Menjadi orang tua atau calon orang tua itu harus siap berhadapan dengan para filsuf kecil?
Fislsuf kecil? Loh gimana ceritanya…

Nah begini loh sahabat…
Pada suatu malam di sebuah rumah,gang IV Kedung Sroko,hiduplah dua orang anak bersama seorang yang katanya guru mereka. Kalau aku sih menyebutnya bukan guru,tapi lebih tepatnya orang yang sedikit lebih tua dan sedikit lebih tahu dari mereka,hihi… #Sama saja za. Ah apapun itu,tidak usah diperpanjang ya. Malam ini ceritanya sehabis guru itu,eh jangan guru deh,mbak itu/tersebut aja biar lebih berasa muda (katanya tidak usah diperpanjang -_- ) ingin menceritakan sebuah kisah dari zaman para Nabi.

“Teman-teman,sudah pernah dengar cerita tentang Nabi Adam?”
“Nabi Adam? Siapa mbak? Belum…”
“Belum pernah dengar? Baikalah,Nabi Adam itu adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah teman-teman. Jadi sebelum ada mbak Nesa,ada mbak Ija,ada mbak Riza,nabi Adam itu sudah ada.”
“Oooh…” bullet😀
“Nah,berhubung teman-teman belum pernah dengar cerita tentang Nabi Adam,hari ini mbak Riza akan cerita tentang itu ya…”

Mungkin dialog tentang bagaimana si mbak tersebut menceritakan tentang kisah Nabi Adam tidak perlu aku tuliskan ya sahabat. #Lah kan semuanya sudah pernah dengar kan,ya? -_- Lalu ? Nah,tapi aku akan menuliskan sedikit dialog-dialog aneh antara si mbak itu dengan dua orang teman kecilnya saja ya..

Baiklah,
bismillahirrahmanilrrahim.

Ketika itu,ceritanya telah sampai pada : Dari apa sih Nabi Adam itu diciptakan?  Tanah!

“Loh kok dari tanah mbak?”
“Iya,dari tanah. Nabi Adam itu diciptakan Allah dari tanah teman-teman.”
“Kalau dari tanah,berarti sama kayak tumbuhan ya mbak?” Celetukan salah satu anak yang dikenal dengan nama Mbak Nesa.
“Hah?”
“Kayak bunga ya mbak?” tambah satunya lagi,Mbak Ija.

Kira-kira nih ya,jika sahabat di posisi mbak itu,yang diserbu dengan pertanyaan seperti dialog di atas. Sahabat akan jawab apa? Hayo… Pusing ya?
Sama mbak tersebut juga pusing. Pusing memikirkan jawaban antara membenarkan dan menidakkan.  Ckckck… Ya Allah ndok.. pertanyaannya..

Setelah berpikir yang cukup cepat menurutku,mbak tersebut akhirnya dengan sedikit tertawa yang entah artinya apa,beliau  membenarkannya. Apa? Membenarkan?? Apa nanti anak-anak jadinya tidak salah konsep ya? Haduh… mbak.. mbak..

Next,kita tinggalkan saja.
Sahabat,ternyata pertanyaan seperti itu,tidak hanya muncul sekali saja,masih ada episode berikutnya! Haduh… Masih berlanjut?

Ceritanya ketika Nabi Adam telah berada di surga.

“Teman-teman tahu,di surga Nabi Adam boleh memakan dan meminta apa saja kepada Allah loh… Enak ya?”
“Iya mbak. Aku nanti kalau di surga mau minta boneka Barbie yang banyak.”
“Wah.. iya,pasti inshaAllah di kasih Allah buat mbak Nesa.”
“Aku juga mau mbak!”
“Iya mbak Ija juga. Nah,tapi teman-teman,kita kembali ke cerita Nabi Adam tadi, ada satu hal yang diperintahkan dan dilarang Allah kepada Nabi Adam. Teman-teman tahu apa itu?”
“Ndak mbak…”
“Begini,setelah Allah mengizinkan Nabi Adam untuk memakan dan meminta apaaa saja,Allah memerintahkan dan melarang Nabi Adam untuk melakukan satu hal saja,yaitu jangan memakan buah pohon itu! Salah satu pohon di surga.”
“Loh kenapa ndak boleh mbak?”
“Iya,karena Allah memerintahkannya tidak boleh sayang”
“Tapi kenapa mbak? Pohon itu makanan nya Allah ya mbak?” dengan polosnya mbak Nesa bertanya

Apaaaa???? Sahabat bisa bayangkan ya bagaimana perasaan dan reaksi mbak tersebut.
Kaget? Iyalah…
Bingung mau jawab apa? Tentunya…

Lama sekali si mbak tersebut baru kemudian bersuara kembali

“Mbak Nesa,mbak Riza ndak tau jawabannya.Hmm… Eh mbak Nesa punya guru kan ya di sekolah? Begini,gimana kalau mbak Nesa coba tanya ke bu gurunya di sekolah dulu? Mbak Riza nanti juga akan tanya ke gurunya mbak Riza. Besok kita diskusikan lagi. Gimana??”
“Yah… mbak Riza…”
“Iya,mbak Riza ndak tau sayang. Kita cari tau dulu ya?”

Begitulah sahabat kira-kira  sedikit cerita dari dialog antara si mbak dengan dua orang teman kecilnya, yang mau tidak mau harus diakui sempat membuat si mbak tersebut kebingungan dan masyaAllah kagetnya

***

anak_muslim_by_rheena-d4hwstx

Sahabat,mungkin nantinya ketika kita menjadi orang tua atau pun sudah menjadi orang tua,pertanyaan-pertanyaan seperti di atas pastinya akan muncul dari mulut kecil para mutiara tasbih yang akan sulit dielakkan. Sebagai orang tua seharusnya dan memang harusnya kita tidak mengelak dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tapi harus di hadapi dan dijawab dengan sejelas dan sehati-hati mungkin. Karena apa? Seperti kata mbak Tika,inilah saat nya kita menanamkan tauhid ke pada mereka. Kita harus memberikan jawaban yang jelas dan mudah dipahami. Jangan biarkan mereka  ragu dan bertanya-tanya. Karena sejatinya memang tidak ada keraguan dalam agama kita ini,Islam.

Jadi,bagi sahabat yang belum memiliki anak ataupun yang sudah,ayok mulai dari sekarang,kita berlatih untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan para filsuf kecil ini. #Nah,tapi bagaimana caranya? Caranya adalah… Kita sendiri harus paham dulu tentang agama kita. Intinya,yuk sama-sama belajar dengan para filsuf kecil ini. SEMANGAT!!!