Bismillahirrahmanirrahim
#catatan KKN-BBM Unair ke 51

“Nama kamu mbak Reza ya?”

Begitulah ia menyapaku saat kami berjumpa untuk kedua kali nya. Rofik,ia adalah putra dari bapak kepala carik/kepala desa,Desa Prajjan. Sahabat,siapa yang menyangka pertemuan yang hanya berlangsung 28 hari itu,ternyata memberikan kesan yang begitu luar biasa di penghujung perjumpaan. Sebelum aku menuturkan bagaimana keindahan akhir kebersamaan ku dengan Rofik. Ingin sekali aku berbagi perjalanan moment yang mengantarkan kami pada penghujung yang indah tersebut. Satu moment yang terindah dan yang terpilih

IMG_6651
Rofik berbaju putih biru muda-biru tua,beside me🙂

Malam itu,beberapa hari menjelang malam terakhir di Desa Prajjan,di mana pada malam-malam sebelumnya  aku dan teman-teman biasanya mengadakan kegiatan belajar bersama untuk adik-adik di sekitar tempat kami bermukim,namun kali ini kegiatan belajar itupun digantikan dengan kegiatan bermain bersama sebagai perpisahan karena telah berakhirnya proker . Malam itu pun Allah menurunkan keberkahannya melalui gerimis hujan. Dan seketika itu juga Desa Prajjan diselimuti oleh gelapnya malam,listriknya padam,Allahu akbar! Tapi hal tersebut justru menambah keakraban dan kehangatan diantara kami; aku,teman-teman ,serta adik-adik. Ditemani dua buah lilin, kamipun mencoba berbagai permainan masa kecil. #Permainan masa kecil yang dimaksud ditujukan untuk kakak-kakak Unair yang sudah sepuh,tentunya hehe.. Hingga malam pun semakin larut dan hujan yang awalnya berupa gerimis,kini mulai mengganas menurunkan tetesan hujan tiada henti. Satu persatu adik-adikpun kembali ke rumahnya masing-masing,takut kalau-kalau terjadi genangan air lagi. Dan tersisalah seorang anak yang tidak perlu khawatir akan kepulangannya,karena toh ini rumah keduanya yang sedang kami tempati,hehe…

“Mbak,ayok cerita lagi mbak!”
“Cerita apa Rofik?”
“Cerita Nabi Muhammad mbak.”
“Hmm.. Ya boleh.. Rofik yang cerita apa mbak Riza yang cerita?”
“Mbak Riza ajaaa…”
“Yaudah,kalau gitu mbak Riza mau cerita ketika Nabi Muhammad akan meninggal dunia ya! Rofik sudah pernah dengar belum?”
“Belum mbak. Gimana mbak ceritanya?”

Subhanallah,bersama Rofik yang terus memandangiku lekat-lekat di tengah pekatnya malam,ia yang seakan menanti kata penyebab peristiwa yang akan terjadi berikutnya dan berikutnya,membuat begitu merinding saat mengutarakan bagaimana di detik-detik ruh dan jasad Rasulullah akan seutuhnya terpisah

“Bukan keluarga Beliau yang beliau ingat dan beliau khawatirkan Fik! Tapi Rofik,mbak Riza,kita semua. Umat beliau! Rofik yang disebut-sebut Rasulullah ketika beliau akan meninggal dunia Fik!”

Wallpaper Muhammad Rasulullah (14)

Kebersamaan itu pun masih berlanjut. Dan kali ini,kisah kelembutan sahabat terbaik Rasulullah yaitu Abu Bakar As-Siddiq menjadi pilihan kami berdua #eh tepatnya pilhanku sendiri sih,hehe.. Nah pada saat ini,ada satu hal yang terjadi sahabat

“Mbak Abu Bakar itu dulu kecilnya seperti apa mbak?
Cerita in tentang Abu Bakar kecil mbak!”

Seketika otakku berhenti berpikir. #Aduh,aku kan belum pernah membaca biografi sahabat Abu Bakar ketika beliau masih kecil. Bagaimana ini?

