Bismillahirrahamnirrahim…

Kelembutan hati seorang lelaki akan terlihat ketika ia menemani istrinya bersalin. Itulah hasil pengamatanku dari beberapa kali praktek klinik🙂 Dan hari ini,apa yang pernah kupikirkan tetang kelembutan hati itu,menguap kembali

Sahabat ini adalah kisah istimewa jaga malam ku pada hari pertama praktek klinik di salah satu Rumah sakit di kota Gresik.

Jujur ya, praktek klinik merupakan satu hal yang paling tidak mengenakkan bagiku. Apalagi jika harus meninggal kontrakkan yang sudah seperti rumah sendiri bersama keluarga kecil,keluarga cemara😀 #Loh kenapa? Bukannya aku anti banget dengan yang namanya klinik. Sudah kadung jadi bidan ya,mesti suka lah ya. Tapi tidak begitu menikmati,senikmat mengajar teman-teman di Al-kautsar #tiba-tiba jadi kangen adik-adik ku😦 Nah,meskipun demikian ada satu bagian dari praktek yang amat ku senangi,yaitu berinteraksi dengan pasien,ibu-ibu post partum (setelah melahirkan) dan ibu yang akan partus (melahirkan). Berbincang dan mengamati bagaimana ibu dengan keluarganya adalah hal yang paling menarik bagiku. Dan kali ini,seorang ibu berusia 35 tahun yang  melahirkan anak kedua nya pukul 8 malam tadi dengan berat 3.720 gr menjadi sumber inspirasi ceritaku hari ini.

IMG_6983-1

Ketika memantau kondisi ibu yang baru saja melahirkan,akupun sedikit kepo #eh bukan kepo sih,tapi memang pengin tahu dan sudah seharusnya tahu kenapa si ibu bisa sampai di sini dan dengan diagnosa apa. Maklum sahabat,begitu berada di rumah sakit,ruang VK (ruang bersalin) telah penuh sesak oleh mahasiswa dan petugas kesehatan yang sibuk menangani si ibu,nah tapi aku sendiri belum tahu apa yang sedang terjadi. Mempertanyakan pada teman-teman sesama mahasiswa pun,mereka juga tidak mengetahui persis. Karena konon ketika si ibu masuk melalui IGD (instalasi gawat darurat),ibu langsung dibawa ke VK dengan status pasien yang masih beradi di IGD. Dan di VK,pembukaan lengkap,langsung lahir. Hmm.. Alhasil bertanya pada sumbernya langsung tentang kronologi peristiwa adalah pilihan yang paling tepat.

Setelah berbincang-bincang lama dengan si ibu,sampai-sampai kelupaan untuk membaca hasil temperature yang sudah sedari tadi😀 ,ternyata ibu di rujuk dari rumah sakit lain dengan alasan suami menolak untuk dilakukannya operasi pada ibu.

“Kata dokter yang di sana,taksiran berat bayi saya besar mbak terus ari-arinya juga di bawah . Jadi harus dioperasi. Tapi suami saya menolak untuk dilakukannya operasi.”
“Loh,kenapa suami ibu menolak operasi?”
“Ya… Suami saya penginnya lahir normal saja.”
“Hmm.. Apa suami ibu pernah dengar dari orang-orang kalau operasi itu gimana-gimana,jadinya seperti itu?”
“Iya mbak. Suami saya takut kalau dioperasi,sayanya gimana-gimana. Jadinya ia tetap ndak mau kalau saya dioperasi. Alhamdulillah dirujuk ke sini bisa lahir normal.”

Terlepas dari benar atau tidaknya tindakan suami si ibu yang menolak untuk dilakukannya operasi,ada satu hal yang begitu membuatku merasa gimanaa gitu.. “Suami saya takut,sayanya nanti gimana-gimana.” Entahlah sahabat,aku begitu terkesima mendengar penuturan si ibu tentang suaminya ini. Dan tiba-tiba saja aku teringat dengan Papa ku sendiri ketika mama melahirkan adik ku yang kedua,Widya. Ketika itu papa yang berdua saja dengan mama di rumah bersalin,tiba-tiba dengan begitu cemasnya beliau memanggil nenek ku yang ketika itu bersama ku dan Dian,adik ku di rumah mak dang (paman) dan mengabarkan bahwa mamaku sekarang sedang di infus dan memakai selang oksigen. Yang hari ini ku ketahui bahwa mamaku ketika itu di induksi oksitosin (dipercepat proses kelahirannya disebabkan oleh beberapa indikasi). Masih jelas dalam ingatanku raut kecemasan yang terlihat di wajah papa ketika itu. Subhanallah… inilah kelembutan hati seorang lelaki yang pertama.

Next,beberapa menit kemudian si suami pun datang dan dengan polosnya si bapak bertanya,

”Mbak ini istri saya sudah boleh makan? Sudah boleh diberi minum? Apa ada pantangannya?”
“Ndak ada pantangan pak. Silahkan ibu boleh makan seperti biasa.”

Kemudian si bapak pun meluncur beberapa detik setelah jawaban dari atas pertanyaannya ku jawab. Dan Subhanallah… Kelembutan hati itu pun kiat terlihat ketika si bapak mulai menyuapi si ibu. #Wah mesti kabur nih dalam batinku. Si bapak dan ibu seperti pengantin anyar (baru) saja,padahal sudah hampir 7 tahun menikah loh. Keberadaanku mesti disingkirkan dari sana. Hahaha… Aku pun tersenyum menikmati pemandangan tersebut.

arabic-faith-flower-heart-Favim.com-1557615
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku”
(HR At-Thirmidzi)

Bagi sahabat yang pernah membaca tulisan ku beberapa tahun silam,rasanya aku juga pernah menuliskan bagaimana seorang suami yang ketika melihat istrinya kesakitan saat proses persalinan,tak kuasa menumpahkan air mata ya.  Dibalik keras dan tegasnya seorang lelaki tersimpan kelembutan yang begitu luar biasa dahsyatnya.🙂

***

Subhanallah,itulah cerita yang bisa kubagiakan sahabat.
Semoga malam ini, cerita istimewa itu hadir lagi ya..🙂

Beginilah caraku menikmati praktek klinik. Bagaimana dengan mu?
Finished at 5.00 pm,detik dan menit menunggu jaga malam selanjutnya🙂