Maret 2014…

Apa jadinya jika jiwa yang lembut,bahkan sangat lembut itu ditampar dengan kekerasan yang tiada lembut-lembutnya?

Rasulullah SAW. pernah menegur Ummu Fadhl ketika merenggut anaknya secara kasar karena pipis di dada Rasulullah. “Pakaian yang kotor ini dapat dibersihkan dengan air,” kata Rasulullah Saw,”tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutanmu yang kasar?”
Ust. Mohammad Fauzil AdhimSaat Berharga untuk Anak Kita”

Sungguh bukan fisik itu yang ku takutkan terluka. Tapi ruh dan jiwa yang berada di dalamnya.

Ketika jiwa yang lembut itu terluka dan kemudian mengartikan bahwa beginilah perlakuan dunia sesungguhnya,satu hal yang ku khawatirkan,yaitu mengerasnya fitrah hati yang lembut.

Kadang ingin rasanya pada saat itu memeluk dan mengenggam tangannya. Tapi saat itu pula setengah tubuh kita mengalami hemiparise. Bukankah begitu sahabatku?
Kita hanya mampu menatap opera yang begitu menyayat hati,yang tak jarang membuat air mata tertahan. Dan lagi,kita kehilangan momen untuk melindungi ruh dan jiwa itu. Begitu banyak alasannya. Satu hal yang pasti,kita tidak berdaya.

20022014(002)

Karena hampir sebahagian kita hanya mampu menjadi penonton,begitu juga denganku

Lalu,akankah selamanya kita menjadi penikmat cerita tersebut dan kemudian membiarkan kebeningan itu terusik begitu saja dengan kekeruhan,yang apabila kita berani menerabas ketidakberdayaan,maka ruh dan jiwa itu akan terselamatkan?

Tanya hatimu,
wahai diri dan sahabatku