Bismillahirrahmanirrahim

Sebuah catatan yang semoga sahabat semua bisa mengambil ibroh dari apa yang kulakukan dan  nantinya tentu tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

***

Beberapa hari terakhir ini memang ada  sedikit perubahan atmosfir bagaimana aku berinteraksi dengan adik-adik. Banyak hal yang terjadi,sehingga pergantian ritme ini pun kulakukan. Pada awalnya,aku merasa perubahan itu begitu berefek pada adik-adik . Banyak di antara mereka yang kini mengambil beberapa jarak dengan ku. Bahkan ada satu adik yang dulu bisa dikatakan cukup dekat denganku berucap, “Mbak Riza sekarang jahat.”🙂 Yah semua aksi tentu ada reaksi. Karena memang ini adalah konsekuensi yang harus kuhadapi ketika aku memilih bersikap seperti sekarang,akupun menerimanya. Meskipun demikian,tak sedikit dari mereka masih tetap  bertahan tanpa rasa gentar menghadapi sosok guru mereka yang baru ini.

Hari berganti hari,teman-teman pun kini mulai terbiasa dengan diriku yang sekarang . Terutama teman-teman yang berada di tilawati 5,6 dan Qur’an. Mereka sudah bisa menerima dan mengikuti ritme yang coba kubangun. Dalam ketegasan yang sesekali mencair. Namun sepertinya aku keliru dalam memahami.

Puncak kekeliruan itu pun terjadi pada hari Jum’at 8 Mei 2015

Ketika itu,setanku benar-benar mengisi setiap aliran darah. Membidik teman-teman dari pandangan mata dan menggoreskan luka melalaui ketajaman kata. Astagfirullah…

Berawal dari salah seorang dari mereka yang mengajukan sebuah pertanyaan,
“Mbak hari ini nggak praktek shalat mbak?”
“Oh iya,mbak Riza lupa menayakan satu hal. Siapa yang belum shalat Ashar?”

Setiap wajah saling memandang,setelah sedetik pertanyaan itu mengambang. Ada yang berupaya menutupi wajah. Ada yang tertunduk. Memang ini bukan kali pertamanya aku mempertanyaan perkara shalat adik-adik. Sudah hampir sebulan pertanyaan ini selalu kulontarkan pada mereka. Dan seperti biasanya,teman-teman pun akan segera beranjak pergi mengerjakan shalat setelah kesempatan untuk sholat kuberikan. Namun berbeda hal nya pada sore yang tidak begitu kelam tapi mencekam bagi mereka. Satu-persatu telunjuk itu pun mengacung. Tidak hanya 1 atau 2. Tapi 5 dari 11 orang yang belum mengerjakan shalat. Ya Allah… hatiku terasa begitu sakit. Emosiku mendidih hingga panasnya tak terkendali. Sampai-sampai akupun terlupa bahwa pada saat itu belum sedikitpun kelas dibuka dengan do’a dan salam. Astagfirullah…

“Mbak Riza tanya,siapa yang hari ini tadi shalat Subuh,Zuhur/jum’atan,dan Ashar?” dengan nada yang keras dan tinggi

Hening,tak ada yang berani mengangkat suara. Dengan kekesalan yang meluap-luap,aku kemudian mengintrogasi mereka. Dan hasilnya, hanya dua orang. Ya,dua orang yang telah menjaga shalatnya.

Api yang kian diperbesar dengan bara setan membuatku selanjutnya menceramahi mereka

“Percuma mbak Riza ngajarin kalian Qur’an kalau kalian nggak shalat! Kalian tau amalan yang pertama kali yang akan ditanyai malaikat adalah shalat. Bukan juara berapa kalian di kelas.”
“Muslim itu menurut kalian gimana?”
“Yang shalat mbak.”
“Shalat 5 waktu mbak.”
“Berarti kalau yang tidak shalat 5 waktu,bukanlah seorang muslim?”

Astagfirullah,kalimat-kalimat yang sangat kusesali kenapa harus mengalir tanpa kekang. Bukan ceramah yang berisi nasihat. Tapi justru tekanan yang menyudutkan

***

Sahabat,inilah kesalahan yang terbesar diantara kesalahan-kesalahan lain yang pernah kulakukan. Inilah aibku. Bukan sengaja kubeberkan agar sahabat berdecak kagum karena aku telah berani memperlihatkan aib sendiri. InsyaAllah bukan karena itu. Tapi,agar sahabat jangan pernah melakukan hal yang sama.

Kita menginginkan adik-adik didik kita atau anak-anak kita menjadi seperti apa yang kita inginkan. Kita mengukur mereka dari kaca mata kita. Kita selalu tak sabar untuk melihat hasil akhir dari apa yang telah kita berikan kepada mereka. Sehingga tak jarang ketika apa yang kita harapkan tak sesuai dengan kenyataan yang terjadi,maka kemarahan itu pun muncul.  Pernahkah sahabat merasakannya?

Tentang menjadi seperti apa yang kita inginkan.
Aku begitu berekspektasi,begitu berharap adik-adikku “Jadi”. “Jadi” menurut apa yang kuinginkan. Selama ini aku merasa telah memberikan mereka apa yang ku ketahui. “Aku merasa telah memberikan.” Nah,mungkin kita perlu berhati-hati dengan kalimat ini. Mungkin ada yang rusak dari redaksi kata yang dipilih. Ada yang membuat kesempurnaannya berkurang. Mungkin saja tercela pada niat. Astaghfirullah… Ketika niat ditambal dengan berbagai keinginan lain bukan semata karena Allah,maka sahabat sudah tau apa yang akan terjadi. Dan sepertinya kita,terkhusus diriku,perlu kembali memeriksa kejernihan niat🙂 Ketika niat itu bersih,tentu  kita tidak akan berekspektasi melebihi kehendakNya.

Kemudin tentang hasil.
Siapa sih sahabat yang tidak menginginkan hasil yang sempurna setelah apa yang mungkin kita gumamkan “usahaku telah maksimal membentuk dan mengarahkan mereka kok.” Ya,mungkin memang kita telah benar-benar berusaha,kita telah memberikan mereka amunisi sebanyak-banyaknya. Tapi,ada yang terlupa bagi kita,bagi diri ini,yaitu : Bukan kita pemegang hati mereka! “Jikalau hati itu bisa dikendalikan oleh tangan dan pikiran ini,maka tentu Rasulullah lah manusia pertama yang bisa melakukannya. Membuat paman beliau Abu Thalib menyatakan Tiada Ilah selain Allah. Tapi, Rasulullah pun tak sanggup melakukannya. Apa lagi kita,Za! Siapa kita! ” begitu tutur mbak Tika menasihatiku.

Masih tentang hasil.
Kadang karena kita terlalu menyorot pada hasil,kita menjadi buta untuk melihat proses yang telah mereka tempuh.  Ya itulah yang terjadi. Aku tak bisa melihat hijrah yang telah adik-adik lakukan,akibat kabut yang kubuat sendiri. Astagfirullah… Sahabat,mungkin ini agak berat dan sulit bagi kita ya. Melihat dari sudut pandang yang positif terhadap apa yang terjadi. Tidak selalu apa yang terlihat itu,yang menurut kita masalah dan kekurangan adalah sebenar masalah dan kekurangan. “Belajarlah melihat dari sisi yang berbeda,” ucap mbak Tika

77008-500

Sahabat,semoga yang sedikit ini bisa menjadi ibroh dan pelajaran berharga bagi  kita, terkhusus diriku, agar dikemudian hari tidak akan terjatuh pada kesalahan yang sama