Bismillahirrahmanirrahim…

Hari ini,masih dengan seragam putih-putih (baju putih dan rok putih),akibat kebagian praktek di puskesmas ,tepat pukul 16.15 aku meluncur menuju Al kautsar. Ngomong-ngomong tentang seragam putih-putih,bukan karena tidak sempat mampir ke kontrakkan untuk ganti,namun karena sudah kadung seharian dipakai,yasudah sekalian saja buat ngajar. Kasihan nanti cuciannya banyak. Intinya males cuci.😀 #nggak penting banget -_-. Next…Kegiatan dengan teman-teman sebagaimana biasanya,tidak begitu maksimal karena lagi-lagi lupa bikin lesson plan. Hal ini disebabkan karena berhubung dalam suasana praktek komunitas di kampus, skripsi yang belum selesai,ditambah lagi dengan keadaan jiwa yang sempat diterjang gempa tektovulkanik beberapa hari ini. #kebanyakan alasan ya? Intinya itu males! Kabuuuur ah,nanti dijitak mbak tika😀😀 Namun,setidaknya insyaAllah sedikit ilmu tanpa perencanaan ini bisa bermanfaat bagi teman-teman🙂 Tentunya yang dengan perencanaan akan jauh lebih baik ya sahabat🙂

Nah inti dari apa yang ingin kubagikan pada sahabat kali ini sebenarnya adalah tentang apa yang kudapatkan dari obrolan singkat bersama Bila di penghujung proses belajar. Ketika itu hanya ada aku dan Bila,sebelum nantinya juga hadir Ayu.

“Bila,mbak Riza boleh nanya sesuatu ndak?”
“Apa mbak?”
“Tapi mbak Riza minta maaf ya,kalau apa yang mbak tanyakan ini menyakiti hati Bila.”
“Iya mbak.”
“Hmm.. Bila kangen sama ibu?”
“Kangen mbak.”
“Kalau Bila kangen ibu,apa Bila nangis?”
“Ndak mbak.”
“Trus Bila ngapain kalau kangen sama ibu?”
“Aku do’a kan ibu mbak.”
🙂 Alhamdulillah…

Dan beberapa saat kemudian,tiba-tiba saja Bila menceritakan tentang seorang anak yang ternyata selama ini juga mengalami hal yang hampir persis sama seperti Bila. Sahabat yang belum pernah mendengar kisah tentang Bila,silahkan baca tulisan ku “Cerita Bila tentang Ibunda” #promosi. Mendengar Bila menyebutkan nama sosok tersebut,aku begitu kaget tidak percaya. Jujur sahabat,dia sudah lama ku kenal dengan polahnya dalam tanda kutip “istimewa”,berbeda dari teman-temannya. Yang terkadang keistimewaan tersebut  juga membuatku sering bertanya-tanya : Ada apa denganmu? Bagaimana keseharianmu dengan orang tua dan kakak-adikmu? Apakah polah mu juga sama seperti ini?  Sebuah pemikiran yang sempat beberapa kali terlintas namun sungguh sangat kusesalkan. Kenapa pikiran tersebut sempat tersimpan rapi dalam tiap lapisan file otakku ya? Dan hari ini,akupun menemukan jawaban atas ke”istimewaan” polah nya.

the_flower_flying_by_m3los93-d65wqx7

Sahabat,pernahkah kalian menonton sebuah film yang berjudul We are Family? Film garapan sutradara dari tanah Hindustan-India,jauh dari kisah percintaan yang tidak jelas,berkisah tentang romansa cinta dalam sebuah keluarga. Bagi sahabat yang sudah pernah nonton atau bahkan mungkin menontonnya berkali-kali seperti diriku😀 pastinya sedikit banyak ada lah pelajaran yang bisa kita jadikan sebuah renungan,kan? Nah,kembali lagi pada sosok yang diceritakan oleh Bila. Ketika Bila menceritakan tentangnya,tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengajakku mengingat potongan scene We are Family.

Pada suatu pagi,Kajol (pemeran ibu dari 3 orang anak yang sedang menderita kanker serviks) begitu memuncak kemarahannya pada Kareena (wanita karir yang akan menjadi calon ibu dari anak-anaknya Kajol,yang diminta Kajol sendiri untuk tinggal bersamanya sebagai latihan pra menjadi ibu,sebelum Kajol meninggal akibat kanker yang dideritanya). Kesalahan Kareena akibat lupa mengingat bahwa Anjeli (anak bungsunya Kajol) tidak boleh memakan sesuatu yang berbau kacang karena bisa berakibat Anjeli tak akan bisa bernafas,membuat Kajol memuntahkan kata-kata yang begitu menyakitkan bagi Kareena

Kajol : “Bagaimana bisa lupa? Kapan kau akan belajar mengurus anak?”
Kareena : “Hentikan! Kau bersikap seakan kau tak bercela. Kau pun tak ahli menjadi ibu dalam sekejap. Kau pasti perlu waktu untuk belajar.”
Kajol : “Ya memang tapi tak selama dirimu. Apakah kau tak belajar apa-apa dari ibu mu?”
Kareena : “Tidak! Tidak! Umurku baru 6 bulan saat ibuku meninggal dunia.”

Maaf jika jadi ngelantur ke mana-mana. Namun insyaAllah ini bisa dikaitkan ya🙂. Kalau tidak bisa? Yaa dikait-kaitkan saja,hihi…

Sahabat,mungkin selama ini saat kita menemukan seorang anak yang begitu “nakalnya selangit” menurut kita,secara tidak sengaja mungkin pernah terucap dari bibir sebuah kalimat yang sangat menyakitkan. Apalagi jika terdengar atau diucapkan langsung pada anak tersebut. Maaf,kira-kira seperti ini

“Apa di rumah tidak pernah diajarkan oleh orang tuanya ya? Kok sampai segini susahnya?”

Kadang kita terlalu cepat menjudge sebelum kita tahu bagaimana sesungguhnya cerita kehidupan seorang anak. Mungkin saja karena ia terlahir dengan kondisi yang berbeda,itu pula lah yang membuatnya bertingkah berbeda dari teman-teman yang memiliki kisah lebih indah. Jangan pernah sekali-kali pikiran,hati,dan lisan kita,mengucapkan perkataan seperti itu ya pada mereka🙂

Sahabatku,tugas kita bukanlah membuat mereka semakin tersesat dalam polah istimewa yang tiada henti. Namun seharusnya kita ambil porsinya di sini. Kita isi kekosongan yang belum pernah mereka dapatkan. Dengan harapan,semoga apa yang kita lakukan, perlahan akan menipiskan polah istimewa tersebut dan membuatnya lebih bersinar dengan keistimewaan sesungguhnya🙂

small-pink-flowers-20965-400x250

Alhamdulillah,
Semoga sahabat bisa memahami apa yang kumaksud dengan keterbatasan menuangkan apa yang sebenarnya hendak disampaikan oleh tata surya otak ini ya🙂

26 November 2014
12.19 am