بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Surabaya, 8 Shafar 1438 H

Anak-anak,jika diberi ruang bagi pemikiran mereka untuk berbicara,maka masyaallah kita akan dibuat takjub  dengan melesatnya imajinasi yang bahkan lebih cepat dari apa yang kita perkirakan. Dan bahkan mereka pun akan membuat kita kocar-kacir dengan keterbatasan ilmu yang kita miliki untuk memberikan jawaban atas unpredictable questions yang dilontarkan. Seperti yang terjadi hari ini ketika kelas ana buka dengan memberi mereka kesempatan untuk bertanya. Sebuah pertanyaan yang menarik dari pengamatan terhadap fenomena yang berkembang di tengah masyarakat. ”Mbak kenapa di tv-tv selalu diceritakan bahwa malam jum’at itu identik dengan sesuatu yang mengerikan,seperti jum’at kliwon?”  Satu pertanyaan yang menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan mendunia lainnya.

Bagaimana cara kita menjawab sebuah pertanyaan dari anak-anak tentang persoalan agama tentu tidak sama ketika kita menjawab pertanyaan orang dewasa. Bagi orang dewasa insyaAllah cukup dipaparkan ayat Al-Qur’an serta hadist yang mendasari jawaban tersebut, mereka akan paham. Namun bagi anak-anak cara seperti ini belum bisa diterapkan seutuhnya sebelum aqidah mereka betul-betul tertanam kuat. Oleh karena itu, menurut ana pribadi penting rasanya setiap orang tua dan guru untuk mempelajari bagaimana memberikan jawaban pada anak-anak sehingga nantinya ketika mereka tumbuh dewasa tak ada lagi keraguan di dalam hati. Dan hal itu tidak mudah. Dibutuhkan pemahaman dan ilmu yang mumpuni. Inilah ibroh yang ana temukan kenapa Rasulullah pernah mengatakan bahwa menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim, karena ilmu itu nantinya akan kita wariskan pada generasi berikutnya. Meski ana sendiri Alhamdulillah sudah cukup sering berinteraksi dengan anak-anak dan menghadapi berbagai pertanyaan yang mereka ajukan,ternyata ana baru sadar bahwa cara yang ana gunakan dalam memberi jawaban itu salah. Mungkin mereka sudah memahami jawaban yang diberikan, namun apakah jawaban tersebut akan melahirkan sebuah keimanan?

Salah seorang adik,bernama Fairuz-kelas 2 SD bertanya,”Mbak,apa betul ada orang yang sudah meninggal kemudian hidup lagi seperti yang ada di tv?”

Jawaban ust. Iltizam :
1. Silahkan mengenalkan nama-nama Allah,di antaranya : Maha Menghidupkan, Maha Mematikan, Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tanamkan aqidah padanya
2. Silahkan dibawakan kisah-kisah ma’tsur yang berkaitan dengan ini,misal : Ash-haabul kahfi, kisah yang ada pada Al-baqarah : 259, dan lain-lain
3. Sampaikan ibrah dengan mengaitkan iman terhadap nama-nama Allah dan kisah-kisah tersebut

Untuk menumbuhkan sebuah keimanan dari jawaban yang kita berikan ternyata ada formulanya. Tanamkan aqidah-siroh/kisah- ibrah. Formula yang diberikan oleh ust. Iltizam ini sejatinya sudah sering ana dengar dari kajian ust. Budi serta juga sudah pernah ana bahas dengan mbak Tika. Namun begitulah pemahaman ana akan ilmu. Banyaknya ilmu yang telah didapatkan belum tentu membuat diri ini paham. Butuh untuk terus yang namanya belajar dan bertanya pada ahli ilmu

20160618_131907
Ramadhan 1437 : Presentasi di depan kampus FK UA

Di sini ada hal yang menarik bahwa ternayata siroh dijadikan sebagai salah satu cara untuk menjawab simpul-simpul pertanyaan. Ada apa dengan siroh?

Siroh (sejarah) merupakan salah satu cara yang begitu dahsyat untuk membangkitkan ghiroh seseorang dalam mempelajari Islam. Karena seperti yang disampaikan oleh ust. Iltizam bahwa ketika kita mempelajari siroh berarti kita tengah melihat aplikasi dari Al-qur’an dan Hadist.  Siroh juga merupakan media pembelajaran yang  mencetak generasi-generasi hebat Islam terdahulu. Mereka dibangun dari kebesaran para pendahulu yang tertulis oleh tinta sejarah. Dan menurut ana pribadi,siroh merupakan sebuah stimulator yang begitu luar biasa bagi pemikiran anak-anak. Antum bisa bayangkan, diskusi yang berawal dari pembahasan siroh seorang sahabat bernama Abdullah bin Zubair, bisa merambah hingga hukum perdukunan di dalam Islam, jihadnya perempuan ketika melahirkan, dan batasan aurat di dalam Islam. MasyaAllah semuanya dibuka oleh siroh.

Oleh sebab itu,ayo kembali kita buka lembaran sejarah dan kembali mulai mempelajarinya. Karena, Insyaallah bukan hanya bagi diri sendiri namun kebermanfaatannya akan dapat pula dirasakan bagi generasi yang akan kita bangun nanti.

 والله أعلم