Saat masih belajar ngaji online dengan Ustad/kak blank_on (dibaca : blangkon atau blank-on juga boleh),kira-kira setahunan yang lalu,ada satu hal yang selalu dikoreksi oleh si ustad,yaitu : “Mad nya kepanjangan mbak Riza”. Dan hari ini,mad,tepatnya mad thobi’iy,yang terpanjangankan dan menjadi bulan-bulanan itu,muncul lagi.
Ada apa dengan mu yang dulu hilang,kok kembali lagi sih? #eh…

Jum’at,ba’da ashr di Mesjid Asy-syifa RS Dr. Soetomo
kelas tahsin Qur’an…

Hari ini,ada yang istimewa di akhir sesi kelas tahsin ku. Mau tau apa? (Kalau ndak mau tau,juga ndak papa -_- ). Nah begini,ceritanya Ustad Diqi,ustad yang kurang lebih 3 bulan ini telah membimbingku ngaji-alias baca Qur’an-tahsin,menawarkan kami (Aku,Eci,mbak Nayla,mbak Rukminingsih,dan mbak Dyah) untuk tes ke kelas tahfidz. Waduh..#eh salah ekspresi,Alhamdulillah🙂 Sebenarnya ini adalah penawaran yang kedua kalinya. Dulu,aku dan Eci juga pernah ditawarkan oleh si ustad. Namun,karena kami tidak tau bagaimana prosedur tesnya,maka kisah tersebut terhenti tanpa ending yang pasti,haha… Ok,lanjut… Pada awalnya,aku sedikit kurang percaya diri untuk tes hari ini. Terang saja,bacaanku sungguh tidak enak didengar dan banyak koreksinya lagi. Astaghfirullah.. Tapi,mumpung lagi rame yang ikutan tes dan aku juga penasaran bagaimana tes naik ke kelas tahfidz,akhirnya ku putuskan untuk ikut  dalam barisan peserta. #Biarpun bacaan ku tidak sebagus teman-teman lainnya. Maju terus pantang mundur!

Nah,berdasarkan berita yang ditiupkan oleh mbak Dini,sensasi saat tes tahfidz itu…Subhanallah luar biasa! Di tes langsung oleh Ustad Rozi yang ngajar tahfidz dan hafidz Qur’an lagi. Allahu Akbar…

Eh sebelumnya kenalan dulu dengan mbak Dini nggeh.
Mbak Dini yang begitu istimewa dan nyaris sempurna. Di usianya yang masih muda,23 tahun,sudah hafal Al-Qur’an 30 juz #Subhanallah hafidzah… Beliau yang akrab ku sapa mbak Din ini, insyaAllah akan mondok di pesantren Darul Qur’an nya Ustad Yusuf Mansyur. Konon (bagi yang belum tau) untuk lulus tes dan menjadi santri di Darul Qur’an,MasyaAllah susah sekali… Kita harus jadi yang lebih luar biasa dari yang luar biasa. Dan mbak Dini ini adalah salah satunya. #Keren kan? Iri ya? Sama,aku juga iri,sangat iri. Belum lagi beliau juga memiliki rumah tahfidz dan ngajar tahsin di PTT Gubeng (tempatku belajar tahsin yang sekarang sedang diceritakan #promosi,hehe) . Subhanallah. Itulah sedikit tentang mbak Dini.

Kembali ke scene sebelumnya
Ada sedikit rasa cemas yang terselip. Dan cemasnya itu terbagi dua. Pertama cemas kalau-kalau nanti tidak lulus. Yang kedua cemas kalau lulus. #Loh? Kok bisa.. Begini,sebenarnya dari dulu ingin sekali bisa cepat naik ke kelas tahfidz. Motivasinya,agar hafalannya bisa nambah. Nah, kebetulan ini ada kesempatan untuk tes tahfidz. Jadi,rasanya sayang sekali jikalau harus berujung pada kata Maaf,you have to complete tahsin level first. Begitu sahabat…
Kedua,cemas kalau lulus? #Kok? Begini,sebenarnya (lagi) aku sedikit berat untuk meninggalkan kelasnya Ustad Diqi. Terlalu dini. Bukannya apa-apa. Ini disebabkan,karena di kelas tahsinnya Ustad Diqi,baru saja mulai diajarkan ilmu tajwid oleh beliaunya. Nah kalau naik ke tahfidz, otomatis bakalan jarang dapat materi dan bisa dikatakan tidak akan pernah. Jadinya,eman ilmunya Ustad Diqi tidak diserap dan diresapi dulu,hihi #kayak spons saja diserap -_-.

Aku jadi dilemma.
Tapi,apapun itu,lakukan yang terbaik.
Dan tunggu saja kemana air itu akan  dialirkan oleh Nya.
Asiik..

Ba’dha magrib
Atmosfir ketegangan itu kian terasa menyentuh tulang hingga lembaran Surat Yusuf itu terbuka.
Haduh.. Surat yang paling susah dan berat ini #batinku. Meskipun sebelumnya sudah latihan dan didengarkan oleh mbak Din,tapi tetap saja. Susssaaaaah…  
Buktinya saat tes,semuanya hilang. Banyak kesalahan berceceran di sana-sini. Bahkan ada ayat yang ku ulang hampir 5 kali. Ayat Al-Qur’an yang sama. Astaghfirullah… Memang surat Yusuf itu susah ngebacanya #Susah  ngebaca nya atau apa emang aku nya yang salah ya?-_- ngeles…

“Belajar tahsinnya sudah berapa lama?”
“Sudah 2 bulanan Ustad,dari Desember kemaren.
(Saking groginya,jadi salah memberikan informasi  -_-. Seharusnya itu sekitar bulan Oktober-November )
“Ohh, masih baru yaa?Hmm… Begini… Mad thobi’iy nya masih kepanjangan dan kadang tidak konsisten dalam membacanya. Ada yang pas,ada yang kepanjangan. Tapi,dengungnya sudah bagus. Jadi,nanti coba tes lagi ya. Sekarang belajar dulu di tahsin ya!”
“Iya,makasih Ustad”

Huaa… berarti ndak naik tahfidz ini.
Memang benar sih bacaanku sangat tidak bagus. Yasudahlah,tidak papa. Alhamdulillah,berarti masih diberi kesempatan untuk mendalami ilmu tajwidnya yang benar dulu. Fighting!!!

Ba’dha isya

“Mbak Din,Riza ndak lulus mbak. “
“Oh.. iya ndak papa. Kapan-kapan coba lagi tesnya ya. Oh iya, sebentar lagi ada kelas tahsinnya Ustad —– (lupa nama ustadnya,hehe). Ikutan yaa!”
(mikir sejenak #wah sayang kalau dilewatkan. Sikaaaaat  :D )
“Yaa mbak!”

Berhubung  ustad yang dimaksud lagi ngajar kelas yang lain,akhirnya digantikan oleh Ustad Galuh. Dan tahukah sahabat,saat ngaji dengan Ustad Galuh apa yang terjadi?
Ya,aroma kesalahan lama ku kian menyeruak.
Mad thobi’iy yang kepanjangaaaaan..

Huaaaa…. Harus belajar lagi dan lagi!
Alhamdulillah,meskipun gagal untuk naik ke kelas tahfidz,
namun bisa belajar dari 4 orang guru dalam sehari itu…
Ustad Diqi,Mbak Dini,Ustad Rozi,dan Ustad Galuh
Subhanallah LUAR BIASA!
Panen ilmu panen ilmu!😀

Yuk,perbaiki bacaan Al-Qur’an kita🙂
SEMANGAT!!!