Bismillahirrahmanirrahim…

Jika ada satu anak lelaki yang begitu perhatiannya padaku,maka tentu Rangga yang akan kusebut pertama kali

Jika ada satu anak lelaki yang begitu penurutnya padaku,maka tentu Rangga yang akan kusebut pertama kali

Jika ada satu anak lelaki yang begitu bersemangatnya membaca al-quran,maka tentu Rangga yang akan kusebut pertama kali

Jika ada satu anak lelaki yang begitu berani untuk bercerita,maka tentu Rangga yang akan kusebut pertama kali

dan jika ada satu anak lelaki yang pernah merasa marah dan tersakiti olehku,maka tentulah Rangga yang akan kusebut pertama kali.

Rexy Ranggalawe

Dia adalah seorang kakak yang selalu menemani adiknya,Rama,saat pertama kali di Al-kautsar. #Rama yang tidak mau ditinggal oleh mas nya ketika itu.

Sahabat,ketika dirimu mungkin bertanya bagaimana kisah awal perjumpaanku dengan Rangga,maka jujur kukatakan,ini adalah pertanyaan yang tersulit bagiku. Kenapa? Karena aku tidak begitu mengingatnya,maklum sudah tua,hihi… Dan karena… Kita cenderung akan mengingat dua hal,yaitu hal yang paling berkesan atau hal yang paling tidak beresan. Jadi,bisa disimpulkan bagaimana kisah perjumpaan itu?😀 Biasa saja. Namun kini,tak terasa persahabatan di antara kami tiba-tiba saja kian begitu eratnya,seperti amplop dan perangko.😀

“Mbak Riza,”
pesan yang bergelayut mesra pada salah satu sosmed

Ceritanya dua hari terakhir sebelum aku meminta izin untuk libur mengajar di Al-kautsar, aku,Rangga,dan Annas saling bertukar nomor ponsel. Awalnya kumaksudkan agar nanti selama praktek,jika aku rindu mereka,aku bisa mengirimkan paket rindu itu melalui alat telekomunikasi. Nah tapi ternyata,belum aja aku memulai praktek,wah…Rindu nya bukan main. Dan sahabat tahu, tenyata apa yang kurasakan juga menjalar pada jiwa salah seorang anak,yang meskipun ia tidak pernah mengutarakan rindu padaku,tapi aku yakin dia rindu. Iya kan Ngga? Jujur.. Rangga kangen mbak Riza kan? 😀 Hahaha… #Ah kePD an Za! Tapi beneran loh. Ini buktinyaaa…

image2

Alhamdulillah,aku tidak sendiri lagi ketika menikmati suara santri pondok pesantren di sebelah kontrakkan. Sudah ditemani oleh seseorang yang amat ku sayangi,namanya Rangga. Kehadiran Rangga dua malam ini,melaui pesan-pesan indahnya pada sosmed, membuat hatiku terasa nelangsa sekali. Perhatiannya yang tiada tara. Biasanya ba’da ngajar di rumahnya mbak Nesa,mbak Ija,dan mas Zaki, ada sebuah pesan cinta dari si kakak yang sedang berada di Baitulloh. Namun sekarang,peran itu digantikan oleh Rangga.

“Lagi sibuk ya mbak?”
begitulah tanyanya ketika lama sekali baru bisa ku me-reply

Rangga,
Dua hari membersamai jiwanya,begitu banyak cerita tasbih cinta yang terukir. Rangga yang bercerita tentang ujiannya,tentang yang katanya tidur jam 11 malam,tentang film horror yang ditontonnya # wuih… Dan di sini ada hal yang menarik sahabat,ketika ku bertanya padanya,masih tentang film horor

“Ih.. ndak takut ngga nonton film horror?”
“Endak la mbak. Jan kalok takut sama hantu berarti berani sama Allah. Tapi kalok berani sama hantu takut sama Allah.”
Subhanallah.. jawaban yang di luar dugaan ku🙂

Ada lagi,Rangga yang begitu polosnya bertanya ketika  ku ajak untuk ikut pergi menemaniku praktek

“Bisa ta mbak?”
“Bisa masuk tas.” 😀

Kemudian,Rangga yang begitu kepengin baca tulisan di blog ini. Sampai-sampai aku disuguhkan dengan sebuah pertanyaan yang menjadi bahan bagi ku untuk menggodanya,hahaha😀

“Mbak Riza mau nulis tentang siapa?”

Ketika itu aku meminta saran darinya,sebagai serangan awal,hihi😀 Dan setelah melalui beberapa percakapan,Rangga mengusulkan satu nama. #Rahasia ya ngga siapa namanya ya?😀 Ternyata ia pengin tahu tentang salah seorang temannya di kelas. Meskipun sudah sering ketemu,tapi Rangga belum terlalu kenal dengan teman yang ia sebutkan itu -_- ckckck. Langsung deh ku garapin ni anak😀 hahaha… #becanda. Hingga akhirnya,ketika aku menolak untuk menuliskan tentang temannya tersebut,ia penasaran dan mengancam tidak akan tidur sebelum aku menyebutkan tentang siapa sebenarnya ingin kutuliskan kali ini.

“Rexy Ranggalawe. Kenal ngga?”
“Itu kan nama saya mbak. Berarti mbak Riza mau nulis tentang saya.”
“Oh itu nama Rangga ya? Hahaha..”

Begitulah Rangga,
seorang anak yang dengan kepolosannya bertanya
kenapa aku bisa rindu padanya,kenapa aku bisa menyayanginya…

rainbows

Rangga,adik ku
Terima kasih ya…

Sahabat,terkadang kita hanya memiliki sedikit waktu untuk membersamai jiwa-jiwa yang lembut itu dibalik keurgensian yang begitu tinggi.

So,ketika jemari ini tak bisa menyentuh hati dan pemikiran mereka secara langsung,apa yang bisa kita lakukan?

Doa.
Titipkan jiwa mereka pada sang penggenggam jiwa dalam doa mu🙂