Mengutip perkataan Amirul mukminin,Umar bin Al-Khaththab dalam bukunya Ust. Fauzil Adhim “Positive Parenting”,beliau pernah berkata,”Kita tidak tahu dari anak yang mana kita memperoleh berkah paling besar..”

Dan meneruskan ucapan sahabat Umar bin Al-Khaththab,mbak Tika pun pernah mengutarakan hal yang hampir persis sama,”Kita ndak pernah tahu Za,anak mana yang akan muncul dan bersinar pertama kali yang nantinya akan menjadi pengemban serta pejuang dakwah kita.”

Maka akupun mengutarakan hal yang hampir persis sama,”Dan akibat ketidaktahuan tersebut,mungkin kita akan kaget jika ternyata kemilau cahaya yang paling indah itu  berasal dari permata yang selama ini ditutupi debu.”

4.30pm di Al-Kautsar

Namanya adalah Alden,kelas 5 SD #seingatku.

Sebelum apa yang terjadi hari ini,mungkin yang kupikirkan tentang Alden hampir persis sama seperti  orang-orang yang mungkin baru mengenalnya.Ini  nih dedengkotnya alias si kepala suku”. Alden yang memotori teman-teman,kadang yang ia lakukan tak sedikit membuatku harus menghembuskan nafas panjang dan bersabar menahan diri. Nah hari ini,masih menggunakan seragam sekolah dan mampir sebentar ke Al-kaustar,Alden mempertontonkan satu sisi dari dirinya,yang membuatku merasa bersalah karena memiliki penyakit hati pada si pemiliki kilau terindah itu.

***

Ketika itu kami (Aku,Dery,Rangga,dan Alden) sedang latihan adzan untuk perlombaan. Dery yang berperan sebagai pelatih/pembimbing adzan meminta mereka (Rangga dan Alden) untuk mempraktekkan bagaimana mereka mengumandangkan adzan. Sahabat,jujur pada saat itu,aku tidak meragukan Rangga,insyaAllah Rangga bisa lah adzan dengan baik. Tapi,bagaimana dengan Alden yang memiliki track record “seperti itu”? Bukannya meremehkan,tapi khawatir saja,Apa Alden bisa ya? Nah,kesempatan pertama pun diberikan pada Alden.  Kuperhatikan lekat-lekat bagaimana ia menghirup nafas panjang dan kemudian secara perlahan memadukan rangkaian bunyi suaranya dengan udara.

Allahu akbar Allahu akbar…
Masyaallah,adzannya bagus sekali…
Suaranya indah sekali..

Seketika itu juga,tiba-tiba darahku mengalir begitu cepatnya dan dadaku terasa begitu menyesakkan. Serasa ingin meneteskan air mata

Ya Allah,ampunilah dosaku yang selama ini telah banyak mendiskriminasi Alden dan adik-adik lain yang dalam tanda kutip “memiliki keunikan polah”.

***

Sahabatku,sebuah pelajaran berharga yang lagi dan lagi tidak bosan-bosannya ingin kusampaikan kembali perkataan dari beliau,Al-Faruq,sebuah nasihat yang begitu indahnya untuk para orang tua,guru dan kita semua,”Kita tidak tahu dari anak yang mana kita memperoleh berkah paling besar.”

Yuk,kita bersihkan hati dan pemikiran kita,kita hapus dan buang jauh-jauh deretan kata seperti ini,
“Dia anak yang tidak mungkin ada sesuatu yang bisa dibanggakan dari dirinya.”

Surabaya,12.09 am