بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Seperti yang pernah dipaparkan oleh ustadz Budi ketika kita berbicara tentang pemuda,berarti kita tengah berbicara tentang sebuah kekuatan di antara dua kelemahan. Berbicara tentang pemuda, berarti memperbincangkan suatu transisi kehidupan yang di dalam Al-Qur’an selalu mendapatkan sanjungan positif. Begitulah Islam memotret pemuda.

Tanpa kita sadari bahwa  setiap langkah kehidupan yang kita alami memang telah sengaja ditakdirkan oleh Allah dan terkoneksi satu dengan yang lainnya . Baru saja rasanya ana menyimak kajian al-ustadz,sepersekian waktu ana pun merasakan visualisasi dari apa yang ana simak. Dua sore yang membuat senyuman merekah.

islamicyouth-bangkitlah-pemuda-islam-2-l

Hampir tiga tahun lamanya ana mengenal jiwa-jiwa yang kata para ulama masih sedikit sekali menorehkan dosa,anak-anak. Beberapa di antara mereka ada yang terus ana ikuti perkembangannya, terlebih mereka yang begitu besar menempati ruang di hati. Tak terasa kini mereka telah tumbuh menjadi seorang remaja, menjadi seorang pemuda, yang tentunya pemikiran serta sikap mereka  telah naik satu tingkat.

Seorang gadis yang subhanallah dari awal ana bisa melihat bahwa di dalam dirinya ada sesuatu yang berbeda. Namanya Ayu-antum bisa membaca sedikit tentang ayu pada tulisan ana sebelum-sebelumnya.  Ayu,adik yang sangat cerdas, memiliki ketajaman rasa yang luar biasa, dan yang paling menonjol diantara kelebihan-kelebihan yang dimiiliki, dia memiliki ghiroh yang sama seperti yang ana miliki. Pada bulan Ramadhan yang lalu,ana masih begitu ingat ketika di Al-kautsar, kami terhanyut dalam perbincangan tentang ke mana Ayu dan teman-teman akan melanjutkan pendidikan. Dan masih jelas sekali Ayu selalu mengatakan,”Ayu ingin sekolah di SMP Negeri mbak, di SMP favorit.” Singkat cerita,langkah Ayu untuk memasuki SMP favorit yang diidamkan qadarullah begitu terbuka. Capaian nilai akhir Ayu yang Alhamdulillah memuaskan,menjadi kabar terakhir yang ana dengar dari bibirnya.

Sekembalinya dari kampung halaman yang berarti kembali lagi ke TPQ, qadarullah syawal tahun ini begitu berbeda. Terang saja beberapa jiwa yang sedari dulu tak pernah absen dari pandangan mata, kini jejaknya pun tak meninggalkan bekas. Beberapa hari ana terus bertanya-tanya tentang keberadaan mereka ,hingga terdengar sebuah kabar yang membuat ana sedikit terkejut. “Ayu sekarang mondok di Bangil,mbak” ucap Yuniar,sahabatnya Ayu. Masyaallah, ternyata adik yang satu ini telah mengubah pilihan langkah hidupnya.

Sepekan berlalu,sepertinya ada rindu yang menelusup masuk dan menginginkan keberadaan Ayu kembali di TPQ. Hingga suatu sore di pinggiran jalan qadarullah, “Assalamu’alaykum mbak Riza.” Kembali suara itu menggema,suara yang membuat berjuta kenangan bersamanya kembali hadir. Di pinggiran jalan kami melepas rindu serta berbagi  cerita. Dan tentu dari perbincangan itu,ana begitu menunggu-nunggu  alasan yang membuat Ayu pada akhirnya memilih untuk menimba ilmu di pondok pesantren. Sederhana,”Ayu takut terpengaruh dengan pergaulan yang tidak baik,mbak,”begitu jawabnya. MasyaAllah,gadis yang baru saja lulus dari pendidikan dasar sudah bisa berpikir sejauh itu. Belum lagi ketika ia mengutaran beberapa pernyataan yang hampir-hampir saja membuat air mata bahagia ini bergulir.

 “Kata ustadzah, jika kita sekolah di sekolah umum, maka yang kita ketahui hanya akan sekedar tahu bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir kita. Tapi di sini Ayu bisa mengenal kehidupan Nabi Muhammad lebih mbak.”

