Cinta adalah gerak tanpa henti,
yang mengantarkan sang pecinta kepada yang dicinta
– Ust. Reza

Anak-anak itu unik. Dan bagaimana cara mereka mencintai serta mengekspresikan cinta pun juga unik.

Seperti halnya yang terjadi pada beberapa adik-adikku…

20141029_211228

Pertama sebut dia Kiki atau yang akrab ku sapa dengan sapaan sayang “Iki.” Ceritanya setiap kali kita berjumpa,entah itu beberapa saat akan masuk kelas atau pulang,rasanya tidak lengkap hidup seorang Iki jika sehari saja tidak memukul atau menjahili ku. Seperti hari ini dan hari-hari biasanya,ketika sedang ngobrol dengan adik-adik lain,tiba-tiba saja di daerah belakang tubuhku ada sesuatu yang membuatnya terasa agak nyeri. -_- #Ini tersangkanya tidak lain dan tidak bukan mesti salah satu dari yang  3. Kalau tidak Kiki,ya Angga,atau Dafa. Dan tebakkan ku benar,pelakunya adalah Iki. Sebelumnya sahabat,kuperkenalkan 2 adik yang ku sebutkan di atas,Angga dan Dafa,mereka juga kadang melakukan hal yang sama. Yang menarik kerudunglah,menarik bajulah,dan kadang juga ada yang sampai naik ke punggung. #Fiuh..Teman-teman tidak tahu ya betapa keroposnya tulang mbak. Pegel nak!😦 Namun,intensitas yang mereka lakukan tidak sebegitu sering,sesering Iki. Kembali lagi pada bagian belakang ku yang terasa agak nyeri. Ketika ku tangkap wajah yang telah melakukan hal tersebut sepenuhnya,aku pun dengan sedikit berteriak,langsung lari mengejarnya. “ikiiiiii……!!!” Dan tertangkap juga,haha😀

“Iki tahu gunanya tangan ini buat apa?”
“Buat pegang mbak!” dengan wajah polos tanpa dosa
“Iya buat pegang,Ki. Bukan buat mukul ya..”
“Yaaa mbak.” masih dengan wajah polosnya -_-

Begitulah Iki, yang sejauh pengamatanku tidak pernah melakukan hal yang serupa kecuali padaku saja. Mungkin begini ya caranya Iki meluapkan rasa sayang dan cintanya? #Hmm.. Tapi jangan tiap hari juga ya,Ki! Lama-lama nanti tulang-tulang mbak Riza bisa rontok semua. -_-

Lain Iki,lain lagi dengan Ervan dan Rasya. Kita cerita tentang Ervan dulu ya..
Nah,Ervan ini pengekspresian cintanya jauh lebih romantis sahabat,hihi.. Kenapa? Karena dia lah satu-satunya adik yang selalu mengantarku selama seminggu hingga di depan kontrakan dengan sepeda kecilnya #akunya sih tetap jalan -_-. Dan tahukah sahabat,pada saat aku akan memasuki gerbang kontrakan ku,satu hal yang selalu ia lakukan,yaitu menunggu untuk salim dan mengucapkan,”Mbak pulang dulu ya,Assalamualaikum!” #Ya,ampun.. Kapan ya bisa di antar suami,haha.. Ah,hari ini di antar Ervan dulu aja yang masih kelas 1 SD😀

Next,kalau Rasya,my first love,jauh jauh jauuuuh lebih romantis dengan kepasrahannya,haha. Seperti hari ini,setelah patroli sebelum pulang di lantai bawah,ia pun mampir ke kelas atas,termasuk kelas ku. Entah kenapa ya,setiap kali melihat Rasya,aku serasa melihat adik kandung sendiri,Fahrul. Mungkin ini maksud dari apa yang pernah dituliskan oleh mbak Tika,”Mereka  lahir dari hati kita,meski bukan dari rahim ibu yang sama.” Sehingga,kadang aku tidak merasa segan untuk meminta sesuatu padanya,“Sya,mbak Riza pengen cium Rasya.”  :D Dan dengan kepasrahannya yang luar biasa, iya menyodorkan pipinya. Tidak seperti Iki yang mesti kabur. Haha… itulah Rasya.

Selain itu,ada juga cerita pengekspresian cinta yang unik dari teman-teman putri. Firstly,namanya Dinda,si cantik yang selalu ku rindu. Sebelumnya,ada sebuat surat dari Dinda yang kadang ketika galau-galaunya,membuat hati semakin nelangsa,haha

20140925_0841061

Sahabat,keunikan pengekspresian cinta oleh Dinda baru ku rasakan setelah beberapa kali ketika bersalaman, ia selalu melakukan hal yang sama. Tidak ada yang berbeda dengan adik-adik yang lain ketika bersalaman,kecuali masalah durasi. Ketika Dinda yang menyalami,mesti lamaaa sekali rasanya ia menciumi tangan ini #Apa tangan mbak Riza bau ikan atau ayam goreng yang enak ya ,Din? Haha.. Begitulah Dinda,sederhana namun sungguh membuatku merasa terkesima dan tersipu malu🙂

Nah,lain lagi dengan yang namanya mbak Riza kecil atau yang sering dipanggil Ija atau jika di sekolah dikenal dengan sebutan Salia #loh ? Sahabat, pengekspresian cinta Ija termasuk the most unique. Si Ija kecil ini akan selalu merasa senang ketika ia bisa memakai hal yang serupa denganku. Dia tidak mau kalah dengan apa yang ku kenakan. Hingga suatu hari,Bunda Dinabundanya mbak Ija,mbak Neisha,dan mas Zaki,pernah berkata pada ku,

“Mba,mbak Ija katanya mau pakai kerudung seperti mbak Riza.
Sekarang kalau dia bermain di luar,kadang memakai kerudung,mbak.”
Subhanallah…

Begitulah anak-anak. Mereka mencintai dengan apa yang mereka miliki.

Ayu dan Diah yang selalu membantuku merapikan kelas hingga magrib. Annisa yang selalu memberikan perhatian penuh, Safira yang selalu menanyakan perihal kehadiran ku esok harinya. Karina,Fida dan Airan yang selalu bersemangat menyapaku ketika bertemu di jalan. Ima dan Adel yang tak segan memberikanku sebuah pelukan hangat.

”Ustadz,Ustdazah,Pak guru,Bu Guru,Mas,Mbak kami sayang kalian.
Kami selalu menanti hadirnya mutiara ilmu dari bibir kalian.

Terima kasih ya adik-adik ku..
Uhibbukum fillah🙂