Bismillahirrahmanirrahim

Kali ini masih tentang Rangga dan Rangga.
#Loh kemana perginya Cinta? -_-

Bagi sahabat yang mungkin pernah melirik beberapa tulisanku sebelumnya,tentu tidak asing lagi dengan yang namanya Rangga ini. Beberapa kali kisahnya ku abadikan dalam tulisan. Dan kali ini pun sama ceritanya,rangga lagi Rangga lagi. Hahaha…

10846006_1500268906928886_6362555082528300113_n

Rangga seorang anak yang berusia hampir 11 tahun yang menempati porsi yang sedikit overload in my heart. Ciee…

***

Setelah beberapa bulan tidak berjumpa rasanya kali ini ada sesuatu yang berbeda dengan Rangga. Katanya sih Rangga  tengah mengalami perubahan menuju masa remaja. #Hmm.. Apa benar ya? -_- Menurut informasi  yang diterbangkan oleh angin,kabarnya Rangga tengah merasakan sesuatu yang namanya “suka” terhadap teman perempuannya. # Wah.. gawat ini! Siaga 1. 

“Rangga sombong ih akhir-akhir ini ke mbak Riza. Ndak pernah ngeline lagi. Ndak pernah cerita lagi. Kenapa sih ngga? Ada apa sih? Mbak Riza males ah teman sama Rangga kalau gitu.”
godaku berupaya untuk mengorek informasi langsung dari narasumbernya pada suatu hari😀

Dan ternyata trik itupun berhasil,sahabat😀. Malamnya sebuah pesan mendarat melaui salah satu media social yang you-know-what😀 Ini lah kesempatanku untuk mempertanyakan sesuatu yang masih samar-samar #batinku. Beberapa pertanyaan ku giring menuju jawaban yang selama ini terdengar olehku. Dan ternyata memang benar adanya. Rangga ku mulai merasakan “suka” pada teman lawan jenisnya. Take a deeeep breath … Fiuh..

Sahabat,entah kenapa semenjak Rangga mengutarakan sendiri tentang apa yang terjadi pada dirinya,ada sesuatu yang berkecamuk dalam hati ini. Cemburu dan Khawatir. #Cemburunya di sini jangan ditafsirkan yang aneh-aneh ya sahabat -_- Kecemburuan ini seperti cemburunya seorang ibu pada anaknya #Halah.. kayak yang sudah aja -_-. Tapi sungguh,begitulah yang kurasakan sahabat. Satu tingkat lebih tinggi,mungkin inilah yang dirasakan oleh para ibu atau para ayah ketika anak lelaki atau perempuannya dipinang oleh jodohnya. #Haduh mulai ngaur. Kembali lagi kepada rasa khawatir. Aku khawatir sungguh amat khawatir jika Rangga memelihara perasaan ini. Aku khawatir ketika ia mengenalnya lebih jauh,ia tidak akan bisa lagi menjadikan Iman dan Islam sebagai kontrol diri.Walaupun ini sebenarnya normal terjadi pada anak seusianya. Tapi……..😦  Alhasil beberapa hari semenjak hari itu,aku pun mencoba untuk berpikir apa yang seharusnya kulakukan. Seberkas kegelisahan di saat akan memejamkan matapun tak bisa kuelakan. Sehingga,entah untuk alasan apa,aku mulai sedikit bete. Bisa-bisanya aku berkata,

“Mbak Riza sebel sama Rangga.”
“Loh sebel kenapa mbak?” tanyanya polos

Namun Alhamdulillah rasa itu mulai diangkat olehNya ketika pada suatu malam saat kami berpapasan di sebuah gang Mesjid. Alhamdulillah dia dan Rafli baru saja mendirikan shalat Isya berjamaah🙂 Kami bertiga pun terhanyut dalam beberapa obrolan. Hingga gerimis memisahkan.😀

Dan semenjak saat itu,setelah berkonsultasi dengan mbak Tika,akhirnya aku memutuskan untuk berbicara kembali dengan Rangga dan menanyai pemahamannya bagaimana batasan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Alhamdulillah,jawaban yang ia berikan sesuai dengan apa yang kuharapkan,sehingga membuat kekhawatiranku pun mulai sedikit menghilang. Tapi tetap saja butuh pengawasan extra ketat,ketika teman-temannya mulai menggoda dan meledeknya. #Tenang  Ngga… Mbak Riza akan melindungimu dari virus-virus yang berbahaya dan memperdaya ini. hahaha

cropped-social-work-lecture-series

Beberapa hari kemudian,Rangga ku ternyata sakit. Katanya terkena cacar air. Nah,pada saat inilah aku menemukan sisi lain dari Rangga. Muanjaaaa poooool…

new-4

Satu pelajaran berharga,entah itu anak-anak maupun orang dewasa,ketika mereka mengucapkan kata “terserah”,yakinlah sahabat bahwa itu bukan sebenar-benarnya “terserah” . Mereka itu sejatinya memiliki jawaban yang pasti namun malu atau sungkan untuk mengutarakannya. #pengalaman pribadi :D Seperti halnya Rangga yang ketika ditanyai tentang hal yang diinginkan,jawabannya

“Terserah mbak Riza.”

