Bismillahirrahmanirrahim…

19 Februari 2015
Sahabat,kali ini sebuah pelajaran yang sangat berharga kembali dititipkan Nya melalui putri kecilku,mbak Ija🙂

Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin),mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin),atas dirinya sendiri,meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran,maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Al-Hasyr (59) : 9

Malam ini,ditemani tetesan air yang menuruni langit,saat kami bersama-sama membentuk cahaya yang InsyaAllah akan terlihat oleh penduduk langit.

Sebagaimana biasanya setelah dibuka dengan doa,secara bergantian teman-teman mulai memperdengarkan bacaan Iqro’nya kepadaku. Dimulai dengan duo mamas yang guanteng,mas Zaky dan mas Dana. #tumben? Ya.. Berhubung dua mbak-mbaknya sedang terhanyut membaca kisah Nabi Muhammad SAW,sahabat🙂 Dan beberapa menit sebelum Isya,tibalah saatnya giliran dua bidadari kecil tersebut.

“Yuk,mbak Ija ngaji!” ajakku pada mbak Ija
“Ya mbak!” seru mbak Ija
“Mbak,aku sek..”potong mbak Nesa
“Mbak Ija dulu ya mbak Nes…” jawabku kemudian
“Iya mbak,aku dulu! Kamu kan lagi baca mbak,” tambah mbak Ija
“Aku dulu! Ini bukunya Ja! Kamu tadi kan katanya mau bacaaa…” Mbak Nesa mulai  melakukan negosiasi
“Moh.. moh..moh aku ngaji dulu mbak,” jawab mbak Ija mempertahankan

Perang dunia ke tiga pun terjadi😀 Mbak Nesa dan mbak Ija terjebak dalam pertempuran adu argumen yang tak terelakkan. Selang beberapa menit,aku membiarkan mereka dalam peperangan tersebut #guru yang tidak baik -_-. Bukan begitu sahabat,aku hanya ingin mereka belajar bagaimana menyelesaikan suatu permasalahan🙂

Biarkanlah ketika anak-anak terlibat dalam permasalahan kecil namun dalam batasan belum terjadi kekerasan fisik. Karena apa? Karena di sanalah mereka akan belajar bagaimana menyelesaikan suatu masalah dalam kehidupan
-menurut salah satu narasumber yang pernah ku dengar dalam seminar parenting.
Lupa narasumbernya siapa,maklum,hehe😀

Hingga pada akhirnya ketika percikan api itu mulai muncul, #halaah… aku pun kemudian masuk dan mulai memadamkannya😀

“Mbak Ija dulu ya mbak Nesa… Kan tadi mbak Riza manggil mbak Ija dulu.”
“Iya bu,tapi…#@!%r*&…”

Mbak Nesa terus berargumen untuk meyakinkanku mengubah pilihan. Tapi sayangnya, aku tidak menghiraukan argumen-argumen tersebut,hihi… Aku membiarkannya begitu saja,karena aku ingin mbak Nesa belajar untuk mau bersabar. Tidak semua yang kita inginkan,akan terealisasikan seketika itu juga mbak Nesa sholihah🙂

“Mbak Ija,silahkan dimulai. Yuk baca ta’audz sayang!”
“Mbak Riza,apa mbak Nesa dulu aja yang ngaji ya?”
“Iya kah?
“Iya mbak🙂 “
“Ndak papa kalau mbak Nesa yang ngaji duluan?”
“Iya mbak ndak papa🙂 “
“Mbak Ijaaa,mbak Ija sabar banget”
dan selukis senyumpun  menempel di wajahnya

20140901_190407

Subhanallah,sudah kesekian kalinya,putri kecilku ini mengajarkan satu hal yang begitu luar biasa. Yang terkadang aku sendiri pun masih sulit untuk melakukannya. Bagaimana ia begitu sabar dan mau mengalah terhadap kakaknya dalam segala hal.

Ia yang memiliki hati teramat lembut.Yang kadang membuatku merasa kasihan. Tapi mbak Ija sendiri,pemeran yang berada pada posisi tersebut,justru berbahagia. Allahu akbar! Semoga kesabaran dan kelembuatan hati ini selalu menjadi perhiasan terindahmu ya sholihah,mbak Ija alias Salia 🙂