Di sudut gang dekat jembatan itu,aku melihat ia menangis terisak,si pangeran gagah yang ku cintai  

Ada apa ini? Drama seperti apa yang sedang terjadi?

Aku yang kaget melihat sosok itu yang biasanya sudah hadir lebih awal,namun kini berdiri mematung di sudut gang dengan mata yang ia tutupi dengan tangan,membuat kakiku tidak memiliki alasan untuk tidak bergerak lebih cepat mendekatinya.

“Ada apa? Kenapa engkau menangis sayang?”

Hanya sepersekian detik saat aku menyudahi kalimat tanyaku,tiba-tiba hadirlah kata-kata yang disampaikan angin dari seberang jalan. Beliau mengucapkan kata-kata yang ku tak mengerti apa. Namun dari ekspresinya,terlihat kemarahan yang amat sangat mengalir disetiap gerak tubuh. Dan sesuatu yang ia pegang di tangan kanan nya pun memperkuat dugaan ku. Astaghfirullah…

Aku kembali pada pangeranku dan melontarkan pertanyaan yang sama. Namun ia hanya diam,tak seperti yang diseberang sana. Di sana,kata-kata yang dapat mematikan hati berkeliaran bebas. #Aku harus melakukan sesuatu.Tapi,apa? Aku hanya bisa memegangi pangeranku dan mengajaknya pergi untuk meninggalkan tempat di mana drama itu semakin memanas.

“Mbak.. tas ku!”

Akhirnya pangeranku berbicara,sebelum ia memutuskan untuk mengikuti saranku kali ini. #Tas? Oh iya,ia tidak memakai tas hari ini. Di mana tas nya? Tas itu tergeletak lemas di kali,tapi alhamdulillah tidak basah. Astaghfirullah… Hati serasa ingin menangis pada waktu itu,tapi ku berusaha menahannya.

“Ya,Allah jiwa ini hampir saja mati,aku mohon selamatkan lah ia.”

***

“Sayang,tadi kenapa menangis? Coba ceritakan ke Mbak Riza.”

Sahabat tahu bagaimana awal duduk permasalahan drama yang tadi berlangsung? Sangat sederhana,namun hampir saja membunuh tokoh utamanya.

Hanya karena meminta jajan,ia harus merelakan tas yang biasa menemaninya,terhempas di pinggiran kali. Bukan ia yang melakukan. Bukan… Tapi dia yang sangat dekat dengannya,yang dulu selalu menantikan kehadirannya.

Ya Allah,hati siapa yang tidak terluka melihatnya.
Bukan sedikit uang yang ia terima. Namun,malah sebuah sayatan luka pada leher dan hatinya. Astaghfirullah…

20022014

Bunda maafkan,bukan maksud ku menyalahkan mu. Aku tahu,mungkin alasan mu lebih kuat untuk memperlakukannya seperti itu. Mungkin saja pada waktu itu,memang tidak ada sedikitpun bekal yang bisa kau berikan padanya. Tapi bunda,maaf bukan begitu caranya. Bukankah Rasulullah pernah mengajarkan,bagaimana hati yang terlembut itu harus tetap kita jaga kelembutannya? Aku yakin bunda lebih paham🙂 Maafkan aku,bukan maksudku menggurui