“Kalau udah besar nanti,kamu mau jadi apa? Cita-citanya apa?”

Anak 1 : “Mau jadi pemulung kak!”
Anak 2 : “Jadi pengamen kak!”
Anak 3 : “Pengangguran.”
Anak 4 : “Ndak tau.”
Anak 5 :  ——–

“Loh? Kenapa mau jadi pengamen,pemulung,atau pengangguran? Kenapa tidak tahu?”

Wajah beku berhiaskan sedikit senyuman. Itulah jawaban yang mungkin paling elegan sebagai balasan dari  pertanyaan tersebut.

Keputih tegal,
16 November 2013

Semagnat-anak-anak-utk-narasi

Tahukah dikau sahabat?
Jawaban-jawabaan itu berhulu dari mereka yang masih duduk di kelas 2,4,5,6 sekolah dasar.

Mungkin saja apa yang keluar dari bibir mungil itu,hanya sekedar candaan belaka. Hanya guyonan untuk menghangatkan suasana. Tapi apa jadinya jika kata-kata itu benar adanya?

Untuk sekedar memulai menyimpul benang mimpi saja,mereka memiliki ketakutan yang luar biasa. Akan seperti apa jiwa-jiwa yang seharusnya asa membumi di sana?

Inilah realita anak-anak atau adik-adik kita saat ini. Hanya sanggup mengetikkan tinta putih dari sekian banyak warna yang mereka milki. Sungguh sangat disayangkan.

Ketika orang tua hanya bisa menyisakan 1 atau 2 jam untuk mereka. Lalu siapa lagi,yang bisa membantu memerangi rasa ketakutan itu dan menuntun mereka merangkai puzzle mimpi,kalau bukan KITA.

Ya,mereka membutuhkan kita untuk memulai dan menangkap kunang-kunang mimpi.

Mimpi = mereka + kita