بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

 

Paska kampus adalah pentas kehidupan yang sungguh amat berbeda. Di mana akan terpampang ragam warna. Lain halnya dengan kehidupan kampus, idealisme dan prinsip akan benar-benar diuji. Banyak sekali rayuan yang akan menggoyahkan. Jika ia gagal menggoda diawal,maka ia akan menyusup dalam proses. Hingga bahkan menikung diakhir. Karenanya betapa penting kita mengenggam erat idealisme dan prinsip yang telah dibangun sejak awal, sejak bangku perkuliahan dalam kehidupan.

Salah seorang saudara fillah pernah menuliskan “ Idealisme merupakan makanan jiwa-jiwa yang merdeka, saringan untuk hati yang masih hijau.”

Dan untuk hati yang masih hijau, berhati-hatilah ketika menjemput rizqi paska kampus. Dalam tulisan beliau “Rizqi Kita,Soal Rasa” Ust. Salim pun mengingatkan : Rizqi adalah ketetapan. Cara menjemputnya adalah ujian. Ujian yang menentukan rasa kehidupan. Di lapis-lapis keberkahan dalam setetes rizqi, ada perbincangan soal rasa. Sebab ialah yang paling terindra dalam hayat kita di dunia.

Rangkaian kata yang semakna pun berbisik lembut dari seorang sahabat. Rizqi kita memang “benar-benar” sudah tercatat di lauh mahfudz. Tinggal caranya mau bagaimana diambilnya. Hasan Al-Bashri pernah berkata,”Aku tidak pernah khawatir dengan rizqi ku. Karena dia tak akan pernah tertukar.” Tentang rizqi tinggal bagaimana menjemputnya, dengan cara apa. Itu yang akan membedakan. Rasanya.. Berkahnya..

Dalam hidup ini bukanlah kebahagian yang kita cari,namun keberkahan. Keberkahan dalam setiap prosesnya, keberkahan dalam memetik hasilnya. Sudahkah keberkahan hadir dalam setiap rizqi yang kita peroleh dan perjuangkan?

***

Catatan ini sengaja dituliskan sebagai refleksi bagi diri ana pribadi terhadap beberapa hal yang baru saja terjadi. Semoga antum dan antunna juga dapat mengambil hikmahnya

Bukittinggi, 27 Dzulqo’dah  1437 H