Alhamdulillahi rabbil’alamin…

“Za,kamu percaya,kalau setiap harinya itu kita bangun dan terjaga untuk menjalankan catatan takdir pada Lauh Mahfudz?”

30 Maret 2014,lembaran Lauh Mahfudz itu tersingkap dan terhenti pada sebuah kalimat : Hampir dua tahun dan hari ini,sungguh pertemuan itu akan terjadi.

Ba’da ashr,kulihat jarum jam tanganku bergulir begitu cepat,apakah ini hanya ilusi mata? hehe . 3.10 pm,#Aduh gawat! Mesti buru-buru nih! Dengan sedikit agak memaksakan,kedua kaki ku pun melaju dengan kekuatan maksimal namun tetap dalam keanggunan. #-_- gayaaaa nya…Bergegas sambil menoleh pada telepon genggam. Berharap ada tanda-tanda bahwa pihak yang dihubungi sedari tadi,tahu bahwa sedang dihubungi. Lagi aku memanggil nomor yang sama. Hingga binar cahaya stasiun tertangkap oleh mata,tanda-tanda kehidupan pada telepon genggam itu,tak kunjung kulihat. Sek.. sek.. Aku atur ritme jantung yang sudah mulai mengalami tachicardi dulu ya??😀

Apa Mbak Tika ketiduran ya?
Apa jangan-jangan,stasiunnya kelewat ya?
Apa salah turun stasiun ya?
Apa hanphone nya mbak Tika hilang diambil orang ya?
Pertanyaan-pertanyaan yang mulai memantul-mantul memenuhi otak

“Pak,maaf kereta Logawa dari Purwokerto sudah sampai belum,pak?”
“Sudah mbak,sudah dari tadi. Dan sekarang keretanya sudah berangkat lagi mbak”
harmonisasi jantungku semakin tidak karuan

Berulang ku check ke tempat kedatangan penumpang kereta. Namun,yang dinantikan,tak kunjung jua tampak. Kemana lagi Riza harus mencarimu mbak?

Tanya ke bapak-bapak pusat informasi saja,Za! Akhirnya ide cemerlang itu mencuat dari otakku setelah hampir 5 kali mondar-mandir tak tentu arah -_-. Dan sahabat tahu jawaban beliau apa? Ya,sama seperti bapak-bapak yang ku tanyai di depan. Keretanya sudah datang jam 3 kurang tadi. Ya Rabb…

Dari tempat kedatangan menuju musholla dan dari musholla ke tempat kedatangan,nihil. Setengah jam di stasiun,masih belum juga berjumpa . Dihubungi via telepon, tak ada jawaban. Tak ada kepastian apakah sudah sampai atau belum. Coba bayangkan sahabat,hati siapa yang rasanya tidak ingin menangis?

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kenapa tidak coba hubungi  ibunya mbak Tika saja ya. Beliau tentu bisa membantuku #benar juga😀 Dengan koordinasi yang apik dengan si jari,sebuah pesan singkat pun berhasil dikirim ke ibu. Namun sayang,masih pending😦 Mana pulsa tinggal 1500an lagi. Ya ndak bisa telepon si ibu -_-.Tadi sih, pakai acara tidak bisa isi pulsa segala. -_- Riza.. riza…

Tut… tut… tut…
“ Assalamualaikum”
“Wa’alaikum salam,Mbak Tika di mana? Riza sudah di stasiun,mbak.
“Mbak juga sudah di stasiun.” (Mbak Tika pasti nyengir nih -_-)
“Di stasiun apa mbak?”
“Ya… gak tau😀 Pokoknya sudah di stasiun. Tuh dengar ada suara pemberitahuannya!”
“Iyaaa,tapi mbak di mana nya?”
“Hayoo.. coba cari saja.”
“Mbak Tikaaa… Pulsa Riza mau habis mbaaak.”

Lambaian tangan dari pintu kedatangan. Dia mbak Tika,Za.. Yaa,Mbak Aisyah Tika alias Tika Herningrum. Aku pun bergegas mendekati sosok yang hampir saja membuat ku menangis itu.

“Mbak Tika kemana saja,Riza sudah dari tadi nyariin mbak,” gumamku sambil terisak
“Udah… jangan nangis. Eh tapi kok nangisnya lucu ya,Za? Ada suara tapi gak ada air matanya,hehe.. Udaah… malu diliatin ibu-ibu.” Yee.. biarin aja mbak😀 #batinku😀

Sesaat setelah beberapa  detik pertama pertemuan itu,aku bertanya-tanya. Apakah ini benar-benar Mbak Tika? Kok beda ya? #hehe,becanda  mbak😀. Subhanallah… Begitu lembutnya. Sangat lembut. Ternyata aslinya jauuuuh lebih lembut ya? Sempat sedikit tidak percaya,hingga akhirnya aku menemukan satu hal yang tidak asing lagi,intonasi berbicara. Ya ini memang benar asli Mbak Tika😀

“Mbak,yuk kita pulang! Tapi,naik becak aja ya,mbak?”
“Iya,terserah Riza saja.”

***

Kebersamaan untuk pertama kali yang tak akan pernah terlupakan,inshaAllah. Genggaman tangan yang tak pernah lepas sepanjang perjalanan.
Subhanallah

Ini mbak Tika ku,ini kakak ku. Inilah sosok yang selama ini menampung segala warna rasaku.  Inilah jiwa yang telah mengantarkan dan menemaniku hingga mencapai tingkatan titik seperti ini. Yang membantuku menemukan ruh seperti apa yang ada pada diriku.

Dia hadir di sampingku,memeluk,dan menggenggam tanganku. Subhanallah.. indahmbak Tika,kakak ku…

“Za,kamu jauh lebih ****** dari pada yang di foto. Aku sebel,Za! -_-”
******= silahkan tebak apa itu,hihi..
yang jelas,kalimat ini adalah penuturan yang paling jujur dari Mbak Tika,hahaha

to be continued…