Bismillahirrahmanirrahim

8 November 2014

Hari ini adalah minggu ketiga dari serangkaian acara yang diadakan oleh Madrasah yang bekerja sama dengan Pondok Pesantren yang berada di depan kontrakkan ku. Setelah dua minggu sebelumnya,pihak penyelenggara telah mengadakan perlombaan tartil dan adzan yang juga diikuti oleh adik-adik ku (maaf ya sahabat,cerita adik-adik yang ikut tartil dan adzan belum juga sempat di post😀 ). Nah kali ini,tibalah saatnya pada perlombaan yang terakhir,yaitu Hadarah Al-Banjariyyah. Apa itu hadarah Al-Banjariyyah? Aku juga tidak begitu paham,karena sama sekali belum pernah lihat bahkan baru saja dengar. Karena di daerah asalku,Bukittinggi,Sumbar tidak pernah ada sepertinya🙂 Silahkan sahabat lihat dulu foto di bawah ini. Semoga bisa menjadi petunjuk…

20141108_192113

Ternyata Hadarah Al-banjariyyah itu semacam pertunjukkan rebana dengan beberapa orang melantunkan yang bisa disebut nasyid namun berbahasa arab. Hmm.. Untuk perlombaan kali ini,TPQ Al-kautsar tidak turut serta sahabat,karena memang kita tidak memiliki program tersebut dalam kurikulum.

Nah ceritanya,malam ini mbak Fatim begitu ingin sekali melihat penampilan adik-adik dari TPQ/Ponpes/MI/Sekolah lainnya yang mengikuti perlombaan Hadarah Al-banjariyyah. Tidak ingin mengecewakan mbak Fatim,dan di sisi lain sebenarnya akupun juga penasaran untuk melihat gimana sih perlombaannya,akhirnya aku,mbak Fatim,dan Eci pun pergi ke TKP yang hanya berjarak beberapa meter dari kontrakkan. Sahabat,di sana ternyata tidak hanya dipenuhi oleh peserta lomba saja. Namun juga ada masayarakat setempat dan santri-santri dari pondok. Dan tak terkecuali dua makhluk lucu ini yang kemudian ku ketahui bernama Rizki (baju ungu) dan Fadil (baju hijau).

20141108_203622Kehadiran mereka berdua pun membuatku betah berlama-lama di tempat perlombaan. Niat awal yang tadinya ingin melihat perlombaan,jadi teralihkan. Tingkah kalian berdua,mengalihkan dunia ku… :D Sepertinya sudah saatnya… Sudah saatnya?

Kembali lagi pada perlombaan. Begitu banyaknya santri yang mengikuti perlombaan ini,tiba-tiba saja pikiran ku berkelana entah ke mana-mana.

Subhanallah,seharusnya kita umat Islam tidak perlu khawatir tentang bagaimana Islam pada masa yang akan datang,jika ketika hari ini  begitu banyak benih para pejuang Islam yang telah mulai dibina,baik itu melalui madrasah,pondok pesantren,atau sekolah-sekolah Islam.

Namun dengan begitu banyaknya,satu kekhawatiran muncul dalam benakku.
Memang benar jumlah mereka banyak,namun apakah mereka benar-benar memahami Islam? Atau apakah itu hanya sebatas hafalan yang sering mereka ulang-ulang? Sebatas pembeoan mereka terhadap apa yang disampaikan oleh ustadz-ustadzah di depan kelas,tanpa mereka paham sedikit pun?

Begitulah yang kupikirkan sahabat. Hingga kembali pulang,pertanyaan-pertanyaan tersebut masih mengikutiku.

Teringat aku akan  ucapan salah seorang ustadz,yang jika aku tidak keliru beliau pernah mengutarakan seperti ini …

Pada suatu hari nanti,akan tiba saatnya umat Islam akan tumbuh semakin banyak dan semakin banyak. Namun sayangnya,jumlah tersebut hanya seperti buih di lautan.

Sahabat itulah yang ku khawatirkan.
laksana buih di lautan,
Naudzubillah…