Tanpa pernah melihat dan mengenal Anna,ia jatuh cinta
Abdulloh Khairul Azzam

“Bunda,tidak mengapa jika Aina berkeinginan untuk menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu,saya bersedia menunggu. Namun,jika Aina tidak keberatan untuk melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat,inshaAllah saya siap,Bunda.Segala kekurangan pada diri Aina telah saya ketahui. Dan sungguh tak ada satupun yang membuat saya merasa enggan untuk tetap memilih Aina,Bunda.”

Terdengar suara bunda bergetar menyudahi kalimat terakhir pada lembaran tersebut. Aina yang ketika itu berdiri tepat di samping bunda,ku perhatikan dia hanya mematung tanpa memberikan reaksi yang cukup berarti terhadap apa yang dibacakan bunda.Lagi bunda membolak-balikkan lembar demi lembar. Terlihat mencari sesuatu yang semestinya ada bersama lembaran yang berada di tangan beliau.

“Kak Aina,ini dia orangnya kak. Bagaimana?”
Jemari bunda menunjuk sesosok pemuda pada foto. Dan tentu,ini membuat Aina yang sedari tadi tidak berespon,tiba-tiba menggigil seakan baru saja masuk ke dalam ruangan yang bersuhu luar biasa dinginnya. Kupegang tangan Aina,beku namun basah oleh keringat.

“Bunda,kakak belum bisa memutuskannya sekarang. Kakak …”

“Permisi,maaf mau ngeprint,bisa mbak?”
“Oh iya bisa,silahkan masuk mbak. Tapi maaf ya,kamarnya berantakan,baru saja bangun tidur,hihi😀 .”
“Iya ndak papa mbak.”
“Ini yang mau diprint yang mana ya mbak?”

Alhamdulillah, hanya mimpi.

Semenjak Aina mendengarkan suara yang melantunkan ayat suci Al-qur’an tersebut,semenjak saat itu pulalah Aina jatuh cinta. Tiap waktunya, suara pemuda tersebut seakan ikut bersenandung mengiringi  lekukan huruf hijayyah yang dibacanya. Seperti halnya Hafes yang selalu dibayangi oleh wajah Cut Mala,yang menari-nari di atas lembaran mushaf Qur’an,Ketika Cinta Bertasbih,loh? 

Hari demi hari,Aina merasa pemikirannya terhadap pemuda tersebut seakan kian menggenggam dan menggores luka hatinya. Perih dan menyesakkan. Dan suatu ketika,ba’da subuh …

“Farhah,bagiku ukuran duniawi tidaklah penting.Namun… Jika keluargaku mengingkan sedikit dari ukuran dunaiwi ini,aku harus bagaimana Farhah?”
air mata pun meluncur membasahi kedua pipi Aina

“Aku hanya menginginkan seorang pemuda yang benar-benar paham untuk apa ia hadir di dunia ini,pemuda yang…”

seperti Fatimah yang mencintai Ali

***

Akan bersambung inshaAllah,selama sang tokoh pada kisah masih tetap diberikan peran olehNya untuk melanjutkan.