بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Surabaya,18 Muharram 1438 H

Jika ilmu diletakkan di bawah frame wahyu, maka ketika mereka bertemu,
ilmu akan menjamu sang wahyu

Ana pernah mendengar perkataan dari salah seorang ustadz yang mengatakan bahwa kesalahan kita sebagai muslim/ah dalam menuntut ilmu ialah kita mempelajari ilmu dunia terlebih dahulu baru kemudian ilmu akhirat. Sehingga, afwan inilah sekarang yang terjadi,yang membuat banyak dari kita begitu mengagungkan ilmu dunia. Ilmu akhirat,Qalamullah dan hadist Rasulullah, hanya dijadikan sebagai tempelan untuk pembenaran. Bahkan, afwan yang lebih parahnya ada yang menutup lembaran ilmu akhirat yang bercahaya itu. Padahal,jika kita mau menurunkan posisi akal berada tepat di bawah kerangka wahyu, maka masyaAllah kita akan dibuat terkejut akan kebenaran akar dari semua bidang ilmu dunia itu ada pada 2 pedoman ilmu akhirat,yaitu Al-qur’an dan As-sunnah.

Seperti halnya tentang proses pembentukan manusia yang tertulis runtut dalam Al-Qur’an,bahkan ahli kebidanan mengambil beberapa bahasa Al-qur’an untuk menamai setiap pertumbuhan dan perkembangan. Tentang waktu aktifasi jantung janin di kandungan yang  dijelaskan oleh hadist Nabi. Tentang indera yang pertama kali berfungsi pada bayi baru lahir yang diterangkan Allah dalam firmanNya. Tentang bagaimana saat akan memulai proses persalinan yang dicontohkan langsung oleh perempuan yang disebut Nabi dalam deretan ahli syurga,serta masih banyak yang lainnya. Semua ini telah terangkum 1400 tahun yang lalu,sebelum ilmu pengetahuan “modern” menemukan dan mengakuinya. Oleh karena itu, antum yang mungkin kini tengah mendalami entah ilmu kesehatan, pemerintahan, pendidikan, teknik, perekonomian dan sebagainya, mulailah ilmu tersebut dari Qur’an dan Sunnah. Kenapa? Karena mungkin saja antum akan menjumpai konsep dan teori dari bidang yang diselami, seribu empat ratus tahun lebih cepat dari apa yang sedang antum baca pada buku dan jurnal dihadapan saat ini.

Yang menjadi pertanyaannya sekarang, maukah kita berendah diri untuk lebih mempercayai wahyu dari pada ilmu pengetahuan yang menggantungkan kebenaran pada akal yang sewaktu-waktu bisa berubah?

#inspirasi hari ini
2 jam pelatihan bersama dr. M. Natsir,SpOG, menyisakan sebuah pertanyaan dari beliau : Seorang ibu hamil yang dalam proses persalinan dianjurkan untuk tidur dengan posisi miring ke arah kiri (menurut teori  didukung dengan berbagai evidence based yang telah ada). Namun Nabi kita,Muhammad صلی اللہ علیہ وسلم. ,mencontohkan dan menganjurkan untuk tidur dengan posisi miring ke arah kanan (posisi inipun telah diteliti dan memiliki banyak manfaat untuk kesehatan).  Pilihannya? Anda lebih percaya yang mana?

Kesalahan  yang dilakukan oleh orang banyak, bisa menjadi sebuah Kebenaran
-dr. M. Natsir,SpOG