بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

“Jangan sedih,kalau nggak jadi dokter.”

Ibu Meilinda Agus,beliau masih saja ingat tentang yang satu ini. Entah untuk alasan apa, dulu kata-kata ini begitu berpengaruh. Sampai-sampai membuat ana berurai air mata di hadapan beliau dan teman-teman yang berada di ruangan kala itu. Seakan kembali teringat akan penolakan hati yang masih bergejolak. Bahkan ketika nama ini hampir dinyatakan lulus menjadi seorang bidan,ana pun terus bertanya,“Kenapa pada akhirnya harus menjadi bidan?”

Tiga tahun berlalu, apa yang beliau utaran, terucap kembali pada pertemuan itu. Maka kali ini,bukan air mata sebagai balasannya namun sebuah senyuman. Yah,pergeseran waktu mengajarkan ana memahami dan menemukan cinta terhadap profesi ini. Alhamdulillah…

bayi-lahir-131205c

Setelah insyaAllah hampir menyelesaikan dua kali pendidikan bidan, ana baru menyadari bahwa ternyata selama 6 tahun ini Allah tengah mengajarkan ana suatu pembelajaran yang amat berharga. Tiga tahun pertama ana ditempa untuk bersabar menerima pilihan takdir. Dan tiga tahun berikutnya, ana bersyukur telah ditakdirikan pada pilihan ini.

Menjadi seorang bidan bukanlah pilihan. Dan mungkin banyak pula dari teman-teman dan adik adik juga begitu adanya. Banyak sekali yang menjadikan bidan sebagai pelarian. Termasuk diri ana sendiri kala itu. Akan tetapi kini dengan kesadarahan sepenuh jiwa ana ingin mengajak teman-teman dan adik-adik yang telah memilih atau terpaksa memilih pendidikan bidan untuk sama-sama mensyukuri dan menyadari betapa beruntungnya kita didelegasikan amanah menjadi seorang bidan. Ini memang bukan pilihan kita,tapi ini adalah pilihan Allah. Pilihan terbaik dari yang terbaik

Satu-satunya profesi yang tidak memberikan celah bagi lelaki untuk memasukinya adalah bidan. Antunna paham kenapa demikian?

Bidan banyak mengajarkan tentang kepekaan rasa. Seorang bidan akan mudah sekali menitihkan air mata bahagia dan duka. Teman-teman yang telah menjadi bidan mungkin sering mengalami hal ini. Mereka bukan dari keluarga kita,bukanlah sanak saudara dekat kita,namun ketika bulir air mata mereka jatuh karena tangisan kehidupan pertama yang terindera,hati kita pun ikut bergetar,’kan? Dan seorang bidan juga akan mudah sekali menitihkan air mata menghadapi takdir yang tak bisa ditunda. Akan merasa begitu tak berdaya ketika melihat kematian dihadapan mata. Itulah bidan, seperti itulah perempuan,air mata bukanlah tanda kelemahan namun di sana ada kekuatan untuk kehidupan yang kadang sulit diterjemahkan.

Ketika hati semakin mudah untuk merasa  apa yang dirasakan oleh orang lain, semakin lembut hati tersebut. Dan kala hati melembut,maka insyaallah semakin mudah hidayah untuk menghampiri. Jadi, poin pertama berdasarkan analisa ana yang masih terbatas, menjadi bidan adalah salah satu sarana untuk menjemput hidayah.

Selanjutnya, bidan mengajarkan kita meneladani salah satu sosok ummahatul mu’minin,‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Jika teman-teman pernah membaca siroh bunda ‘Aisyah,tentunya kita akan dibuat takjub oleh kehidupan dan akhlak beliau. MasyaAllah,seorang istri yang luar bisa,periwayat hadist terbanyak dikalangan perempuan,ahli ilmu nasab,memiliki tata bahasa yang begitu indah,dan  satu lagi yang mana hal ini menjadi titik awal ana begitu jatuh hati dengan profesi bidan ialah karena tenyata  ibunda kita juga ahli dalam pengobatan.

Sebagai perempuan di zaman sekarang satu-satunya profesi di mana insyaAllah di sana tidak banyak terjadi ikhtilat dengan lawan jenis yang akan mengundang fitnah ialah bidan. Memang seorang perempuan memiliki fitrah untuk berada di rumahnya. Namun ada porsi di mana kehadirannya juga sangat dibutuhkan. Apalagi yang berhubungan dengan “keperempuanan”. Sehingga di sinilah bidan hadir mengisi posisi tersebut.  Jadi,poin kedua, lagi-lagi dengan keterbatasan ilmu yang ana miliki menyimpulkan bahwa menjadi bidan adalah salah satu cara kita mencontoh kehidupan ummahatul mu’minin. Wallahu’alam

Menjadi bidan sejatinya bukanlah sebuah profesi,tetapi panggilan jiwa. Namun apakah semua bidan akan merasa terpanggil?

Semoga yang sedikit ini bisa memotivasi teman-teman dan adik-adik bidan semua agar jangan berkecil hati. Berbahagialah menjadi bidan!