بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

19 Syawal 1436 H
Alhamdulillah dengan rahmatNya, segala niat baik seorang hamba dapat terlaksana

Beruntung bagi mereka yang dianugerahkan oleh Allah kemampuan meramu rasa dan pikiran menjadi berbait kata. Tahukah kenapa? Karena…

Saudaraku… Pernah suatu ketika, qadarullah saat diri ini telah lama sekali tidak bermesraan dengan kegiatan tulis-menulis, karena lebih ingin banyak membaca dan mendengarkan, satu kajian di Radio Islam Indonesia menarik nafs ku kembali pada ruh itu.

Menulis adalah dakwah. Begitulah judul kajian yang disampaikan oleh seorang ustadz nun jauh di sana. Sayangnya, ketika itu aku tidak mengikuti penuturan beliau dari awal.  Tapi alhamdulillah, sedikit yang terindra, nyaris membuatku sepenuhnya tertegun. Kudengar perlahan tiap kata yang disampaikan oleh al-ustadz, hingga tiba pada beberapa kalimat yang kira-kira redaksinya seperti ini : Menulis adalah nafas dari dakwah. Bagian dari dakwah itu sendiri. Maka beruntunglah orang-orang yang dianugerahkan oleh Allah kemampuan dan keinginan untuk menulis, karena mereka telah memiliki sebagian modal dari dakwah Islam.

Saudaraku, maukah dikau ikut terhanyut dalam pikiranku? 

Sebuah karya besar dari Muhammad bin Ismail Al Bukhari rahimahullah. Beliau  yang menghimpun beribu hadist Nabi Muhammad صلی اللہ علیہ وسلم dalam sebuah kitab yang keshohihannya oleh para ulama diletakkan di bawah Al-qur’anul karim, kitab shohih Bukhari. Pernahkah terbayang olehmu, bagaimana permulaan kitab itu bisa sampai di tangan kita hari ini? Ya, betul sekali! Kitab itu diawali oleh goresan tinta beliau. Masyaallah…

Jika saat itu beliau hanya menghafalkan hadist-hadist tersebut dan menyebarluaskan melalui lisan saja pada para ulama lainnya. Kemudian, satu-persatu para ulama penghafal hadist dipanggil untuk kembali padaNya, tanpa ada seorangpun yang berada dipersinggahan ini lagi. Lalu bagaimana kita bisa mempelajari sunnah? #renungku beberapa saat

Saudaraku betapa kita harus banyak-banyak bersyukur kepada Allah سبحانه و تعالى
Dia yang telah menggerakan hati para ulama menuliskan ilmu
dan juga memberikan kita kemudahan dalam mendapatkan dan memahaminya
Alhamdulillah…

Saudara fillah, di sinilah poin yang ingin kusampaikan. Setiap rasa dan pikiran memiliki hak untuk ditulis seperti yang diutarakan oleh Febria Rahmi. Namun apa yang kita torehkan pasti menuntun kita pada dua muara, surga atau neraka begitu ucap mbak Tika. Setiap kata bahkan huruf yang kita rajut akan berbicara dan menjadi saksi di pengadilan Allah, yaumul akhir. Apakah kebermanfaatan bagi umat atau justru kesesatan yang mengakar ke anak cucu, naudzubillah… Oleh sebab itu saudaraku, izinkan diri ini mengajakmu untuk bersama berusaha mengikuti jejak para ulama.

Estafet pena dakwah itu, kini ada di tangan kita
Kita tidak diminta untuk memulainya dari awal,
Hanya meneruskan goresan pena para ulama.

 والله أعلم