusnya dipenuhi. Bukankah begitu? Namun bagaimana jika pertanyaan yang sama diajukan kepada mereka yang masih berusia 7,8, atau 10 tahunan? Apakah warna jawaban mereka akan sama seperti kita?

Ide ini muncul setelah ana mengikuti kajian ust. Budi yang berjudul “Melahirkan Generasi Pemimpin”. Pada kajian tersebut ustad sedikit mengulas tentang bagaimana seharusnya seorang guru,pendidik,ataupun orang tua ketika memberikan suatu penugasan pada anak atau berdiskusi dengan mereka,maka hal itu semestinya bukan hanya sekedar penugasan atau diskusi tanpa ada suatu makna yang bernilai yang dapat ditanamkan dalam diri anak-anak. Kita tentu sudah banyak sekali melihat contoh anak-anak atau pemuda yang memang mereka cerdas luar biasa secara intelektual, namun bagaimana dengan ruh yang mendiami jiwa? Dalam kajian yang sama ,ustad Budi memberikan contoh bentuk penugasan pada santri di Kuttab Al-Fatih, yaitu mereka diminta untuk mendiskusikan hal yang terberat dalam hidup, yang mereka rasa tak mampu untuk mengatasinya bersama ayah mereka. Layaknya seorang khalifah yang sedang mendiskusikan permasalah umat dengan staf ahlinya. MasyaAllah,beginilah penugasan yang luar biasa yang insyaAllah akan melahirkan generasi para pemimpin. Berawal dari sana,ana pun mencoba untuk mengadopsi sedikit demi sedikit cara Kuttab Al-Fatih dalam memberikan pembelajaran di TPQ yang ana bina, dengan harapan ruh Kuttab bisa dirasakan di sana,di tempat yang mana di tengah-tengah masyarakat kita menjadi titik harapan penanaman ilmu agama dan perbaikan akhlak anak-anak mereka.

Sore itu, masih ditemani suara guyuran hujan di luar sana, kami mendiskusikan satu pertanyaan menjelang magrib yaitu : “Apa hal yang terberat dalam hidup kalian?” Sungguh, ana tidak terlalu berekspektasi lebih terhadap jawaban yang akan mereka munculkan. Mengingat mereka berinteraksi dengan berbagai hal dan tak selalu berada dalam lingkungan yang membangkitkan dan menjaga semangat keislaman mereka. Namun, masyaAllah jawaban mereka membuat ana melahirkan sebuah harapan, insyaAllah kelak mereka akan menjadi salah satu dari sekian pemimpin peradaban umat ini. Bukan yang mereka ungkapkan tentang hal yang terberat adalah ketika mereka disisihkan oleh teman-teman, diejek oleh teman-teman sekelas, mendapatkan nilai yang buruk sehingga dimarahi oleh orang tua, atau tidak bisa menjadi juara kelas, tapi yang keluar dari bibir mereka justru hal yang terberat yang mereka tak mampu menghadapinya ialah ketika mereka nanti harus masuk ke dalam neraka, ketika mereka ditanyai di dalam kubur, ketika mereka membantah kepada orang tua. Inilah hal yang membebani mereka. Mereka takut jikalau nanti dilemparkan ke dalam neraka , diinterogasi oleh malaikat di dalam kubur di mana tak seorang pun yang akan membela, dan jika mereka durhaka kepada kedua orang tua. Lagi-lagi,satu pelajaran yang teramat mahal.

Mungkin kita,termasuk yang sedang menuliskan ini, masih jauh kalah dari anak-anak. Pemikiran kita masih saja berorientasi dunia. Sehingga yang ditakutkan pun, yang kita merasa berat jika suatu ketika menimpa diri adalah sesuatu yang berkaitan dengan dunia. Bandingkan dengan mereka yang kita sebut belum dewasa secara pemikiran. Memang mereka belum dewasa dalam pemikiran keduniaan,namun itulah istimewanya mereka. Ketika belum banyak perhiasan dunia yang menggoda, ternyata Allah telah mendewasakan mereka dalam pemikiran akhirat jauh lebih dulu dari pada kita. MasyaAllah, sebetulnya banyak hal yang jika kita mau berendah diri, pelajaran berharga itu justru bisa kita dapatkan dari anak-anak.  Mereka bisa menjadi cermin bagi kita untuk mengintrospeksi diri. Menjadi penyemangat bagi kita agar terus mempersiapkan diri menghadapi beban yang lebih berat dari pada beban dunia yang penuh dengan senda gurau ini.

Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dan semoga yang sedikit ini bermanfaat.
– 1 Rabi’ul Awal 1438 H