Bismillahirrahmanirrahim…

Terkadang pelajaran kehidupan itu justru tidak kita dapatkan melalui orang-orang yang kepahaman ilmunya luar biasa. Namun,melalui kepolosan si kecil yang berhati selembut salju itulah,mutiara kehidupan itu hadir.

Dan nasehat kehidupan ku pun hadir melalui celotehan si dua bidadari kecilku mbak Nesa dan mbak Ija

depositphotos_4030868-cute-flowers-and-bird

Pada dua hari yang terpilih dalam seminggu,
Senin dan Selasa.

#1 Ketika itu kami sedang belajar tentang masjid-masjid di seluruh dunia. Ada masjidil haram,masjid Nabawi, masjid al-Aqsho, dan Masjid Istiqlal. Aku memperlihatkan kepada mbak Nesa dan mbak Ija beberapa foto masjid-masjid tersebut. Dan sahabat tahu bagaimana reaksi mereka ketika kuperlihatkan Masjidil haram? Nah iya,mereka kaget dan berkomentar seperti ini,”Wah mbak,orang nya cilik-cilik ya mbak,dan banyak sekali.” Terus,melanjutkan komentar mbak Nesa,akupun balik bertanya :

”Mbak Nesa tahu orang-orang di sini lagi ngapain?”
“Lagi naik haji!”
“Betul. Mbak Nesa mau naik haji?”
“Moh mbak.”
“Loh kenapa?”
“Aku mau naik surga mbak.”

: Ya Allah… speechless dan hanya mampu tertawa.

#2 Ketika itu akan pulang,aku menghadiahi mbak Nesa dan mbak Ija sebuah lapbook (silahakan sahabat check tulisanku “Lapbook wanna be” untuk melihat bentuk nya,hihi🙂 Nah entah kenapa setiap kali memberikan hadiah yang kuingat hanya mbak Nesa dan mbak Ija. Mas Zaki nya mesti selalu terlupakan. Sehingga pada saat itu,mbak Nesa berkomentar seperti ini,”Mbak,buat mas Zaki mana? Mbak Riza mesti lah ndak bikin buat mas Zaki!”

: Maafkan mbak Riza ya yang lupaan,maklum sudah tua😀

#3 Ketika itu kami sedang mewarnai dan entah kenapa tiba-tiba mbak Ija dalam kesibukkannya mewarnai berceloteh seperti ini

“Mbak Riza,aku minta fotonya mbak Riza ya.. Nanti kalau aku kangen mbak Riza gimana? Mbak Riza,nanti yo kalau mbak Riza udah tua,mbak Riza akan mati.”
“Oh iya?”
“Iya mbak dan nanti kalau sudah kiamat semua orang akan mati mbak.”
“Lah terus kalau kita sudah mati,kita tinggal di mana?”
“Di kuburan mbak,dan jadi pocong semua… hahaha😀 “

: Mbak Ija,kadang mbak Riza heran dengan usia mu yang masih 5,5 tahun namun sudah bisa berpikir sejauh itu. Subhanallah kerennya…

#4 Ketika itu akan pulang (part 2),sebagai closing sebelum pulang,seperti kata mbak Tika,jangan lupa ucapkan terima kasih kepada anak-anak karena sudah mau mengaji dan belajar dengan baik.

“Mbak Riza mengucapkan terima kasih ya kepada mbak Nesa dan mbak Ija karena sudah bersemangat untuk ngaji.”
“Loh mbak,mas Zaki dan mas Dana juga. Mereka kan juga ikutan ngaji mbak!”
“Oh iya ya,mbak Riza Lupa,hehe..”

: Mbak Nesa yang detail dan selalu mengingatkan ku,terima kasih ya..

Nah sahabatku,dari empat moment tersebut begitu banyak hal yang berharga yang bisa kita pelajari dan refleksikan pada diri

Dari mereka kita belajar bahwa orientasi sebuah kehidupan itu bukan hanya sebatas dunia,namun lebih dari itu,yaitu akhirat.

Kita juga belajar bahwa kehidupan dunia itu pastinya akan berakhir dan kita pun akan berakhir. Tidak ada yang kekal di dunia ini,kecuali Rabb penciptanya,Allah Azza wa Jalla… Sudahkah kita mempersiapkan diri?

Dan terakhir bahwa suatu kelembutan hati itu akan terpancar bukan tatkala kita sibuk memperhatikan diri dan hak kita masing-masing. Namun ketika kita merasa gelisah saat saudara kita belum mendapatkan hal yang sama dengan apa yang kita dapatkan. Itulah kelembutan

large_cute-flower

Terima kasih guru-guru kecilku.😀

Semoga dikemudian hari tatkala bukan tangan-tangan kecil itu lagi yang bisa ku sentuh,ku berharap hati si pemilik tangan itu masih tetap sama seperti tangan para bidadari kecil waktu itu. Amin…

Surabaya,7.33 am.