بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Ahad, 7 Ramadhan 1437H

Memang benar,ketika kedua mata masih belum terbuka, semuanya masih terhijab. Apa yang akan kita lakukan, apa yang akan terjadi, dan apa yang akan menjadi takdir kita pada hari ini, semuanya adalah rahasia illahi. Seperti takdir yang tak ada alasan untuk menolaknya, seperti itulah yang ana rasakan hingga saat ini di pagi ahad. Alhamdulillah nikmat waktu luang sehari sebelum praktek manajeman di rumah sakit bagai anugerah yang sangat luar biasa. Karena tentu akan ada banyak hal yang dapat dilakukan. Sedari pagi yang memang direncanakan agar tak berakhir dengan penyesalan yang sering berulang,ana berazzam menyibukkan diri di kampus. Tujuannya hanya satu, yaitu menikmati fasilitas wifi di mushgrab (mushalla kampus A) dengan semilir angin yang terasa bagai di syurga.

Karena gerak langkah,takdir jodoh
Tepat pukul 9 pagi ana kembali menapaki jalanan yang setiap jengkalnya menjadi saksi kegelisahan ,kebahagian,  dan harapan setiap jiwa. Yang setiap hentakan langkahnya mengirimkan irama tersendiri dari si pemilik hati. Di pagi ahad,memang tidak begitu banyak mahasiswa yang melakukan aktifitas di kampus, dikarenakan agenda perkuliahan yang sengaja libur. Hal ini mengacu pada peraturan pemerintah yang menetapkan Sabtu dan Ahad adalah hari libur kerja. Sedikit berbicara tentang penetapan hari libur ini,kadang ana bertanya-tanya. Afwan,bukan maksud untuk mengkritisi atau mencela aturan yang sedari dulu telah ada. Namun ana hanya ingin menjadikan ini sebagai sebuah renungan untuk kita bersama,umat Islam. Kita hidup di negeri yang mayoritas didiami oleh Muslim,meskipun kini presentasenya kian menurun,tetapi jika dicermati ada beberapa hal yang  terlihat mengekang gerak Muslimin. Contoh sederhana, tentang hari libur kerja. Pernahkah terpikirkan oleh antum dan antunna, dari 7 deretan hari dalam sepekan,kenapa yang terpilih adalah hari Sabtu dan Ahad,bukan Jum’at? Padahal InsyaAllah kita sebagai muslim sudah sangat paham,bagaimana keutamaan hari Jum’at, ‘kan? Begitu banyak sekali sabda Nabi yang memaparkan secara rinci tentang istimewanya hari tersebut di antara hari-hari yang lain. Semoga saja, suatu hari nanti kita doakan pemerintah kita bisa menggeser hari libur kerja menjadi hari Jum’at sehingga setiap muslim betul-betul bisa merasakan betapa spesial dan berharganya Jum’at Mubarak. Dan semoga penerimaan gaji karyawan pun nantinya ditetapkan setiap awal bulan Hijriyah sehingga setiap muslim bisa tahu dan hafal penanggalan Islam. Amin.. Malu dong mengaku muslim,tapi tidak tahu tanggal berapa hari ini dalam Islam?  Bukan hanya sekedar penanggalan.  Tapi ini identitas! Dan sekali lagi,kenapa hari Sabtu dan Ahad yang diliburkan? Tafadhal dianalisa🙂

pena-kopi

Kembali lagi pada perjalanan menuju kampus. Sebuah takdir jodoh yang datang begitu tiba-tiba. Kini ana berada di sebuah ruangan yang bagi teman-teman FK, ruangan ini tentu tidak asing lagi, propadeuse. Di dalam ruang tersebut, beberapa orang terlihat memenuhi shaf terdepan. Tidak banyak memang,terbukti dengan daftar hadir yang bisa dihitung dengan jemari. Meskipun demikian,langkah kaki tetap ana tuntun hingga berada di tengah ruang. Sejurus kemudian seorang lelaki paruh baya berkacamata melempar pandangan tepat pada posisi ana berdiri. Beberapa detik berlalu,ia pun melanjutkan pemaparannya

“Andaikan saya tidak punya murid, saya akan mengajar dunia dengan pena. Begitulah yang pernah diucapkan KH Imam Zarkasy pendiri pesantren Gontor. Ada yang pernah tahu tentang Gontor?”

