Bismillahirrahmanirrahim

Sebelum sahabat membaca tulisanku kali ini lebih lanjut,
aku mohon maaf ya jika alur penulisannya tabrak-tabrakan.
Alias tidak jelas dan membuat bingung. #sengaja😀😀

27 November 2014
 ***

“Mbak,kemarin ada guru baru!”
“Oh ya? Ngajar di kelas kita?”
“Iya… Kemarin mbak itu yang gantiin mbak Riza ngajar.”
“Oo…Nama mbak nya siapa?”
“Mbak Dian.”

Setelah seharian kemarin aku berhalangan hadir di Al-kautsar,ternyata kami kedatangan satu lagi anggota keluarga baru. Dan persis beberapa saat saja setelah kami “membicarakan” beliau #dalam artian postif ya 🙂 sosok calon dokter itu pun hadir dengan senyuman manis memasuki Al-kautsar

“Oh.. jadi ini yang namanya mbak Dian?”
“Iya mbak!!!”
“Hmm.. Teman-teman bagaimana kalau kita kenalan sama mbak Dian dulu aja ya?
setuju?”
“Setuju…”
“Sudah pada kenal belum dengan mbak Dian?”
“Sudah…”
“Kalau udah,Mbak Riza mau nanya. Mbak Dian itu rumahnya di mana?
Hobi nya apa? Kuliahnya jurusan apa? Makanan favortinya apa? Hayooo… “

Wah,langsung deh ketika itu kelas menjadi heboh dengan tebak-tebakan teman-teman tentang pertanyaan yang kuajukan seputar mbak Dian. Dan lucunya ya ketika teman-teman menebak makanan favorit mbak Dian,dengan polosnya mereka menjawab “Semua yang bisa di makan mbak!”😀😀 #bener-bener deh -_-  Lebih kurang 15 menit,kami meluangkan waktu untuk mengenal lebih jauh sosok yang baru saja hadir di tengah-tengah keluarga kecil ini.

Selamat datang mbak Dian🙂

***

Sahabat,pernah kah kalian merasakan suatu kondisi di mana ketika kita sudah begitu nyaman dengan atmosfir cinta yang tiada henti-hentinya mengelilingi, tiba-tiba pada sekali waktu mau tidak mau kita harus membagi atmosfir tersebut?

Nah,inilah yang kurasakan hari ini. Berbagi cinta yang telah diberikan oleh teman-teman dengan seseorang yang baru saja hadir dalam kehidupan mereka. Sahabat tahu,membagi cinta adalah hal yang amat berat bagiku. Kenapa? Karena ketika aku telah mendapatkan cinta, aku selalu merasa bahwa rasa itu hanyalah untuk aku seorang. Kalau bahasa kerennya ya posesif😀  Namun hari ini,keposesifan ku itu benar-benar dipertanyakan. Apakah aku ingin menguatkan ikatannya atau justru berusaha melonggarkan ikatan tersebut?

air-love-love-is-in-the-air-Favim.com-321885

We are Family (lagi-lagi terinspirasi dari film ini),ketika Kajol terbaring lemah di rumah sakit ditemani oleh Kareena😀 Sebelum Kajol dilarikan ke rumah sakit akibat mendadak pingsan,ada suatu peristiwa hebat  yang terjadi antara mereka berdua. Dikisahkan dalam film tersebut bahwa ketika anak-anak telah mulai mencintai Kareena,Kajol merasa begitu amat cemburu. Ia merasa cinta anak-anaknya telah direbut oleh Kareena. Sehingga terjadilah pertengkaran hebat antara mereka berdua yang pada akhirnya membuat Kareena merasa lelah melakukan ini semua.

Apa yang dialami oleh Kajol persis sama seperti yang ku alami pada saat ini. Masa-masa perkenalan dengan mbak Dian menjadi sesuatu yang membahagiakan bagi teman-teman. Mereka bahagia dengan hadirnya guru baru. Lantas,sahabat bisa tebak apa yang ku lakukan? Aku yang begitu posesifnya kata mbak Tika,hahaha

Ketika itu ku pejamkan mata sesaat,
Ya Rabb,angkatlah penyakit hati ini. Izinkan aku untuk belajar berbagi cinta karena Mu

“Teman-teman,sekarang kan sudah ada mbak Dian. Jadi ngajinya sama mbak Dian ya?”
“Loh trus mbak Riza ke mana?” teman-teman melemparkan pandangan keheranan

Ketika ku tatap wajah-wajah yang penuh tanya itu,rasanya semakin sesak dada ini. Aku hanya mampu terdiam,hingga akhirnya…

“Mbak Riza ndak ke mana-mana😀
Nah,sekarang sebagian ada yang ngaji sama mbak Riza ya. Dan sebagian lagi sama mbak Dian.”
“Aku ngaji sama mbak Riza!”seru Rangga
“Kalau gitu,aku sama mbak Dian aja!” timpal Anisa tak mau kalah

Kenapa mereka harus memilih di antara kita,
Ketika mereka bisa mencintai kita berdua?

Setelah kelas berakhir,aku dan mbak Dian pun terlibat dalam obrolan singkat tentang bagaimana proses pembelajaran di Al-kautsar. Dan di penghujung perbincangan…

“Mbak,aku takut ndak bisa gantiin mbak.”
“Ndak papa,mbak Dian pasti bisa. Mereka anak baik semua.”
“Iya,tapi aku belum bisa seperti mbak.”
“Mbak Dian,mengajarlah senyamannya mbak. Sebisanya mbak ya. Anak-anak tuh sudah mulai suka sama mbak Dian🙂 ”

***

Hari ini,ketika ku bertemu dengan sosok mbak Dian,alhamdulillah tak ada lagi kekhawatiran ku untuk meninggalkan adik-adik beberapa minggu untuk praktek. InsyaAllah pertemuan pertama yang begitu mengesankan ini akan meberikan kesan-kesan yang lebih luar biasa kedepannya ya🙂 . Amin…

Untuk mbak Dian,
sebuah kalimat yang persis sama disampaikan oleh Kajol kepada Kareena #berasa jadi pemeran Kajol di film aja,hihi.. Eits,sahabat jangan berpikir yang enggak-enggak ya -_-

Aku memiliki mereka kemarin,
dan kau memiliki mereka hari esok

love_and_smile_by_gilang2007-d5or0gu
Alhamdulillah,satu ujian berbagi cinta telah ku lewati dan ikatan keposesifanku pun telah melonggar😀 Berbicara tentang keposesifan,sedikit melenceng dari apa yang telah kutuliskan,sebagai penutup aku tergoda untuk berpikir tentang sebuah pesan dari mbak Tika

“Za,suatu saat ketika Iza berumah tangga. Iza akan memiliki suami yang mana ia bukan hanya milik Iza saja sebagai istrinya. Ia memiliki ibu dan ayah yang tentu baktinya pada mereka tak akan pernah berhenti hingga akhir hayat. Ia juga memiliki saudara,kakak dan adik. Maka Iza harus belajar dari sekarang. Apalagi jika suatu hari nanti suami Iza adalah seorang pengemban dakwah. Maka dirinya adalah milik umat Za.”

Alhamdulillah,deep thinking…