Bismillahirrahmanirrahim…

3 Januari 2015

Sore ini,saat terhanyut bersama power point usulan penelitian,tiba-tiba saja sebuah pesan menyusup masuk ke dalam ponselku

“Assalamualaikum… Maaf ustadzah mengganggu,saya orang tuanya Salsabila Putri Nur Laili,mau menanyakan mengajinya putri saya,gimana?”

Sekilas setelah membaca pesan tersebut,aku merasakan ada sesuatu yang berbeda. Sempat merasa bingung dan bertanya-tanya.

“ustadzah”. Jujur,begitu jarang sekali aku menemukan panggilan ini pada pesan yang hadir menghiasi ponsel . Sehingga ketika sekali melirik panggilan yang bertengger manis,ada rasa yang tak ku mengerti itu apa. #merasa tidak pantas🙂 Selain itu,karena hal ini juga kali pertamanya ada orang tua dari adik-adik ku di Al-kautsar yang mengirim pesan dan bertanya dengan redaksi kalimat seperti itu. #Apakah ada sesuatu yang terjadi ya? Beribu pertanyaan melesat silih berganti dalam ruang tanpa gravitasiku.

Tak ingin berlama-lama dengan prasangka,aku pun membalas pesan tersebut  Dan tidak beberapa lama kemudian,pesan ku berbalas. #Alhamdulilillah tidak ada sesuatu yang terjadi. Ternyata sahabat,ayahnya Salsabila (Bila) hanya ingin mengetahui perkembangan putrinya. Diskusi pun terjadi di antara kami melalui bahasa tulisan pada pesan. Hingga beberapa saat,tibalah sang ayah mengungkapkan satu hal,yang menurut ku inilah sebenarnya inti dari apa yang ingin beliau sampaikan. Ayah meminta satu permintaan padaku. Satu permintaan yang membuatku merasa terenyuh. Dan hampir saja bulir-bulir air mata menitik di atas keybord.

“Iya pak. Insyaallah,saya akan coba untuk berusaha … “

Diskusi malam itupun kututup  dengan sebuah janji akan permintaan sang ayah

***

4 Januari 2015

Membaca kembali rangkaian pesan yang dikirim oleh ayahnya Bila,aku jadi teringat dengan sebuah kisah yang ditulis oleh Ust. Budi Ashari dalam buku beliau yang subhanallah “Inspirasi dari Rumah Cahaya”,highly recommended untuk para guru dan orang tua,pada bagian 3 :”Melahirkan generasi pembuka Roma”.

Sahabat, mungkin tidak asing lagi ya dengan nama tokoh besar ini, Muhammad Al Fatih. Nama yang begitu melekat kuat pada sebuah sejarah peradaban Islam,yang telah dikabarkan jauh-jauh hari oleh Rasulullah,800 tahun silam

Abu Qubail berkata : Ketika kami bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash,dia ditanya : dua kota ini mana yang akan ditakhlukkan terlebih dahulu; Konstantinopel atau Roma? Abdullah bin Amr bin Ash meminta kotak miliknya,dia mengeluarkan dari dalamnya sebuah buku. Kemudian Abdullah berkata : Ketika kami sedang berada di sekeliling Rasulullah,kami menulis, Rasulullah ditanya : dua kota ini mana yang akan ditakhlukkan terlebih dahulu; Konstantinopel atau Roma? Rasulullah bersabda,Kota Heraklius yang akan ditakhlukkan terlebih dahulu,yaitu Konstantinopel
(HR. Ahmad)

bigpreview_Hagia Sophia, Istanbul, Turkey

Nah,kali ini aku tidak akan mengisahkan keseluruhan kisah pemuda sederhana lagi bersahaja, The Conqueror (sang Penakhluk). Namun sedikit mengutip beberapa bagian saja dari deretan kata yang dirangkai dengan manis oleh Ust. Budi. Berikut dituliskan oleh al-ustadz…

Selain dari 2 orang yang telah diceritakan yaitu Sultan Murad II (ayahanda Muhammad Al-Fatih) dan  Ahmad bin Ismail Al-Kurani (guru pertama Al-Fatih kecil),selanjutnya orang ketiga yang berperan sangat besar dalam kehidupan Muhammad Al-Fatih adalah Aq Syamsudin. Ia adalah seorang ulama sekaligus guru pendamping pada saat beliau diangkat menjadi sultan dan menundukkan benteng Konstantinopel. Dialah orang yang mengarahkan dan memompa semangat sekaligus keyakinan pada Muhammad Al-Fatih bahwa kelak dirinyalah yang akan menakhlukkan Konstantinopel.