Sedikit lead dari pembicara yang baru ana ketahui ternyata beliau adalah seorang alumnus UA yang sekarang menjadi Dosen UMM,aktifis Pelajar Islam Indonesia diakhir tahun 1970-an,penulis buku “Warnai Dunia dengan Menulis”, beliau juga penulis di surat kabar Jawa Pos,dan segudang aktifitas lainnya yang subhanallah luar biasa, Bapak M. Anwar Djaelani. Sebuah awalan yang membuat ana memutuskan secara cepat,ini adalah forum yang tidak bisa ana tinggalkan dan harus berada di sini,menjemput ilmunya hingga tuntas. Qadarullah,suatu gerak langkah yang mengantarkan pada workshop kepenulisan yang betul-betul diisi oleh seorang pakar dibidangnya. Bisa saja ketika itu ana meneruskan perjalanan menuju mushgrab tanpa harus bertanya pada bagian pendaftaran. Bisa saja ketika itu ana tidak memilih rute perjalanan yang melewati ruangan tersebut menuju mushgrab,karena masih banyak rute yang lain. Dan bisa saja ana tidak memilih untuk berada di sana. Namun semua yang terjadi, Allah lah yang menggerakkan, Allah lah yang menuntun, dan Allah lah yang menetapkan ana untuk bertemu dengan cinta lama ini. Menulis!

MasyaAllah,begitu Allah mengetahui apa yang dibutuhkan hambanya. Jikalau boleh jujur,akhir-akhir ini keinginan ana untuk menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan memang agak menurun. Ada dua alasan,karena malas dan karena sering mengulur waktu mencari mood yang tepat. Tapi ternyata,Allah tidak menginginkan ana untuk berlama-lama dalam pusaran hitam itu. Allah hadirkan workshop kepenulisan, Allah berikan ana waktu luang, Allah perjalankan ana hingga ke kampus, dan Allah takdirkan kami berjodoh. Jika kita mau merenungi, maka sungguh kita akan benar-benar merasakan begitu besarnya kendali Allah dalam hidup kita.

Baiklah, berikut ana tuliskan beberapa ilmu yang didapatkan,yang  semoga bisa menginspirasi antum dan antunna

Niat dan Pembiasaan. Kita perlu membiasakan diri untuk terus menulis dan itu harus didasari pada sebuah niat yang benar. Tatalah niat kita lebih dahulu. Apa motivasi kita menulis? Demi idealisme? Misalnya, apakah untuk menjadikannya sebagai media dakwah? Turut mencerdaskan bangsa? Untuk memengaruhi opini publik? Ataukah, sekedar untuk meraih popularitas? Atau juga, sebagai sarana mencari uang? Tentu saja, pilihan motivasi menulis itu akan berbanding lurus dengan “daya juang” kita dalam (berlatih) menulis. Jika untuk tujuan dakwah, maka itulah sebaik-baik niat.

Ada kutipan menarik yang juga sempat ana catat. Kira-kira redaksinya seperti ini : Menulis tidak ada artinya tanpa membaca. Karena menulis dan membaca seperti dua sisi mata uang. Dan tulisan yang bagus hanya akan lahir dari Pembaca yang Baik!

Dari kutipan di atas ternyata menulis tidak hanya berdiri sendiri. Ia memiliki sahabat yang tak terpisahkan, membaca. Nah,lagi-lagi sebagai muslim perintah untuk membaca ini pun, sudah beribu tahun yang lalu diwajibkan bagi kita semua.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang maha mulia. Yang mengajarkan (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Al-alaq (96): 1-5

Jadi, siapapun kita, apapun profesi kita mulailah untuk banyak-banyak membaca dan menulis. Tidak harus membaca buku, tidak harus menulis buku. Bisa membaca artikel, menulis artikel, atau apapun yang bisa membuat kita termotivasi bergerak melakukan perubahan bagi diri dan umat. Ingat,membaca dan menulis adalah kata kerja! Bukan kata angan-angan yang tentu tidak terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Terakhir,lagi-lagi mengutip tulisan beliau, Bapak Anwar Djaelani,”Ayo, Mulai! Sekarang,tak perlu kita tunda-tunda lagi. Untuk bisa menulis, tak ada kiat yang paling manjur selain apa yang dikenal sebagai ‘Tiga M’: Mulai, mulai, dan mulailah!”

***

Karena gerak langkah,takdir jodoh
Betapa sempitnya dunia ini. Qadarullah ana bisa mengenal orang yang sama yang bertahun lebih dulu, ia telah mengenalnya. Ia, seseorang yang juga menjadi salah satu inspirasi ana dalam menulis.

Diselesaikan 9 Ramadhan 1437H