بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

14 Ramadhan 1437 H

… jika dan hanya jika,ini Ramadhan terakhir bersama kalian

Bukan tanpa alasan kenapa Rasulullah memilih Usamah bin Zaid sebagai pemegang panji peperangan. Usamah yang belum genap berusia 20 tahun,langsung ditunjuk oleh sang Nabi untuk menjadi panglima perang di mana di sana terdapat para sahabat mulia, Abu Bakar dan Umar, sebagai pasukannya. Usamah bin Zaid,panglima termuda Rasulullah yang berhasil menuntaskan sebuah tugas di perbatasan negeri Syam. Pemuda,petunjuk Nabi untuk membangun peradaban

Sungguh, sesuatu yang sangat sederhana namun begitu bermakna. Berawal dari diskusi singkat  yang tak disengaja, Alhamdulillah Allah permudah mewujudkan. Saudara fillah inilah kisah Ramadhan ana bersama  9 remaja yang masyaAllah luar biasa. Ini tentang ghiroh ,tentang kepekaan rasa.

***

Siang itu tepat setelah kami mengadakan kegiatan “2 hari bersama Rasulullah”,insyaAllah keseruan kegiatan ini akan ana ikat menjadi tulisan nantinya, beberapa remaja yang ketika itu menjadi penghuni terakhir di TPQ, mendekat menghampiri

“Mbak Riza,gimana nanti kegiatan berbagi kita? Jadi ya mbak?”
“Iya Insyaallah. Kira-kira rencananya nanti mau gimana?”
“Jadi,begini mbak…”

Ceritanya ana telah berjanji dengan adik-adik,sebutlah mereka remaja, untuk mengadakan sebuah kegiatan. Awalnya ana mengira hanya beberapa anak yang ingin terlibat dalam kegiatan ini,yang mana akan didominasi oleh  adik-adik yang perempuan. Tapi masyaAllah,ketika informasi itu mengudara, 7 remajapun (laki dan perempuan) sudah siap duduk melingkar dihadapan ana untuk mendiskusikan bagaimana teknis kegiatan. Beberapa argument silih berganti mewarnai forum yang untuk kesekian kali nya membuat ana takjub dengan semangat para pemuda ini.

“Mbak, kita bikin sego goreng (nasi goreng) sama agar-agar aja,ya?”
“Boleh,yang lain gimana,setuju nggak?”
“Iya,ndak papa. Kira-kira mau bikin berapa?”
“30 aja gimana?”
“Kebanyakan, 20 aja!”
“Loh,tapi ini tempat buat agar-agarnya ada 30!”
“Mending bikin seadanya aja sego gorengnya dapat berapa. Agar-agarnya sih ndak papa kalau bikin 30.”
“Nah,mbak Riza setuju dengan pendapat Rangga,seadanya aja. Gimana?”😀

Ini sedikit cuplikan diskusi mereka. Tentu diskusi yang sesungguhnya lebih alot dengan tingkatan volume masing-masing pemilik suaranya yang luar biasa,hehe…

Setelah beberapa kesepakatan terbentuk,kami pun bergegas bergerak sesuai job desc masing-masing mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 WIB. Rangga bersama Reno dan Wafa bertugas untuk membeli beberapa bahan yang dibutuhkan. Sedangkan yang lainnya : Arjun,Ayu,Bella, dan Yuniar langsung meluncur menuju rumah Arjun untuk memulai apa yang bisa dimulai terlebih dahulu. Lalu Ana? Menyimpan  cadangan energi,haha…

Ba’da Ashar
Setelah kesempurnaan shalat ditutup dengan salam, tiba-tiba ada suara yang terindera

“Mbak,anak-anak sekarang sudah di Al-kautsar semua. Tapi ini mbak ada masalah. Kita ndak tau mau masak di mana,karena…..”
“Yaudah,masak di kontrakan mbak Riza aja. Tapi,anak laki tunggu di Al-kautsar aja ya.”

