Rangga,inikah arti dari mencinta?
yang dalam marah dan bencimu tetap ada rindu…

Sudah hampir memasuki 3 bulan aku bersama dengan teman-teman kelas besar. Selama itu pula aku berusaha merajut cinta dengan mereka. Nah,dalam tempo waktu tersebut,tak semua cinta bisa terikat secara bersamaan. Ada yang hanya membutuhkan sekali kedipan mata. Namun ada juga yang membutuhkan begitu banyak ruang waktu agar ia bisa tersentuh. Dan kali ini aku ingin berbagi tentang cerita cintaku bersama Rangga. Jangan suudzon dulu,masih kelas 5 SD kok -_-

images

Kadang bahasa cinta itu terselip di antara panasnya amarah

Sahabat,mungkin ada yang bertanya kenapa di awal aku menuliskan “dalam marah dan bencimu tetap ada rindu” ? Jawabannya… Karena begitulah awal kami menyadari cinta yang tumbuh. Bagi sahabat yang telah sempat membaca tulisan ku sebelumnya,mungkin bisa menangkap bahasa cinta yang sangat halus itu ketika terjadi dialog antara aku dan Rangga

“Apakah Rangga merasa tersakiti dan marah?”
Dengan jawaban yang berbeda dari 2 temannya, “Iya mbak sedikit.”

Bahasa cinta itu pun kini tak lagi malu menampakkan dirinya,
seperti pada tulisan berikut ini

Yang saya rasakan selama 2 bulan setengah ini saat diajari mbak Riza adalah mbak Riza itu baik,tidak pemarah dan suka menasehati anak yang tidak berbuat/yang tidak menaati peraturan kelas mbak Riza. Tapi kata anak laki-laki,katanya mbak Riza itu pemarah dan suka mengusir anak yang tidak menaati peraturan mbak Riza. Tetapi kata saya mbak Riza bukan pemarah tetapi mbak Riza itu menasehati …

Masih ada kelanjutannya,tapi malu untuk dituliskan😀
Cukup menjadi rahasia kita berdua saja ya ngga,hihi

Bahasa cinta itu pun hadir dalam lisannya…

Beberapa hari yang lalu,setelah sempat terjadi tragedi (lagi) aku meminta teman-teman untuk menuliskan sejujurnya dengan siapa mereka ingin belajar. Pada saat itu aku masih ingat sekali,kelas menjadi sesak oleh ribuan pertanyaan yang tak bersayap

“Mbak Riza ndak ngajar lagi ya?”
“Mbak Riza mau pindah ya?”

Aku hanya tersenyum mendengar celotehan mereka yang penuh tanda tanya. Hingga pada akhirnya akibat pancingan kalimat dari Rangga,

“Kita ndak usah mulih(pulang) dulu. Kita di sini aja sampai magrib.” seru Rangga

“Baiklah… Mbak Riza ndak pindah. Mbak Riza masih ngajar kok. Tapi,mbak Riza beberapa bulan ke depan mau praktek di rumah sakit. Sehingga kemungkinan besar ndak bisa ngajar teman-teman,kalau mbak dapat tempat praktek jauh dari Surabaya. Kenapa mbak Riza menanyakan dengan siapa kalian ingin belajar,agar nanti ketika mbak Riza ndak masuk beliau bisa menggantikan.”

Dan Rangga pun membalas penjelasanku,
“Kalau gitu kita ngaji di tempat mbak Riza praktek aja. Atau kita juga ikut libur,hahaha.“

“Rangga…Teman-teman,ada maupun ndak ada mbak Riza,kalian harus tetap ngaji. Teman-teman belajar ngaji bukan buat mbak Riza,tapi buat diri kalian sendiri. Kalian ngaji karena Allah. Jadi siapa pun gurunya,teman-teman harus semangat!”

Dan terakhir bahasa cinta itu hadir melalui perbuatannya

Kadang bahasa cinta yang satu ini tak mudah untuk dideteksi. Meskipun tampak secara lahir,aku saja baru menyadarinya akhir-akhir ini🙂 Saat ia selalu bersemangat ketika diminta untuk menulis. Satu ciri khas dari Rangga ketika akan menulis “Mbak judulnya apa?” Kata-kata ini tidak pernah absen dari lisannya. Belum lagi ketika aku meminta teman-teman untuk bercerita secara langsung,Rangga akan tampil menjadi pahlawan dari sayap putra yang malu-malu mau😀

Rexy Ranggalawe (Rangga)

Begitu banyak bahasa cinta yang bermekaran dalam setiap perbuatannya. Yang selalu mengambil posisi duduk di samping kananku,selalu siap ketika diminta tolong apa saja,selalu bersemangat untuk ngaji yang pertama,dan satu hal yang paling mengejutkan,yaitu ketika aku ingin memeluknya karena saking kangennya. Dengan sedikit penolakan namun bahasa cintanya mengizinkan. Ini bukan modus ya sahabat -_-

Blueberry-Heart

Begitulah Rangga dengan Bahasa Cinta nya
sepertinya harus banyak belajar tentang Bahasa Cinta dari Rangga🙂