“Ayu,gimana di pesantren, makannya enak?”
“Ya… Seperti pesantren pada umumnya mbak. Tapi, bagaimanapun kita harus bersyukur kan mbak atas rizky yang diberikan oleh Allah?”

Pertemuan singkat itu alhamdulillah memberikan ketenangan yang begitu luar biasa pada diri ana,karena InsyaAllah telah ada yang akan meneruskan estafet perjuangan dakwah ini. Tidak hanya satu orang bahkan lebih. Dan cikal bakal pejuang itu juga ana temukan pada sosok Zaky. Antum juga bisa membaca sedikit tentang Zaky pada tulisan ana “Beginikah caraku membeli senyumanmu,Dik?”

Satu tahun berlalu, Zaky tak pernah lagi hadir di TPQ. Terakhir kali seingat ana, kita bertemu pada “peristiwa waktu itu”. Setelah itu, tak pernah lagi dirinya tampak di Al-kautsar. Mungkin saja kesibukannya dalam mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir sekolah menjadi penghalang untuk hadir di TPQ. Dan sore itu, qadarullah lengkap dengan peci dan sarungnya ia tersenyum menghampiri ana.

“Zaky mau ngaji lagi?”
“Iya mbak, tapi masih nunggu teman.”
“Oh iya,kalau gitu mbak Riza tunggu di Al-kautsar ya.”

Kita memang tidak akan pernah tahu bagaimana cara Allah menggerakkan hati seseorang untuk menjemput hidayah mendekat padaNya. Termasuk bagaimana Allah menyentuh hati Zaky yang ana kenal betul bagaimana dirinya sebelum ini. Itulah keterbatasan kita sebagai manusia yang tak mampu menggerakkan kecuali dengan pertolongan Allah. Cerita demi cerita, di akhir pembelajaran sebelum pulang, ana pun meminta Zaky untuk tetap berada di kelas. Setelah teman-teman tak lagi berada di kelas,ana  meminta Zaky untuk duduk tepat di hadapan. Dan tiba-tiba ia pun langsung membuka pembicaraan dengan kalimat yang seakan ia telah dapat membaca pikiran ana,”Sekarang shalatnya sudah 5 waktu mbak,ndak pernah tinggal lagi.” MasyaAllah,ana belum bertanya apa-apa tapi pernyataan itu mengalir dengan cepat dari kedua bibirnya. Ana jadi teringat, mungkin kejadian terakhir kali itu masih membekas diingatannya. Ya Allah…

“Kenapa Ky tiba-tiba pengin ngaji lagi?”
“Aku pengin masuk surga mbak.”

Jawaban ini mungkin terdengar sederhana bagi antum dan antunna. Tapi bagi ana jawaban ini seperti sebuah azzam yang begitu kuat. Ada kekuatan yang luar biasa dalam setiap katanya. Karena ana tahu betul bagaimana Zaky sebelumnya dan kini sungguh jauh berbeda dari dia yang dulu pernah ada. Semoga Allah selalu menjaga nya untuk terus istiqomah. Amin..

Pada akhirnya setiap ruh  akan kembali memilih untuk menjadi fitrah

gambar hadits 34

Jika sampai hari ini kita masih meragukan kekuatan pemuda dalam kebangkitan umat,maka kita harus banyak-banyak belajar memaknai isi dari Al-Qur’an yang membahas tentang mereka. Hari ini kita melihat para pemuda penuh dengan rapor merah,kebobrokan dalam akhlak.Tentu bukan karena Al-Qur’an dan sunnah yang keliru berkata tentang mereka. Namun karena kini pemuda telah sengaja dijauhkan dari tuntunan Al-Qur’an dan sunnah,mereka dibuat lupa dengan syari’at,sehingga tidak paham bahwa mereka adalah pusat kekuatan Islam. Oleh karenanya,ana ingin mengajak antum dan antunna semua untuk kembali belajar kepada para pemuda yang pada zamannya berhasil menghidupkan pelita Islam di setiap sudut bumi. Para pemuda yang memberikan ketenangan bagi setiap umat dengan cahaya Islam. Bangkitlah wahai pemuda Islam!

***
diselesaikan pada 8 Dzulqo’dah 1437 H