cerita di bulan April …

Mbak Riza rindu Rasya yang dulu,yang penuh semangat buat ngaji. Ini bukan Rasya yang mbak kenal,yang membuat jatuh cinta sejak awal bertemu.

Semenjak ia kembali lagi setelah kejadian itu,aku merasa ada sesuatu yang berubah. Ada yang  hilang dari dirinya. Dan sore ini,perubahan itu semakin memperjelas batasnya. Rasya bermetamerfosa menjadi Rasya yang liar. Bersama sahabatnya Kiki,mereka mulai melakukan kegaduhan. Namun pada saat itu,aku tidak begitu mengikuti polahnya,sebab adik-adik yang lain juga bersamaku

“Mbak Riza,hari ini Kiki dan Rasya ndak boleh ngaji ya mbak!”
seru sahabat satu tim ku

Mendengar pernyataan seperti itu,mereka (Rasya dan Kiki) tambah menjadi-jadi. Dari yang awalnya berdua hanya saling lempar peci,kini mereka telah mulai mengganggu stabilitas kelas. Disusunlah beberapa meja,kemudian mereka naik ke atasnya sambil beratraksi yang tidak jelas. Ya Allah..#ini bukan Rasyaku

Kegaduhan demi kegaduhan terus terjadi . Hingga tiba saatnya pulang,Rasya dan Kiki terpisah dari kumpulan teman-teman yang lain. Aku pun kemudian mendekati mereka dan mencoba memahami kenapa mereka seperti itu. Tapi,belum sempat aku menemukan penyebab pastinya kenapa ini bisa terjadi ,sahabat satu tim ku memanggil mereka berdua.

HUKUMAN!
Yang hari ini membuat kegaduahan harus di hukum !

Begitulah kira-kira aroma yang terbau oleh ku saat sahabatku itu mendekati kami. Aku pun melepaskan mereka dan menuruti apa yang akan dilakukannya.Merelakan mereka, inilah satu hal yang sangat ku sesali. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya melihat mereka dari jauh dihukum. Ruh ku seakan tersakiti saat mereka harus mendapatkan hukuman seperti itu.

Bukan begitu caranya sayang. Itu sama saja kita melepaskan genggaman tangan yang sudah hampir terlepas lalu menghempaskannya.

Aku tidak menyalahkan sahabat tim ku melakukan itu. Ilmu yang belum sampai padanya. Tapi,Aku yang sudah tau lantas membiarkannya?

Sesudah hukuman itu selesai,aku langsung mencegat Rasya agar tidak langsung kembali pulang. Aku butuh berbicara denganya.

“Rasya kenapa kok akhir-akhir ini,mbak Riza lihat berubah? Tidak seperti Rasya yang mbak Riza kenal yang semangat buat belajar?”
“Pusing mbak,tadi kejedot” jawaban yang bukan sebenar jawaban
Oh,begitu… Hmm.. Rasya ada yang jahatin Rasya ya? Di rumah atau di sekolah gitu?”
Pertanyaan pamungkas yang menurutku akan membuka tabir di balik ini semua.

Kuperhatikan bagaimana ia menjawab dan arah matanya. Ia tertunduk dan sesekali melihat ke kiri dan kanan memberikan tatapan kosong.Ia menggeleng. Aku tau ini bukan jawaban sebenarnya atas pertanyaan itu. Lagi aku coba mencari-cari,hingga akhirnya aku genggam tangan mungil itu dan dengan hati-hati menanyakan hal yang sama.Dan Subhanallah… Entah apa yang menggiringnya,hingga ia pun berkata,“Aku jalan kaki mbak ke sekolah”

“Rasya jalan kaki,sendirian?”ia mengangguk
“Biasanya dianterin ya?” ia mengangguk lagi dengan pelan
“Kenapa kok sendirian,Sya?” 
“Karena yang lain pada kerja mbak.”
“Trus Rasya takut ya?” ia mengangguk dengan pelan namun pasti.
“Rasya takut kenapa sayang?”
“Takut diculik mbak” astaghfirullah….

Sahabat inilah pemikiran mereka. Inlah yang mereka pikirkan. Ada ketakutan pada diri mereka karena terlepas dari ketergantungan dengan bunda,ayah,kakak,dan keluarga lainnya.

Ketika Rasya menyebutkan ketakutannya akan pergi dan pulang sekolah sendirian,aku teringat dengan adikku Fahrul. Saat itu papa,aku,Dian entah kenapa kami terlupa untuk menjemputnya sepulang sekolah yang berjarak tak jauh dari rumah. Alhasil,aku yang di rumah ketika itu,tiba-tiba mendengar suara yang berteriak,”Kak i…” Aku pun langsung membuka pintu dan sedikit agak kaget ketika melihat bahwa yang memanggilku adalah Fahrul. Dengan muka yang berseri-seri aku mendekat dan membukakan pintu. Awalnya aku melihat Fahrulku biasa saja,tapi setelah pagar itu terbuka,ia pun menangis. Kenapa menangis? Kan sudah bisa pulang sendiri #pikirku

Pada saat itu aku kurang begitu paham kenapa ia menangis. Namun sekarang aku baru sadar saat menemukan kasus yang sama pada Rasya. Ia baru saja berjuang melawan rasa ketakutannya. “Aku takut bunda! Aku takut kak!”

Kembali lagi pada Rasya. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi setelah mengetahui penyebabnya.

Ya Allah ketika mengenggam tangan dan mengecup pipinya,ada perasaan sesak di dadaku. Kata-kata ku seakan memberat. Begetar tak sanggup rasanya mengucapkan bahwa aku sayang Rasya. Terlalu munafik,karena pada kenyataannya pembuktian rasa sayang itu,belum pernah ku lakukan. Maafkan mbak Riza ya Rasya…

Seperti yang pernah diutarakan oleh mbak Tika:
Dekati mereka dengan kelembutan dan sentuh ruh dan jiwa mereka dengan Islam.🙂
Subhanallah…
Pada saat itu juga,saat aku mempraktekkan apa yang pernah diutarakan mbak Tika,aku melihat buktinya. Alhamdulillah,Rasya langsung berubah. Hingga sahabat satu tim ku pun terheran dan bertanya.

“Mbak,tadi Rasya di apa in mbak? Kok bisa berubah gitu?”
Ndak ada. Kita cuma cerita-cerita saja”

Nah di sini ternyata kuncinya sahabat,cerita.
Banyak anak yang jarang bisa menceritakan apa yang mereka rasakan. Dan di sisi lain,tidak banyak orang-orang yang bisa mendengarkan cerita mereka,bahkan orang tua sekalipun,tuntutan pekerjaan. Pekerjaan yang sudah memusingkan,sehingga tidak ada waktu untuk sekedar mendengar sedikit cerita mereka.

Sahabat,ketika anak-anak berprilaku berbeda dari fitrahnya (baik),maka jangan langsung mengkerdilkan jiwa mereka. Ajaklah bercerita. Karena apa? Dengan bercerita,setidaknya kita akan paham dan tidak langsung menghukumi

bocah

***

Tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan siapapun.
Karena yang sepantasnya bersalah adalah diriku,yang tahu tapi membiarkan semuanya tetap terjadi
Astaghfirullah…