Islam

Perempuan, wajah Pendidikan Anak

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Sejatinya setiap perempuan harus memiliki bekal ilmu yang banyak. Tidak cukup rasanya bagi kita hanya concern pada satu bidang ilmu saja,itu pun ilmu yang digeluti semasa kuliah. Setiap perempuan selayaknya memiliki keluasan ilmu sebagai mana ibunda kita Ummul mu’minim, ‘Aisyah radhiyallahu’anha. Sang muwaffaqah yang tidak hanya dikenal dengan kecerdasannya dalam ilmu aqidah, tafsir, sunnah, sejarah bahkan keilmuan beliau juga meliputi sastra, bahasa, puisi,serta kedokteran. MasyaAllah…  

Dari berbagai ilmu yang terhampar, tentu ilmu akhirat sudah sepantasnya menjadi list teratas dari urutan ilmu yang mesti kita pelajari. خَيْرُكُمْ من تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ –Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya (HR. Bukhari No.4739). Selain itu ada satu bidang ilmu yang ana rasa juga harus kita pahami sebagai perempuan, yaitu ilmu pendidikan anak. Sebagai seorang perempuan yang nanti dari rahimnya akan lahir para pemimpin peradaban,tentu harus betul-betul memahami tentang yang satu ini. Karena yang kita hasilkan bukanlah sebuah  alat penemuan, tapi seorang anak manusia. Ustadz Budi pernah mengungkapkan dalam sebuah kajian beliau, dengan redaksi kira-kira seperti ini dan sedikit ana tambahkan,

”Jika untuk menghasilkan sebuah penemuan, kita rela menempuh jenjang pendidikan hingga doctoral dan menghabiskan waktu belama-lama di laboratorium. Lalu bagaimana dengan anak? Apakah cukup dengan bekal ilmu seadanya untuk mendidik mereka? Mereka adalah mahakarya yang lebih berharga dari beribu nobel penghargaan yang kita terima.”

Tentang ilmu pendidikan bagi anak, mungkin teman-teman yang bergelut dalam dunia pendidikan tentu tidak asing dengan istilah “bermain sambil belajar.” Teori dari barat yang aplikasinya hari ini dengan mudah kita temui di sekolah adik-adik atau anak-anak kita. Namun apakah teori  tersebut betul-betul akan bisa melahirkan para pemimpin nantinya?

Alhamdulillah,memiliki sahabat shalihah itu merupakan anugerah yang sungguh luar biasa. Karena kehadirannya akan selalu menjadi pengingat bagi diri kita ketika mulai melangkah pada arah yang keliru. Pun demikian diri ana yang selalu tak bosan-bosannya diingatkan oleh salah seorang sahabat nun jauh di sana. Dan terkhusus kali ini beliau mengingatkan serta meluruskan kembali pemahaman ana akan sistem pendidikan bagi anak. Meskipun belum memiliki seorang anak yang terlahir dari rahim, alhamdulillah diberikan kesempatan oleh Allah memiliki begitu banyak anak yang terlahir dari rasa cinta. Inilah yang membuat ana begitu semangat mempelajari ilmu pendidikan bagi anak sedari dini.

Beliau menasihatkan bahwa insyaAllah sebetulnya banyak jalan menuju kebaikan. Semakin kita terjun dalam dunia pendidikan, semakin besar godaan untuk mencoba berbagai jalan. Namun kita harus ingat dengan para ulama yang telah menjalankan step-step sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah. Kadang mungkin kita tidak percaya. Tapi, ini kita bicara tentang jalan yang telah dilewati oleh para shalihin. Kita berbicara tentang keberkahan. Tentang langkah-langkah yang sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah. Karena ilmu itu tentang keberkahan. Keberkahan yang sederhananya mendatangkan kebaikan berlipat-lipat.

talaqqi-mencari-ilmu-2zsap8olzytvpp318lhj40

sumber gambar : http://www.hidayatullah.com/kajian/gaya-hidup-muslim/read/2015/08/29/77018/empat-adab-dalam-menuntut-ilmu.html

