Tulisan kali ini hanya sekedar ungkapan sayang yang teramat sangat pada seseorang, sehingga isinya pun tidak karuan dan abstrak . Seperti sayang itu sendiri,tidak karuan ketika merasakannya dan merupakan sebuah rasa yang sangat abstrak.haha..Tapi semoga saja ada sedikit ilmu yang terselip ya sahabat. Kalau tidak ada,diselip-selipkan saja😀

9 Juni 2014 : 16.20 pm,
Kami berjumpa lagi,namun hanya sesaat. Ya hanya sesaat…
1# Saat itu aku sedang menyimak bacaan salah seorang teman-teman tilawati 1,dan ia pun datang menghampiri. Sungguh sahabat,keinginan hati untuk berbicara dengannya,begitu besar,sangat besar. Sudah lamaaa sekali tidak ngobrol. Sehingga perasaan ingin mendengar,entah tentang apalah asalkan itu darinya,menggunung sekali.

”Za,adik-adik yang lain lebih membutuhkan perhatianmu saat ini,nanti saja ngobrol sama Rasya nya.”
” Iya,tapi kan rinduuu…”
”Nanti sehabis kelas kan bisa. Udaaah… nanti saja diluapkan rasa rindunya.”

Ya, kali ini aku harus mengalah,dia benar,nanti saja. (dia=diriku yang lain). Menyentuh wajahnya dan tersenyum,balasan atas kehadiran dan isyarat bahwa aku sangat rindu padanya,itulah yang dapat kulakukan saat itu.

2# Pernah juga ketika akan pulang,ia menghampiriku untuk pamitan. Karena ceritanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan,akupun langsung mengajaknya ngobrol,walaupun kelas ku sendiri belum selesai😀. Tapi sayangnya,tak banyak yang dapat kami obrolkan,karena  tiba-tiba  saja ada suara yang mengingatkan,”Tanggung jawabmu terhadap teman-teman tilawati 1 belum selesai,Za!” yah…😦

***

Sahabat,mungkin ada yang sudah mengenal  Rasya ya?
Entah kenapa rasa sayangku padanya agaknya sedikit berbeda dari teman-teman yang lain. Hal itu semakin ku rasakan saat tak lagi bisa menyimak bacaannya. Mungkin,sahabat yang berprofesi sebagai seorang guru pernah merasakan hal yang sama ya? Dari sekian banyak anak didik,mesti ada satu yang spesial bagi kita. Entah itu mungkin karena dia memiliki karakter yang sama dengan kita seperti kata mbak Tika atau mungkin karena keterikatan hati yang tidak bisa dijelaskan dengan teori secanggih apapun. Itulah yang kurasakan pada Rasya sahabat. Aneh ya,tapi begitulah…

“Rasulullah pun memberikan perlakukan yang istimewa pada setiap anak,Za. Namun,satu hal yang perlu diingat adalah jangan mengistimewakannya di depan teman-teman yang lain,sehingga menyebabkan kecemburuan itu hadir.”
(nasihat dari Eci)

#tanpa Rasya,tanpa rasa. Begitulah keluh hati yang selalu rindu padanya. Berjumpa memang dan aku pun menyapa. Tapi  anehnya rindu itu masih saja berdiam di hati .

#tanpa Rasya,tanpa rasa. Yang menggenggam tangannya seperti menggenggam tangan adik sendiri. Hingga terkadang rasanya ingin sekali menangis untuknya entah karena alasan apa.

Apakah Rasya juga merasakan hal yang sama?