Di kontrakan
Ada satu hal yang menarik ketika kami mempersiapkan agar-agar. Dan ana begitu belajar dari mereka tentang yang dua ini. Tentang optimisme dan tawakal. Pukul 15.45 WIB, agar-agar baru saja didinginkan. Ana memprediksi, sepertinya agar-agar tidak akan terbentuk tepat pada waktu yang telah ditentukan. Karena berdasarkan pengalaman,agar-agar akan berubah wujud dari cair menjadi padat lebih kurang 1,5-2 jam. Sedangkan sisa waktu yang kami miliki hanya 30 menit lagi. Beberapa kali ana bergantian dengan Yuniar serta Bella melihat perkembangan si agar. Khawatir kalau-kalau masih tetap mencair. Dan rasa itupun perlahan membaluti seluruh wajah kami,hingga ana berucap

“Gimana ya kalau agar-agar kita ndak jadi?”
“Mbak,jangan bilang seperti itu,insyaAllah jadi mbak,bismillah…” ucap Bella
“Iya,kan masih ada beberapa menit lagi mbak. Biasanya cepat kok jadinya.” tambah Yuniar
“Oh gitu ya? Iya iya,semoga ya..” sambil nyengir karena malu pada mereka yang begitu tawakal dan optimis

Ketawakalan mereka pun berbuah manis. Alhamdulillah agar-agar nya terbentuk. Berikut foto ketika kami mempersiapkan si agar yang  dikemas. Oh iya, yang laki pada akhirnya pun datang ke kontrakan ana. Kasihan juga karena sudah berada di depan kontrakan,disuruh balik lagi ke Al-kautsar.

20160619_163021Waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB. Kami (Ana,Bella,Yuniar, Arjun, Rangga, Reno,dan Wafa)pun kemudian meluncur menuju Al-kautsar untuk bertemu kelompok kedua,kelompok sego goreng, yang terdiri dari Ayu,Diah dan Bella dua.

Tak henti terucap syukur untuk setiap kebahagian,untuk setiap kenikmatan, dan untuk setiap kemudahan.

Selanjutnya ana akan membiarkan foto-foto ini berbicara tentang indahnya ketika hati ingin berbagi

Alhamdulillah adzan maghrib berkumandang di langit Surabaya. Dan perjalanan panjang kamipun berakhir di Mesjid Nuruzzaman kampus B Unair.

Adik-adikku,Mbak Riza sungguh berharap,kelak kalian semua akan menjadi penerus estafet perjuangan dakwah Islam. Mengapa? Karena kalian adalah bagian dari mutiara-mutiara yang dimiliki oleh umat ini

0Rasanya masih banyak hal yang missed untuk ana tuliskan. Terlebih, rasa cinta yang tak mampu dibendung oleh kata. Namun semoga yang sedikit  ini bisa menjadi inspirasi bagi sahabat semua. Terakhir dialog penutup dari Wafa dan Arjun

“Mbak besok kita buka puasa di sini lagi ya?”
“Kenapa fa?”
“Enak mbak ada nasinya. Biasanya ta’jil cuma dapat gorengan.”
“Iya mbak,enak di sini. Aku loh heran,kok bisa habis dua bungkus nasi. Biasanya ndak pernah mbak.”
Hahaha…

Walau bagaimanapun,ana harus sadar bahwa mereka tetaplah anak-anak. Anak-anak yang sedang bermetamerfosa menjadi para pemuda penghias taman-taman syurga. Amin… InsyaAllah

***

Jadilah pintu bagi cahaya. Bila tak mampu, jadilah jendela. Dan ambillah peran dalam setiap kebaikan.
Syaikh Jam’an al Shabib, Imam dan Khatib di Kementerian Wakaf Kuwait
@twitulama

ditulis dan diselesaikan pada 23 Ramadhan 1437 H
00.53 a.m.