Kita boleh mencintai seseorang atau suatu hal,tapi Allah jauh lebih dicintai. Inilah logika cinta

Kutipan kajian Rabu
di Taman Biomedik

cinta

Jika sahabat ditanyai tentang cinta,siapa yang akan singgah pertama kali dalam computer luar biasamu dan kenapa?

Ibuku
Tanpa beliau,aku tak kan pernah tahu betapa nikmatnya menghirup oksigen dengan penciumanku sendiri. Saat masih berada dalam rahimnya,beliaulah satu-satunya tabung oksigenku. Hingga suatu ketika,melalui perjuangan dan penantian yang panjang,beliau melahirkanku ke dunia tanpa cairan yang dulu aku harus bergantung padanya. Beliau memperkenalkanku pada udara. Ibu adalah cinta pertamaku.

Sahabat(s)ku
Karena mereka,aku menemukan melodi kehidupan. Dari mereka aku belajar bahagia,tertawa,berbagi,menangis,dan sedih. Mereka pemberi celupan warna yang terindah.

Calon Suamiku
Pemuda yang begitu ikhlas mengambil alih seluruh tugas ayahku,mengurusiku. Orang asing yang mungkin sebelumnya tidak pernah ada dalam kehidupannya. Ia yang akan berjuang menarik tanganku untuk ke surgaNya. Ia yang akan juga rela,jika suatu saat nanti harus ikut terseret bersamaku ke neraka,karena dosa yang menggorogoti tubuh istrinya ini. Suamiku adalah cinta terakhirku.

Tentunya masih banyak lagi pendapat yang akan menghujani pertanyaan ini. Tidak cukup waktu sehari,seminggu,bahkan tak terhitung untuk menghimpun berjuta pendapat yang ada. Tapi,coba sesekali  kita renungkan mengenai cinta ini. Sudah benarkah makna cinta yang selama ini kita pahami?

Mencintai adalah fitrahnya makhluk Allah. Tak terkecuali binatang. Kita juga pasti akan menemukan yang namanya cinta pada mereka.

Cinta yang dimiliki manusia,apakah sejatinya milik kita?

Cinta yang kita miliki,cinta yang kita terima dari orang lain,bukanlah milik kita,bukan juga milik mereka. Ia adalah rasa yang dititipkan oleh penciptanya. Rasa yang dipinjamkanNya beberapa saat saja. Rasa yang mudah terhembus dan lalu pergi dari tempat penitipannya. Di manakah tempat penitipan itu?
Di hati kita. Ya,di hati kita semua.

Setiap kita hanyalah orang yang dititpkan rasa cinta itu. Maka pantaskah jika kita mengagungkan dan mencurahkan rasa yang amat sangat mendalam kepada mereka yang juga dititipi?

Renungkanlah…

lov

Mari kita belajar untuk mencurahkan cinta sepenuhnya pada sang pemilik cinta,Allah Ya Rahim. Aku juga masih belajar dan sungguh sangat berat memang,bagiku. Tapi cobalah pertanyakan pada hati kita. Cinta makhluk dunia yang hanya titipan ini atau cinta dariNya yang sebenar cinta yang lebih kita inginkan?

Al-baqorah (2): 165
“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya pada Allah”