Bismillahirrahmanirrahim…

“Mas takut ya waktu mbak Riza marah Jum’at kemarin?”
“Nggak mbak.”
“Lalu kenapa?”
dia hanya diam…
“Mbak Riza nggak marah lagi kok sekarang. Cuma mau nanya kenapa mas menghindar?”
Mas takut ya?” sambil menggenggam tangannya
“Nggak mbak.”
“Lalu?”
“Takut digepuk mbak (takut dipukul mbak)”
Astaghfirullah…
“Mbak Riza pernah mukul mas?”
“Nggak mbak.”
“Mas trauma ya kalau ada yang marah?”
“Iya mbak.”

Sahabat,segala sesuatu itu butuh ilmu ya.
Untuk mendidik,menyayangi,dan bahkan marah sekalipun kita butuh ilmunya.

Jika kita kekurangan ilmu,maka inilah yang terjadi.
8 Mei 2015,tepat 4 hari setelah kemarahan itu termuntahkan,ternyata masih tersisa seikat cerita yang jauh lebih dalam menggoreskan luka penyesalan di hati.

Seorang anak yang pada saat itu mungkin mendapatkan porsi yang berlebih dari amarahku,maka wajarlah jika ia mengambil sikap untuk menjauh. Semangat mendengarkan dan memperhatikan pun luntur seketika ia menatap wajahku. Namun di balik itu semua,aku tahu dia adalah anak yang baik. Yang seharusnya tidak mendapatkan perlakuan seperti itu dariku.

Dan memang benar adanya. Ketika kesempatan untuk berbicara berdua sesaat sebelum ngaji itu tiba. Saat kutatap matanya yang bening itu,aku merasakan ketidaknyamanannya berada di dekatku berlama-lama. Memang,dulu dia pernah mengatakan bahwa isin (malu) dekat denganku. Sudah kelas 5 SD. Namun kali ini ketidaknyamanan itu bukan hanya karena malu. Dan aku tahu persis alasannya.

Kurendahkan suara dan kuangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk tak menatap. Perlahan ku giring diskusi menuju alasan kenapa aku memarahinya ketika itu. Hingga tiba-tiba ia bertanya padaku

“Mbak aku subuh itu nggak bisa bangun mbak.
Gimana caranya bisa bangun mbak?”

Ya Rabb,kemanakah harus kusembunyikan wajah ini dariMu.
Aku malu dengan kebodohanku.
Aku malu dengan kekerasan hati yang bahkan tak bisa melihat berjuta kebaikan dari jiwa-jiwa lembut itu

Saat itu semakin erat kugenggam tangannya. Hingga pada akhirnya,bermula dari pertanyaan itulah ia kemudian dengan mudah mengalirkan begitu banyak cerita tentang diri dan keluarganya. Dan mungkin engkau tak menyadarinya,adikku. Mata mu memerah dan mulai berembun🙂

***

Sahabat,begitu banyak hal yang harus kita,terlebih diri ini,pelajari. Bagitu miskinnya kita akan ilmu. Ilmu bagaimana mendidik anak-anak. Bagaimana menyayangi dan mencintai mereka. Bahkan ilmu tentang bagaimana kita marah ketika menanggapi kekeliruan mereka. Lagi,semua nya butuh ilmu.Jikalau tidak berilmu, maka kebodohan bertindaklah yang akan kita lakukan,seperti diri ini. Semoga kita masih diberi kesempatan untuk terus belajar dan mendampingi jiwa-jiwa yang teramat lembut itu dengan ilmu ya,sahabat.

tumblr_lt1g64NiEN1qfm827o1_500

Ba’da maghrib,diantara barisan jama’ah itu,terlihat mereka si pemilik jiwa-jiwa yang lembut. Dan ia pun hadir di sana,menoleh ke arahku dan melempar senyum. Senyuman yang bukan karena keterpaksaan. Tapi tulus,hingga tepat jatuh di hati

Beginikah caraku membeli senyummu,Dik?