Tapi ujung-ujungnya,ia malah meminta sesuatu dan bersyarat lagi. #Haduh.. Rangga… Rangga… -_-

Diriwatkan oleh Imam Bukhori dari Anas radhiyallahu’anhu,ia berkata :
Seorang anak Yahudi yang menjadi pelayan Nabi Shallahu’alayhi wa Sallam sakit. Nabi Shallahu’alayhi wa Sallam datang menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya dan bersabda kepadanya,”Masuk Islamlah engkau.” Dia melihat kea rah bapaknya yang saat itu juga berada di sana. Si bapak bekata,”Turutilah Abdul Qasim.” Maka,dia pun masuk Islam. Nabi Shallahu’alayhi wa Sallam pergi sambil berdoa,”Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.”

Seperti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah,seperti itu lah yang coba kulakukan. Berkunjung ke rumah Rangga yang sedang sakit. Nah sahabat,mungkin ini yang perlu kita biasakan ya🙂 Karena apa? Karena akan begitu banyak kejutan ,hihi.. Ketika Rasulullah dengan rahmat Allah berhasil mendekatkan seorang anak Yahudi pada Islam,alhamdulillah aku dengan cintaNya berhasil mendapatkan cinta makhluknya. Satu keluarga baru,keluarga Rangga🙂 Sungguh kunjungan kali ini terasa begitu istimewa🙂

And the last but not least about Rangga.
Nah… Sebenarnya inilah inti dari tulisan tentang Rangga,sahabat.😀 #Loh lalu bagaimana dengan beberapa paragraph sebelumnya? -_- Anggaplah bagian di atas adalah  BAB 1 Pendahuluan,hehe…

Ketika waktu maghrib menghampiri,aku yang selalu menyelesaikan kelas belakangan, bertemulah dengan sosok Rangga yang sudah sembuh dari cacar.

“Rangga kok belum pulang?”
“Aku shalat di sini mbak. Mbak Riza nggak shalat di sini?”
“Oo… Nggak,mbak Riza shalat di rumah aja. Pulang dulu yaa..”

Setelah pamitan dengannya,aku pun kemudian menuntun langkah meningglkan Al-kautsar. Namun tiba-tiba…. Langkah itu terhenti! #Apa yang membuatnya terhenti? Suara. Suara yang begitu asing terdengar mengumandangkan adzan. Lebih lembut dan belum berat seperti suara lelaki dewasa. Ini bukanalah suara Deri yang biasanya adzan di Al-kautsar #gumamku. Sontak,kuputar arah  mengintip ke dalam Al-kautsar. Dan ternyata…. Itu adalah Rangga.

Ya Rabb…
Mendengar setiap kalimat adzan yang dikumandangkannya,hatiku begitu terharu.
Hampir-hampir saja air mata ini tumpah membasahi pipi

“Der,itu yang adzan Rangga kan?
“Iya mbak.”
“Subhanallah,kok bisa? Sejak kapan Der?”
“Iya mbak,dia kesambet jin Islam,hihi..Baru-baru ini mbak”
“Ah.. Deri lah -_- Tapi subahnallah ya Der. Adik didikan Dery ya!”
“Iya mbak. “

Subhanallah… Ada rasa haru dan bangga menyelimuti hati yang membuat senyum terukir tiada henti. Mungkin ini ya yang pernah dirasakan oleh kedua Buk De nya Anas ketika mendengarkannya adzan pada perlombaan waktu itu.🙂 Akupun merasakan hal yang sama ketika yang adzan itu adalah Rangga .

adhan

Subhanallah…
Kita tidak tahu ya sahabat,di jiwa mana Allah menitipkan permata cahaya IslamNya yang begitu menawan.
Nah,oleh sebab itu tugas kitalah yang memunculkannya.
Bersediakan engkau sahabat?🙂

***

Untuk Rangga,
Mbak Riza paham,
saat ini Rangga tengah mengalami masa perubahan menjadi seorang remaja
masa yang penuh dengan hal-hal yang melenakan dan tentunya belum pernah Rangga alami
Namun ngga,selama Islam dan Iman masih tergenggam erat di hatimu,
selama rasa takut mu pada Ilahi menjadi pengontrol dalam dirimu,
Insyaallah meskipun nanti mbak Riza tidak bisa lagi menemanimu,
mbak Riza tidak akan khawatir.
mbak Riza yakin Ranggalah salah satu pejuang yang akan membebaskan belenggu kejahiliyahan yang berada pada jantung kota Roma itu,dengan Islam dan Iman mu
Mbak Riza sayang Rangga🙂