بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Ada maupun tidak ada kita,dakwah akan terus berjalan
-Mbak Tika

Hampir 3 bulan ba’da idul fitri, sekembalinya ke Surabaya untuk menyelesaikan profesi, ana memutuskan untuk berhenti mengajar di TPQ. Rencana ini sudah jauh-jauh hari ana pikirkan. Banyak hal yang menjadi pertimbangan. Tentang kesibukan yang nantinya akan hadir serta harapan ana agar tidak keteteran dalam profesi ini. Alhasil, bismillah tepat pada bulan Ramadhan yang lalu,sehari sebelum kepulangan ke Bukittinggi, ana izin mengundurkan diri pada ketua pengurus,teman-teman pengajar,serta beberapa orang adik-adik. Memang ketika itu ada sedikit rasa yang agak mengganjal dikarenakan kondisi TPQ yang kekurangan guru. Tapi bi idznillah…

***


Di sela kegiatan profesi,  Alhamdulillah walaupun ana tidak mengajar lagi di TPQ, tapi rasanya keterikatan itu masih ada. Kadang sempat sesekali berkunjung ke tempat ibu nya Anin (ibu yang berjualan dekat TPQ),kadang bertemu dengan orang tua adik-adik, entah itu di jalan atau di dekat rumah. Dan dari sana informasi tentang TPQ selalu mengalir menghampiri ana. Seakan  seperti ruh yang masih melekat di dalam tubuh yang enggan berlepas hingga ajal menjemput.

“Mbak kapan bisa ngajar lagi di TPQ?” Beberapa kali pesan singkat ini hadir, dan berkali juga ana hanya bisa membalasnya dengan kata maaf. Hingga pada pesan yang terakhir setelah tak ada lagi pesan lainnya, ana berpikir, apa ana harus kembali lagi ke TPQ? Mulailah sejak saat itu, pemikiran tentang TPQ kembali memenuhi satu ruang dalam pikran ana. Dan bahkan terkadang terbawa ke alam bawah sadar. Ana sering bermimpi tentang adik-adik dan tiba-tiba saja hati ini serasa ingin menangis. Allahu akbar..

Suatu waktu, ana berjumpa dengan Ayu,salah seorang pengajar TPQ, yang juga bekerja di salah satu tempat yang sering ana kunjungi. Seperti biasanya, setiap kali bertemu, ana menanyakan bagaimana perkembangan TPQ pada Ayu.

“Alhamdulillah mbak,sekarang sudah ada guru baru 5 orang, temannya mbak Septi. Katanya juga kenal dengan mbak Riza.”

Masyaallah. Benar, akan ada penolong agama Allah, dan mereka insyaAllah pasti akan muncul. Dulu ana sempat berpikir ketika memutuskan untuk berhenti, siapa lagi nanti yang akan mengajari adik-adik? Alhamdulillah, Allah pun memberikan jawaban atas kebimbangan dan ketakutan itu. Tidak hanya 1 atau 2. Allah kirim 5 sekaligus!

jalan-dakwah

Beberapa pekan berlalu untuk profesi, kini ana akan memasuki stase yang teman-teman menyebutnya “stase syurga”. Kenapa disebut begitu, mungkin saja pada stase ini tidak begitu berat ya. Setiap harinya ana mendapatkan jadwal pagi dan ibu-ibu yang bertugas di sana masyaAllah baiknya. Benar-benar oase di tengah gurun pasir ke profesian🙂 Menjelang akhir perpindahan ke stase poli Anak tersebut, keinginan ana untuk mengajar di TPQ kembali hadir. Dan beberapa kali keinginan itu semakin menguat. Hingga akhirnya. Bimillah…

“Assalamu’alaykum” beberapa wajah pun melempar tatapan dari kejauhan

Kembali untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rasanya persis seperti apa yang ana rasakan saat pertama kali menyentuhkan kaki di sana. Ada rasa ragu,takut, dan bahagia yang subhanallah

Ya Allah,
Senyuman, sentuhan tangan,  pelukan hangat, bibir kecil yang berucap,”Mbak kok nggak masuk ngaji lagi? Aku sayang mbak Riza” serta tatapan yang mengintip bersembunyi mencari, ini cinta yang ana nanti-nantikan

Dan kebersamaan bersama mereka, mendengar dan mengkaji ilmu Nya,ini yang ana rindukan

Ana rindu mengajar,sungguh rindu

dakwah-ini

Alhamdulillah, 4 hari telah berlalu.
Seusai pembelajaran, ana dan Bu Ida yang akan bersiap untuk pulang, akhirnya kembali duduk di dekat sebuah meja yang biasa digunakan sebagai tempat diskusi sebelum pulang. Bertiga dengan Pak Slamet,ketua pengurus TPQ, kami secara tak sengaja terhanyut dalam sebuah diskusi. Dari diskusi tersebut, ana jadi paham banyak hal yang telah terjadi di TPQ ini. Kali ini, ana berusaha menahan diri. Memang dulu ana agak sulit untuk menahan diri ketika berdiskusi. Terkadang terkesan menggurui, bahkan kepada yang lebih tua. Astaghfirullah…

Ana berupaya mendengarkan dengan seksama apa yang diutarakan oleh beliau berdua. Dan tak terasa ana baru sadar, betapa  berat perjuangan beliau berdua ini di tengah beban amanah yang luar biasa. Lelah memang terlihat jelas pada garis wajah mereka. Namun di sana ada cinta dan keterikatan dakwah yang baru ana pahami bisa membuat letih dan keluh mereka sirna. Allahu akbar

“Mbak Riza, sesibuk apapun sempatkan untuk lihat TPQ ya mbak.”  pesan bu Ida

Sejak saat itu hingga ana mengetikkan kata-kata ini,sebuah pelajaran berharga masih terus ana coba resapi maknanya bahwa sungguh bukan dakwah yang membutuhkan kita, tapi kita yang membutuhkan dakwah. Dalam sebuah dakwah  ada perjuangan,ada pengorbanan, dan ada cinta. Dan ana terlanjur cinta pada mereka, itulah kenapa ana insyaallah kembali berjalan di jalan dakwah ini

 والله أعلم

diselesaikan pada tanggal 23 Rabi’ul Awal 1437 H
Riza binti Syafrizal