Aku terheran,
kenapa rindu dan sayang itu seakan mengakar ke inti hati,
melilit erat serasa tak ingin melepaskan?

Aku terheran,
kenapa saat bersama pun masih juga rindu dan sayang itu mencuat menampakkan diri,seolah merasuki dua jiwa yang didarahi oleh rahim ibu yang sama?

Aku pun masih terheran,
Bagaimana denganmu,mbak Tika?

ukhuwah_by_zakyash-d63pn50

1.20 pm,2 Juni 2014
di antara tiga rindu
pada mu,pada dia,dan pada Nya

Setelah terlelap dari tidur yang memanjang,siang ini ku niatkan sekali untuk berteduh di bawah kumpulan bait bunga cintanya ust. Salim. Bismillahirrahmanirrahim…

Halaman demi halamannya membuatku terkesima hingga tak terasa aku telah menyelami begitu banyak halaman dan kini terhenti pada kedalaman 27. Subhanallah,pada halaman ini sungguh beliau menyuguhkan sebuah cerita dari sahabat baginda Rasulullah yang begitu menawan. Mari disimak🙂 “Dalam Dekapan Ukhuwah”

Suatu hari,ketika Badar mulai sunyi senyap dari gegap kecamuk pertempuran yang akhirnya mengoyak kejahatan dan memenangkan kebenaran,Abdurrahman ibn ‘Auf menggiring lelaki tampan dan ranggi yang terbelenggu itu. Dia menggelandangnya dengan hati-hati dan lembut tanpa melepaskan genggaman pada ikatannya. Mereka menuju ke arah lelaki yang berwajah mirip dengan sang tawanan.Sangat mirip.

Abdurrahman ibn Auf mengangguk ta’zhim pada lelaki itu ,“Assalamualaikum Ya Mush’ab yang baik. Inilah saudaramu. Abu ‘Aziz!”Mush’ab ibn ‘Umair menjawab salam dan membalas anggukan dalam-dalam.

Sang tawanan,Abu ‘Aziz ibn ‘Umair disergap lega. Syukurlah, dia akan diserahkan pada kakak yang disayanginya. Betapa mimpi buruk hari ini; mengikuti Perang Badar,menyaksikan darah bersimbah ruah,melihat tumbangnya kejayaan Quraisy di tangan orang-orang Bani Najjar,dan kini tertawan; sungguh menyakitkan. Kini dia berada di hadapan kakak yang telah bertahun-tahun tak dijumpainya. Dia rindu. Dia ingin memanggil penuh harap,”Kanda…”

Tetapi Mush’ab tak memandang ke arahnya,tak segera memeluk menyambutnya, dan seakan tak hendak menanggalkan belenggu pengikatnya. Sang kakak justru menundukkan kepala. “Tahanlah dia,”kata Mush’ab pada ‘Abdurrahman nyaris berbisik,”Kuatkan ikatanmu,dan eratkan belenggumu… Sesungguhnya dia memiliki seorang ibu yang sangat menyayangi dan memanjakannya. InsyaAllah engkau akan mendapat tebusan yang berharga darinya,Suadaraku!”

“Apa?”Abu ‘Aziz membelalak. “Aku tak percaya ini! Engkau hai Mush’ab,saudaraku sendiri, engkau menjualku dan membiarkannya meminta tebusan besar pada ibu kita? Di mana cintamu pada adikmu ini hai Saudaraku?” dia meronta.

Mush’ab memalingkan wajahnya. Ada kilau  di matanya. Dihelanya udara panjang-panjang ke dalam dada. “Tidak! Engkau bukan saudaraku. Dia inilah saudaraku… Dia inilah saudaraku!”

Seperti halnya kecintaan Mush’ab kepada Abdurrahman ibn Auf,walaupun jauh dari kepantasan untuk disejajarkan pada para sahabat yang mulia tersebut,tapi begitulah inshaAllah dan memang seharusnya begitulah kerinduaan dan sayang itu tumbuh🙂 Persaudaraan di atas dasar iman. Inilah jawabannya…

***

Iman itu mengikatkan kita dalam persaudaraan yang menembus batas ruang dan masa. Ia menyatukan kita dalam doa-doa yang selalu kita bagi pada peyakin sejati. Sebagaimana tanpa kita sadari,tiap detik berjuta lisan melafalkan doa ini untuk kita . Bahkan tanpa kita sadari ,para nenek moyang berdoa untuk cicit canggahnya,dan para anak cucu berdoa untuk tua-tua leluhurnya. Mereka mungkin tak  pernah berjumpa, terpisah oleh ruang dan masa. Tapi mereka bersatu dalam doa. Dalam iman. Dalam persaudaraan akbar yang melintasi gurun,kutub,lautan,hutan,dan zaman
-Salim A. Fillah-