بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Beberapa kali lembaran itu dilihatnya. Dibolak-balik lagi, dilihat lagi

“Bu Riza,ini aku masih banyak ya bu! Nanti kalau Bu Riza udah nikah, apa ibu akan tetap ngajar?”

“Hmm…Insyaallah,semoga saja ya mbak.”

Tak terasa perputaran lingkar waktu melesat dengan cepat.
Merekam setiap jejak langkah insan yang merindukan wanginya embun syurga.

Dua tahun sudah ana membersamai keempat jiwa mungil ini. Pertemuan yang tentunya terasa begitu singkat untuk berjuta kejutan yang hadir. Banyak sekali lukisan cerita yang telah kami warnai bersama. Kadang perpaduan warnanya begitu cerah,secerah senyuman mentari yang mengintip di antara pepohonan. Kadang begitu pekat, seakan cahaya tak dizinkan masuk memerankan pelita. Kadang  ia menggelegar, menggetarkan setiap sudut bumi. Dan terkadangpun goresan itu terlihat lembut memalu bersembunyi ditumpukan awan seperti pelangi. Itulah cerita!

Alhamdulillah,mbak Nesa yang memang subhanallah dianugerahkan kecerdasan yang luar biasa,kini ia telah bisa membaca Al-qur’an dengan baik. Mbak Ija pun tidak mau kalah. Ia menguntit sang kakak di posis iqra’ 5 yang akan segera naik ke tingkat selanjutnya. Mas zaky? Hmm… Dari yang dulunya sering alpa,iqro’ 2 pun mulai bersahabat baik dengannya. Dan terakhir yang sangat mengejutkan,mas Dana. Dengan bantuan bunda kita pun bersama-sama merangkak dan kadang terhenti,tapi Alhamdulillah ½ iqro’ 1 hampir diraihnya.

sajahallah

Pertanyaan polos mbak Nesa kala itu membuat ana berpikir mendalam tentang akhir cerita ini. Ana menyadari,tak selamanya diri ini bisa meraih jiwa mereka. Adakalanya satu waktu denyutan yang selama ini menjadi ghiroh dalam hidup ana harus berhenti atau terpaksa berhenti.

Tugas pendidikan profesi tak lama lagi akan segera mencapai akhir. Ketika semuanya selesai,maka akan ada dua pilihan : Di sini atau kembali pulang. Dua hal yang sempat bermalam menyita pikiran ana.

Kembali pulang merupakan pertanda akan terputus semua yang telah ada : TPQ,mbak Nesa,mbak Ija, mas Zaky,mas Dana, dan mbak Keisha. Namun tetap di sini,berarti menutup azzam untuk membangun belahan bumi Allah tempat ana dilahirkan.

Entahlah,semuanya masih tanda tanya
Entah di sini,atau di sana,
atau bersama catatan takdir yang insyaallah segera tersingkap