بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Bymaristan,sebuah kata yang mungkin terdengar asing bagi kita.Tapi, di dalam sejarah ia mencatatkan diri sebagai sebuah konsep mahal yang menjadi penyebab hadirnya rumah sakit-rumah sakit zaman ini. Bymaristan, suatu konsep tentang rumah sakit yang lahir di tengah kebesaran Peradaban Islam. Silahkan antum dan antunna membuka kembali sejarah, karena ana sendiri pun berada dalam PR besar untuk mengkajinya dan saat ini belum dalam kapasitas untuk menyampaikan lebih jauh.

Sedikit tentang Bymaristan, pertama kali ana mendengarnya dari ustadz Budi, pakar sejarah islam, dalam kajian beliau yang berjudul “Mengubah Dunia dengan Membaca Sejarah.” Masyaallah benar kata ustadz Budi bahwa ketika kita membaca sejarah kita seperti mendapatkan bongkahan emas. Sejarah akan memberikan kita petunjuk dalam menghadapi berbagai permasalah saat ini di semua bidang, termasuk kesehatan. Berikut ana tuliskan kembali potongan tulisan beliau di muslimdaily.net tentang Bymaristan

Perhatikan lebih detail konsep Bymaristan (Rumah Perawatan Pasien) di sejarah kebesaran Islam. Kalau ada pasien datang ke Bymaristan untuk berobat, maka berikut ini prosedurnya : Setiap pasien yang datang akan dicatat namanya. Diperiksa oleh kepala dokter detak jantungnya, urinenya dan berbagai gejalanya. Jika oleh dokter pemeriksa dinyatakan hanya rawat jalan, maka dibuatkan resep saja. Resep dibawa ke bagian apotek untuk mengambil obatnya. Jika dokter menyatakan harus dirawat, maka akan langsung diserahkan kepada tim perawatnya (dokter pengawas, perawat, dan pelayan kebutuhan pasien). Setiap pagi dilakukan kunjungan dokter ke semua pasien. Jika telah sembuh, pasien dipersilahkan pulang dengan diberi baju baru dan beberapa keping uang emas (DR. Ahmad Isa, Tarikh Hassan Syamsi Basya, Hakadza Kanu Yaum Kunna)

Pasien diberi baju dan uang setelah selesai pengobatan,bukan memberi.
Ini konsep Islam!

Setelah membaca konsep ini ana jadi teringat suatu peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu ketika ana masih menjalankan stase profesi (praktek klinik) di poli kandungan. Ana begitu ingat sekali ketika itu,saat keadaan sudah mulai agak sepi, seorang ibu-ibu berumur sekitar 60 atau 70 tahun datang ke poli kandungan menggunakan kursi roda ditemani oleh seorang lelaki dengan kondisi lemah dengan perut yang membesar. Qadarullah ana bersama seorang teman diminta untuk melakukan anamnesa awal terhadap ibu tersebut oleh bidan yang bertugas di poli. Masyaallah waktu itu kami berdua mendapatkan pelajaran dan teguran yang begitu luar biasa berharga . Ternyata,lelaki yang bersama ibu yang berasal dari ujung pelosok pulau Madura itu adalah seorang relawan, bukan keluarganya. Setelah kami menggali informasi dari bapak relawan tersebut mengenai sakit yang diderita oleh si ibu, karena ibu sendiri tidak paham dengan bahasa Indonesia, beliau pun kemudian menceritakan bagaimana beliau bertemu dengan ibu yang ternyata memilki kista yang sudah membesar dalam kandungannya.  Bapak relawan tersebut menuturkan bahwa beliau mendapati sang ibu di depan IGD bersama suaminya dalam kondisi menangis. Melihat keadaan tersebut, beliau pun tidak tega. Sebelum bertemu dengan beliau, ibu dan suami nya tenyata telah mencoba masuk ke IGD,namun mereka ditolak dengan alasan administrasi dan surat-menyurat yang belum lengkap.

“Mereka nggak tahu apa-apa mbak. Bahkan untuk sampai ke Surabaya ini mereka diturunkan di dekat pohon karena tidak ada uang untuk membayar bus.Ibu ini datang ke sini,karena sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang dideritanya. Mbak, di sini banyak yang bisa melihat. Tapi mereka buta. Mereka tidak melihat dengan hati yang mereka miliki. Ketika kita melihat saudara muslim kita kesusahan, apa yang seharusnya kita lakukan ? Saya memang tidak dibayar untuk melakukan ini, tapi melihat ada saudara muslim saya seperti itu, hati saya tidak bisa meninggalkan mereka . Saya hanya berharap ini bisa menjadi saksi yang akan menolong saya di akhirat kelak.”

MasyaAllah semoga kita dapat mengambil pelajaran,terkhusus ana pribadi dan kita yang diberi amanah sebagai tenaga kesehatan.IAA104667

Kita memang tidak bisa menutup mata bahwa hal yang seperti  ini masih terjadi di beberapa rumah sakit di negeri kita. Ana pribadi,’afwan bukan maksud menyindir,merendahkan atau apalah namanya, berpendapat bahwa sistem kesehatan yang hadir dengan segala pembaharuan yang ada, jujur ana katakan masih tetap menyisakan berbagai permasalahan. Memang tidak ada yang sempurna. Tapi apakah kita masih akan tetap bertahan dengan sesuatu yang padahal sebelumnya ada sebuah konsep yang jauh lebih baik dan terbukti? Ini adalah tugas besar untuk kita semua. Mungkinkah kita ulang kebesaran dunia kesehatan ini?

Pendidikan dan Kesehatan dalam sejarah Kebesaran Islam bukan lembaga profit!
-Ust. Budi Ashari

Terakhir,sepertinya kita perlu mengoreksi kembali semua ilmu yang telah kita pelajari. Jangan-jangan yang kita jalani ini ternyata pemikiran Yahudi,begitu kata ust. Budi Ashari. Dalam buku “Dirasah Lisuquth Tsalatsin Daulah islamiyyah,” sebagai renungan, DR. Abdul Halim Uwais menutup tulisan beliau dengan kalimat,”Dan Yahudi melipat akhir lembaran kita yang bercahaya.”  Wallahu a’lam.