Sore itu bersama  6 orang adik, ana mencoba dengan keterbatasan ilmu untuk membahas sedikit tentang surat Al-ma’un. Diawali dengan membaca surat dan terjemahannya bersama-sama, kemudian dilanjutkan dengan membedah kandungan ayat per ayat. Tak ada permainan dalam penyampaian materi. Jika antum berada di sana, mungkin akan merasa bosan dengan cara penyampaian seperti ini yang cenderung satu arah. Mungkin ini juga yang dirasakan oleh adik-adik. Namun, ana berpikir bahwa kita sedang berpacu dengan waktu. Berpacu dengan berbagai gangguan yang akan menghalangi ilmu untuk sampai pada hati mereka. Sehingga, butuh keseriusan dalam menyampaikan, meskipun terlihat monoton dan mungkin terkesan tidak efektif berdasarakan teori pendidikan yang ditemukan oleh “barat”.

Ternyata masyaAllah,evaluasi efektif atau tidaknya dari sebuah materi akan dirasakan dari respon mereka pada akhir penyampaian. Dan ini yang terjadi. Sesaat setelah pulang, salah seorang dari mereka yang berusia 7 tahun menghentikan langkah ana dan bertanya,”Mbak aku mau nanya. Aku kan pulang sekolah jam 12 dan baru sampai di rumah jam 1,lalu bagaimana dengan shalatnya?”  MasyaAllah inlah respon keimanan mereka dari ayat …

“..Maka celakah orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya..“
Al-Ma’un (107) : 4-5

***

Sekali lagi bukan tentang apakah metode yang digunakan itu menyenangkan. Tapi tentang bagaimana metode yang kita gunakan adalah metode yang dilakukan oleh Nabi dalam mendidik para sahabat. Metode yang melahirkan para ulama besar. Metode yang melahirkan para pemimpin peradaban. Oleh karena itu, ana ingin mengajak para saudari fillah yang telah memiliki anak atau yang belum, untuk kembali mengoreksi metode pengajaran yang  diberikan pada anak-anak kita dan terus bersemangat untuk kembali belajar ilmu pendidikan sesuai dengan tuntunan Islam. Karena singa-singa Allah itu akan lahir dari rahim kita para perempuan. Mereka yang akan memimpin umat ini untuk menakhlukkan jantung kekuasan Romawi, sebagaimana yang dijanjikan oleh Nabi dalam sabdanya.

Terakhir, Saudari fillah,ada sebuah kiriman tulisan dari sahabat ana yang mungkin bisa lebih membuat antum dan antunna memahami bagaimana Islam mengajarkan kita dalam mendidik anak. Semoga bermanfaat : https://iinchurinin.wordpress.com/2016/10/30/belajar-sambil-bermain-haruskah/

Perpustakaan FK UA,
18 Shafar 1438 H

Advertisements

2 thoughts on “Perempuan, wajah Pendidikan Anak

  1. Ami pernah lihat foto proses pendidikan di sebuah tempat yang tidak mengenal istilah ‘bermain sambil belajar’ bagi murid-muridnya (ada istilahnya dalam bahasa arab, tapi ami lupa). Proses belajar dilakukan dengan serius, meski mereka masih belia. Lalu terpikir oleh ami, mungkinkah salah satu faktor berkurangnya adab sebagian mahasiswa saat ini karena sebelumnya mereka tidak diajarkan adab menuntut ilmu dengan baik?

    Jazakillah khair, za 🙂

    1. Wallahu’alam mi. Mungkin saja seperti itu 🙂 Karena kita dulu belajar ilmu baru kemudian adab. Berbeda dengan para ulama terdahulu,sebelum mempelajari ilmu,mereka diajarkan adab terlebih dahulu. Mungkin ami juga sudah pernah baca banyak kisah para ulama yang justru lebih banyak mempelajari adab ketimbang ilmu yang ingin mereka pelajari. Dan begitulah hasilnya,ilmu mereka berkah dan penghormatan mereka terhadap para guru itu betul-betul luar biasa 🙂

      Nah.. ini tugas kita mi. Kalaupun sebagian generasi sekarang sudah terlanjur terkikis adabnya tapi kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri sebagai penuntut ilmu abadi dan melahirkan generasi-generasi beradab insyaAllah di kemudian hari. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s