 Sahabat,ini yang perlu kita perhatikan,sebuah reminder dan mungkin tamparan bagi kita semua,terutama bagiku. Sudahkah kita membaca dan mempelajari Sirah?

Sahabat,sekarang banyak sekali anak-anak muslim yang telah terampas pemikirannya akan sosok yang patut dijadikan contoh. Mereka lupa bahkan tidak tahu akan  idola sebenar idola. Karena apa? Karena sesungguhnya mereka pun tidak pernah mengenal sosok idola tersebut. Mereka tidak mengenal Nabi mereka,Muhammad SAW dan para sahabat beliau.

Sahabat,bukanlah salah anak-anak kita atau adik-adik kita jika hari ini banyak dari mereka yang keliru dalam mengidoakan. Dan betapa menyakitkan jika ternyata semua itu adalah,maaf,kesalahan kita : orang tua dan guru. Kita tidak pernah memperkenalkan mereka pada sosok uswatun hasanah tersebut. Karena mungkin,maaf,kita sendiri  juga tidak pernah mengenal,tidak pernah membaca,dan tidak pernah mempelajari lebih jauh Nabi kita. Sehingga beginilah generasi kita. Naudzubillahi mindzalik

Oleh sebab itu sahabatku,sebelum begitu terlanjut terlambat,aku ingin mengajak sahabat semua,yuk kita mulai membaca dan mempelajari Sirah Nabi Muhammad beserta sahabat beliau. Sehingga,ketika nanti kita ditanyai bagaimana generasi yang kita tinggalkan,maka dengan bangga kita menyebutkan,”Mereka adalah generasi yang menakhlukkan kota Roma itu ya Rabb!” Amin…

Next kita lanjutkan.. Setelah aku lelah bercerita ditambah dengan suara yang mulai agak serak #baru juga dua cerita -_-,akupun meminta Rofik yang kini bercerita. Dan sahabat,ternyata cerita Rofik tidak kalah serunya,yaitu tentang peperangan antara dua kelompok yang duluuuuu sekali pernah terjadi di Desa Prajjan. Terlepas dari isi yang disampaikannya,karena jujur ada beberapa istilah dalam bahasa Madura yang tidak ku mengerti sama sekali,yang juga sempat menganggu konsentrasiku dalam mendengarkan isi cerita,namun aku begitu menikmati bagaimana ekspresi Rofik yang seakan-akan hadir pada saat peristiwa tersebut. Subhanallah.. luar biasa,keren pooool pokonya😀

Dan peghujung yang manis itu berawal dari sini,
sehari menjelang kepulanganku…

Ketika itu aku dan teman-teman sedang membereskan beberapa barang yang akan dibawa kembali pulang ke Surabaya. Dan tiba-tiba Farida berserta Rofik datang..

“Mbak Riza,aku ada kado buat mbak Hiroko. Rofik juga ada,tapi buat mbak Riza.”
bisik Farida pelan padaku. Rofik yang pada saat itu persis berada di belakang Farida,kemudian langsung menarik tangan Farida dan berusaha menutupi mulut si gadis nan cantik itu sambil senyum-senyum padaku.
#Kado buat ku?

Dan malam perpisahan itupun tiba…
Perpisahan yang dijadwalkan ba’da isya itu mau tidak mau harus diundur. Ya,terang saja belum ada yang ngumpul. Maka jadilah pada saat itu,aku bersama salah seorang temanku,Izza berupaya untuk mengundang warga door to door. Nah,di tengah perjalanan mengunjungi warga,aku pun bertemu dengan segerombolan anak-anak yang sebagian besar telah kuhafal wajahnya. Ada Farida,Rofik,Ardi,Isma,Rizky,dan beberapa anak lain.

