بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Rindu rasanya menuliskan beribu asa yang masih mengangkasa

Hampir 3 bulan lebih ana tidak berbagi dengan antum dan antunna semua. Alhamdulillah hari ini disisa waktu libur panjang dari kegiatan rumah sakit, ana diberi kesempatan dan keinginan untuk menulis kembali oleh Allah سبحانه و تعالى :)

Baiklah saudari fillah, pada tulisan kali ini ana ingin berbagi satu ayat dari Surat cinta yang mungkin beberapa dari kita sudah sering selami setiap lembarannya. Namun, kadang masih terlupa bahwa tidak cukup dan hanya terhenti sampai di sana saja

pot-bunga-unik-2_reference

Kita awali dengan …

 بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Mahasuci Allah yang ditanganNyalah segala kerajaan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya

Nah,di sini ana ingin mencoba mengambil sebuah hikmah dari potongan ayat kedua surat Al-Mulk, surat yang diturunkan pada belahan buminya yang paling bercahaya

Tertulis pada tafsir Ibnu Katsir : “Dalam ayat ini Allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya, namun yang paling baik amalnya.” Ana sempat terhenti pada kalimat ini. Yang terbaik, bukan yang terbanyak amalnya.  Mungkin sekilas, logika kita akan berucap,“Tentu saja yang terbanyak itu justru lebih bagus.” Tapi tunggu dulu, di sini Allah سبحانه و تعالى memberikan standarisasi yang berbeda. Memang benar kita banyak membaca shalawat, banyak shalat sunnah, banyak puasa sunnah. Tapi apakah itu sudah yang terbaik? Mungkin antum dan antunna bertanya-tanya tentang definisi terbaik amalnya itu seperti apa, ya? Nah, sepaham dan sejauh yang ana pelajari, terbaik amalnya berarti harus ada 2 denyutan ini dalam amalan tersebut, yaitu :

  1. Ikhlas karena Allah سبحانه و تعالى
  2. Mengikuti tuntunan Rasulullah صلی اللہ علیہ وسلم (ittiba’)

Sebagaimana sebuah hadist dari Umar bin Khattab, sahabat yang dijuluki al Faruq, sang Pembeda, Rasulullah صلی اللہ علیہ وسلم bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkanBarangsiapa yang berhijrah karena  Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju (yaitu dunia dan wanita,)
(
HR. Bukhari no. 6689 dan Muslim no. 1907)

Dan hadist lainnya dari ibunda kita, Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah صلی اللہ علیہ وسلم bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.
(HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718.)

Saudariku, jelas sudah bagi kita, ada rambu-rambu yang mesti diikuti agar amalan itu bisa dikatakan amal yang terbaik. Kita shalat bukan hanya sekedar shalat dengan gerakan hampir menyemai kilat untuk mencapai jumlah raka’at yang berlipat. Kita puasa bukan hanya sekedar puasa. Menahan lapar dan dahaga namun akhirnya tecela karena kata. Begitu juga dengan amalan-amalan sunnah. Kita bershalawat harus paham dulu apakah benar bacaan shalawat yang kita baca sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad صلی اللہ علیہ وسلم ?‘Afwan,Jangan-jangan di sana ada perkataan jahiliyah, ada bid’ah. Astagfirullah…

Mungkin ada yang bertanya-tanya (lagi), lantas bagaimana untuk mencapai amal yang terbaik itu? Nah untuk itulah tulisan ini ana buat.

Ilmu, itu jawabannya.
Ana ingin sekali mengajak antum dan antunna untuk kembali membuka lembaran-lembaran ilmu tentang Diin kita, diinul Islam. Ilmu tentang satu-satunya agama yang di Ridhoi oleh Allah سبحانه و تعالى . Selama ini mungkin kita telah disibukkah oleh ilmu-ilmu dunia, dan terlena karenanya. Apakah begitu sibuknya kita memetik ilmu dunia ,sehingga bahkan 30 menit terasa begitu berharga jika digunakan untuk mengambil hikmah dari Al-qur’an dan sunnah? Kemudian, cara yang kedua untuk mencapai amalan yang terbaik, yaitu bersemangatlah menghadiri majlis –majlis ilmu, saudaraku. Di sana InsyaAllah kita akan mendapatkan banyak hikmah dan penjelasan yang mungkin belum bisa kita pahami sendiri🙂 Bukankah kita akan merasa begitu bahagia jika Allah سبحانه و تعالى memudahkan jalan kita ke surga?

Jika sampai saat ini hati kita belum terketuk untuk kembali menyirami diri dengan air mata ilmu Nya, maka apa yang bisa kita jadikan hujjah dihadapan pengadilan Nya nanti?

Akankah kita menjadikan waktu dan fasilitas sebagai alasannya? Tidakkah kita teringat bagaimana perjalanan para ulama yang bahkan menempuh perjalanan berpuluh-puluh kilometer untuk mendapatkan sebuah hadist?

Hari ini, bahkan di genggaman kita,ilmu itu terhampar.

Kita kembali pada kalimatNya, yang lebih baik amalnya. Insyaallah saudariku, setelah kita memahami ilmu dan memperbaiki amalan kita, maka secara otomatis kita akan tergerak untuk meningkatkan kuantitas amalan tersebut. Tapi ini berbeda ceritanya ya, jika diawali dengan yang terbaik kemudian diperbanyak dengan yang diawali terbanyak terlebih dahulu. Jadi, untuk bisa menjadi bagian dari mereka yang tebaik amalnya kuncinya adalah ilmu.

 والله أعلم

Diselesaikan pada 13 Rabi’ul Awal 1437 H