Dari kecil,setiap selesai pelajaran, Aq Syamsudin selalu mengajak Al-Fatih untuk mengendarai kuda menuju selat Boshporus. Kuda keduanya terus berjalan masuk air. Hingga,ketika kuda sudah tidak berani lagi maju karena sudah terasa dalam,sang guru menunjuk benteng megah di seberang selat sambil membacakan janji Nabi SAW akan penakhlukkan benteng itu oleh generasi istimewa. Dan sang gurupun berkata,”Itulah bentengnya dan kamulah panglimanya!”

Singkat kisah saat hari penakhlukkan Konstantinopel. Di mana Al-Fatih telah mengerahkan segala kemampuan dan seluruh kekuatan. Gempuran dahsyat meluncur dari segala penjuru,darat,laut,dan udara. Namun benteng masih terlihat kokoh berdiri. Pertempuran dua kubu semakin sengit. Mengamati situasi yang ada,Aq Syamsudin memilih untuk berdiam di dalam tenda yang dijaga oleh pasukan.

Waktu terus berpacu,namun kondisi semakin tidak menentu. Segera Muhammad Al-Fatih pun mencari Sang guru.Bergegas ia menghampiri tenda itu. Alangkah kecewanya Al Fatih lantaran pengawal dan penjaga tenda Sang guru menahannya di ujung pintu. Mereka patuh dan taat pada pesan Sang Guru agar dirinya tidak diganggu. Mendapat perlakuan itu,Muhammad marah. Tanpa berpikir dua kali ia mengambil pisau yang terselip di jubahnya. Al Fatih pun menancapkan ujung pisau ke tenda dan merobeknya.

Dan tampaklah pemandangan di dalamnya. Aq Syamsudin sedang bersujud dengan sujud yang panjang. Berdo’a untuk kemenangan kaum muslimin. Melihat itu Muhammad menjadi tenang dan kembali kepasukannya.

Subhanallah sebuah kisah yang begitu menginspirasi,dibungkus kembali melalui goresan tangan al-ustadz dengan sangat cantiknya.

Dari guru yang dijuluki penakhluk spiritual Konstantinopel,Aq Syamsudin,kita menyaksikan dengan jelas tentang peran dahsyat seorang guru,sang pendidik sejati. Beliau yang mendidik,membangun visi agung,serta mengawal perjalanan anak didiknya. Subhanallah…

***

Selama ini,selama aku membersamai adik-adik di Al-kautsar,membaca kisah Muhammad Al-Fatih dan Sang guru,aku kembali merenungkan akan apa yang telah kuperbuat. Apakah selama ini aku mengajar hanya sekedar karena aku menyukainya atau sudahkah membangun visi agung pada diri adik-adik yang menjadi tujuan utamaku dalam mengajar?
Bagaimana denganmu?

***

Untuk sahabatku, para guru,dimana pun kalian berada🙂
Bagi seorang anak,mungkin saja kalian bukan hanya sekedar guru. Namun lebih dari itu. Kalian adalah temannya,kalian adalah sahabatnya. Dan mungkin juga,bagi mereka kalian adalah orangtuanya,kalian adalah ibunya,kalian ayahnya

Bagi orang tua,mungkin saja kalian adalah satu-satunya sosok yang bisa mengisi kekurangan mereka dalam mendidik anak-anaknya,yang memenuhi segala peran yang sempat terlupa. Mereka,orang tua,mempercayai kalian yang membersamai separuh waktu anak-anaknya. Mereka yakin kalian mampu membantu mereka untuk melahirkan generasi penakhluk Roma itu. Kalian sahabatku para guru,ustadz,usatdzah!

rome-about

Teruntuk Bila,
Semoga Bila membaca tulisan mbak Riza ya,nak🙂

Bila tahu,betapa ayah sangat menyayangi Bila? Sebagaimana ibu insyaAllah di sana juga menyayangi Bila. Begitu juga mbak Riza. Dan Bila,adikku,tahu kah engkau bahwa ayah begitu menginginkan pada suatu masa nanti,Allah mengizinkan Bila,ayah, dan ibu berjumpa kembali di jannahNya (syurga)?

Melalui sebuah pesan,beliau pernah menuliskan kepada mbak Riza,”Karena doa anak yang sholeh yang bisa membebaskan ibu dari siksa kubur.”🙂

Oleh sebab itu sayang,jadilah anak yang sholihah ya,yang selalu menjaga shalat 5 waktu dan mempercantik hati serta ruh dengan Al-qur’an.

– Titipan pesan rindu ayah untukmu,Salsabila🙂

“Carilah pendidik yang bukan saja berilmu tinggi,tapi juga berakhlak mulia. Karena seringkali  sesuatu yang tidak terucapkan,tetapi terajarkan.”

– masih dari buku “Inspirasi dari Rumah Cahaya”,semoga pesan ini menjadi pelecut bagi kita,para guru,ustadz,ustadzah agar selalu semangat dalam membangun sebuah mega proyek untuk kebangkitan Islam nanti ya🙂 Amin…