“Mbak Riza.. mbak Riza..”
“Ya,kenapa Farida?”
“Mbak,ini nanti di kasihin ke mbak Hiroko ya!”
“Wah.. Ini apa?”
“Kado buat mbak Hiroko dan mbak-mbak yang lain juga :D”
“Iya,makasih ya…”
“Mbak..Mba.. Ini ada satu lagi dari Rofik buat mbak Riza.”
“Dari Rofik? Loh.. Tapi kenapa ndak Rofik yang kasihin ke mbak Riza? Hayooo.. “ dengan melempar lirikan dan senyuman kea rah Rofik yang malu-malu
“Rofik sini tak sayang dulu..” dengan malu-malu dan senyam-senyum serta diikuti gelak tawa teman-teman yang semakin heboh ketika aku mencium Rofik. Sengaja ingin menggoda.Hahaha…
“Rofik,makasih ya.. Ini cuma buat mbak Riza? Buat mbak-mbak yang lainnya mana?”
masih dengan wajah malu-malu, iya mengangguk dan tersenyum, kemudian kabur…

20150208_120311

Dan pada saat salah satu rangkaian acara perpisahan,
Satu persatu aku dan teman-teman bersalaman dengan warga yang hadir,yang selama ini dengan penuh senang hati menerima kami dari awal hingga akhir di Desa Prajjan. Tak ketinggalan,moment ini pun juga ditemani oleh derai air mata dan rasa haru yang menyelinap masuk dalam relung hati.

Hingga tiba saatnya ketika aku menjabat tangan sahabat kecilku. Aku melihat ia menundukkan pandangan. Tak seperti Rofik yang biasanya. Aku melihat ada kesedihan yang sama,yang terukir dalam hatinya. Namun,aku tidak ingin membuat perpisahan ini menjadi hal yang paling menyakitkan. Aku berupaya menahan tangis yang hampir saja menunjukkan aba-aba ingin keluar.

“Rofik,makasih ya. Rofik yang rajin ya belajarnya. Jadi anak yang sholeh.”
itulah kata-kata yang sempat kuucapakn sebelum aku menyudahi nya dengan pelukan erat pada tubuh kecil itu.

Dan perpisahan itupun benar-benar harus terjadi
Dulu,yang awalnya begitu ingin sekali segera kembali pulang ke Surabaya,hari ini semua rasa itu justru berkebalikan. Rasanya begitu berat sekali meninggalkan desa yang telah memberikan begitu banyak cerita. Bahagia,sedih,rindu,dan cinta. 

“Rofik,kapan-kapan main ke Surabaya ya sama ayah. Ntar mampir ke rumahnya mbak Riza.”
“Rumahnya mbak Riza di mana?”
“Di depan rumah sakit Dr. Soetomo.”
“Rumah sakit Soe..?”
“Rumah sakit Soetomo,Fik”
“Oh iya ya mbak.”

Sambil menggenggam tanganya,aku pun berharap bisa bertemu lagi entah itu ketika ia telah dewasa nanti

Dan detik keberangkatan pun kian mendekat..

“Mbak tadi di mana rumahnya mbak?”
“Di depan Soetomo.”
“Soetomo ya mbak?”
“Iya Fik.”

Subhanallah,seakan ingin meneteskan air mata,ketika Rofik berupaya mengingat-ingat informasi yang telah kusampaikan. Tapi alhamdulillah kemelankolisan ini bisa kuredam,karena aku tidak mengingkan ada air mata dalam perpisahan ini. # ciyeeee…😀

***

Sahabatku,begitu lah sedikit ceritaku dengan seorang anak,yang pada awalnya aku merasa biasa saja . Hingga pada akhirnya aku menyadari satu hal,terkadang mungkin bagi kita keberadaan kita bagi orang lain adalah sesuatu yang biasa saja. Namun bagi mereka,belum tentu. Mungkin keberadaan kita  adalah anugerah terindah yang pernah mereka miliki😀

Oh ya,setibanya di Surabaya,aku baru saja membuka kado yang dihadiahi oleh Rofik.
Dan sahabat tahu,apa isinya?

20150208_125920

Terima kasih banyak celengan lukisnya Rofik.
Terima kasih telah memberikan mbak Riza begitu banyak pelajaran berharga,
salah satunya tentang arti Ketulusan dan Cinta