“If you can not be the best,then be different!”

Ketika kebanyakan orang akan memilih café atau kantin untuk memenuhi panggilan alamiah si dia,berbeda halnya dengan kami. Siapa kami? Dua orang calon ibu😀 yang InsyaAllah dan Alhamdulillah selalu memilki ide yang sama untuk hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang sedikit/banyak out of mind.

Siang itu,pukul 11.30,kami mempercepat langkah menuju tempat yang kami beri label leisure center,perpustakaan. Harapan dari langkah cepat itu ialah agar si ibu/bapak petugas belum menutup kesempatan memasuki tempat tersebut. Namun sayang,prediksi kami agak keliru kali ini. Perpustakaan telah tutup dan akan kembali dibuka sekitar pukul 1. Itu artinya kami harus menunggu sekitar 1 jam lagi dari sekarang (sekarang pukul 11.50).

Kami pun mencari sebuah tempat untuk ditempati.
Beberapa menit setelah berhasil bernafas dengan normal ,my alarm starts ringing. Tidak mengenakkan memang bagaimana dia menghasilkan sebuah nada. Tapi  apa daya kita orang. Ini memang waktu nya pengisian. Tanpa komando,tanganku pun langsung meraba sesuatu yang tersembunyi di balik ransel,yang sepertinya telah memohon dan meminta untuk dikeluarkan. Aku pun mendiskusikan perihal ini dengan Echi. Gayung bersambut. Kami memutuskan untuk membebaskannya dari belunggu si ransel  segera. Dan sahabat bisa tebak benda apakah itu? Ya,benar sekali,bekal makan siang yang dibalut dengan kertas ala rumah makan.

Cerita awalnya seperti ini…
Tadi pagi,aku sempat berbincang dengan my sharing partner mengenai perjalanan yang akan kami tempuh dan bagaimana menghadapi medan di sana. Diskusi pagi yang menurut ku cukup hangat dan alot sehingga menghasilkan sebuah keputusan,yaitu membawa bekal sebagai persedian. Bukannya pelit atau bagaimana,tapi demi satu hal yang tidak mungkin kami sebutkan alasannya pada khalayak kenapa. hihi…

Nah,kembali lagi, di depan perpustakaan
Selayang kami lepaskan pandangan untuk memastikan keadaan. Ada seorang mahasiswi yang sepertinya juga menunggu  pembukaan,duduk di salah satu sudut perpus #Alhamdulillah cuman seorang. Jadi,bisa dikatakan kondisi saat itu cukup sepi. Kesimpulannya,ini adalah waktu yang sangat tepat dan kondusif bagi kami untuk membuka lapak alias makan siang😀 Dengan sigap aku pun menyambar benda berselimutkan kertas cokelat yang masih agak malu-malu untuk show off itself. Tapi perasaan itu seketika hilang saat kami memberikan sugesti,”Tidak akan ada yang tahu siapa kita,kecuali jika suatu hari nanti kita sempat menggemparkan tempat ini. Selama hal itu belum menguap ke permukaan,so do not think too much what people are going to say.”
Bismillahirrahmanirrahim…

Sempat beberapa orang yang lalu-lalang sedikit terkejut dengan apa yang sedang kami lakukan. Menempati posisi tepat pada jalur yang sering digunakan oleh pejalan kaki,memang sedikit mencuri perhatian,walaupun pada saat itu kebanyakan mahasiswa melakukan sholat jum’at.  Ditambah lagi dengan romantisme sekertas berdua (bukan sepiring berdua) yang tiada tandingannya yang membuat mereka semakin shock. Perhaps,in their mind,kami adalah anak yang aneh,unik dan antik. Tapi tidak mengapa,yang terpenting kami tidak boleh membiarkan terjadinya deficiency of energy/nutrients di otak yang bisa menyebabkan terjadinya kematian sel neuron,dan berujung pada hilangnya se-dua orang generasi bangsa. Naudzubillahi min dzalik

Hingga tibalah saatnya mengakhiri the unforgettable lunch time itu

Ada satu pelajaran yang dapat kusimpulkan
Jangan takut menjadi berbeda!

Surabaya,11 Oktober’13