“Kak,ketika kakak menikah,bukan berarti mama akan kehilangan seorang anak. Tapi justru mama akan mendapatkan seorang anak lagi. Siapapun yang akan menjadi jodoh kakak kelak,tentu dia juga akan menjadi anak mama.”

1 Mei 2014,

Alkisah pagi ini,sebuah panggilan masuk hadir di ponsel ku,panggilan masuk dari Mama. Sebagaimana biasanya,percakapan dengan mama pagi itupun mengalir seperti biasa. Hingga atmosfir percakapan sedikit berubah dikarenakan celetukkanku seperti ini

“Ma,jadi kapan kakak nikah nya ma?”
“Gimana sudah ada calon? Kalau sudah ada,ya silahkan suruh datang. Kapan? Bulan ini?”
timpal mama dengan tidak kalah canggihnya dengan pertanyaanku,haha…

Awalnya hanya berupa candaan saja. Namun sejurus kemudian,mama pun menggiring percakapan ke arah yang sedikit lebih serius. Hingga pada akhirnya ditutup dengan beberapa kesepakatan yang menggelikan di antara kami tentang jodohku kelak,hahaha…

Sahabat,jujur tulisan ini bukan bertujuan untuk membahas tentang pernikahan,jodoh,dan sejenisnya. Namun di sini,aku ingin berbagi sedikit ibroh yang ku dapatkan dari percakapan itu. Semoga bermanfaat sahabat🙂

gambar-kad-kahwin-kartun-562

Dulu,ada satu hal yang paling kutakutkan dalam hidupku,yaitu menerima respon dari apa yang ku utarakan. Apalagi jika itu harus ku ungkapkan pada orang tua dan menyangkut hal-hal yang dianggap tabu ini (read : Pernikahan). Mungkin sebagian dari sahabat pernah merasakan perasaan seperti ini : Gimana ya,kalau-kalau orang tuaku akan marah atau tidak setuju?  Perasaan takut kalau-kalau respon yang diberikan orang tua tidak sesuai dengan harapan. Setuju? Karena ketakutan seperti inilah pernyataan dan pertanyaan sejenis,berbulan ku diamkan dalam pikiran. Meskipun ia tidak begitu saja diam dalam otak,rewel sih,haha… Terkadang ya,kita sebagai anak sering menganggap dan merasa orang tua pasti tidak akan memahami,akan menolak,atau bahkan menentang apa yang kita utarakan. Bukankah begitu? Tapi sahabat harus ingat,ini masih berupa anggapan semata. Belum tentu kenyataan nya seperti itu tho? #Nah trus  solusinya? Pemecahan terhadap anggapan dan perasaan itu sebenarnya sederhana,sangat sederhana,yaitu DIKOMUNIKASIKAN.

Dikomunikasikan, dikomunikasikan, dikomunikasikan!
Inilah nasehat yang selalu diberikan oleh Mbak Tika kepadaku.

Komunikasikan apapun itu dan kepada siapapun itu.
Jangan bermain dalam pikiran kita sendiri.
Karena belum tentu hal itu menjadi sebuah kebenaran!

Memang,untuk mengkomunikasikan itu akan terasa sangat berat dan sulit pada awalnya. Sungguh sangat sulit. Akupun juga merasakannya seperti itu.  Ada perasaan takut dan ragu. Tapi ketika kita telah memulainya?  Sungguh sahabat,prasangka kitu sangat jauh dari kenyaataan yang telah menyata.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. … ”
Al-Hujurat (49):12

Jadi,komunikasikanlah segala sesuatunya,seberat apapun itu.
Apalagi dengan orang tua kita🙂

***

Riza Apriani yang masih saja sering bermain dalam prasangka.
Mohon di doakan ya sahabat fillah🙂