NZ,our next dream,next destination!!!

Judul tulisannya keren yaa??😀 Semoga this statement will be come true one day. Amin… Membaca judul tulisan kali ini,pasti tidak terlepas dari yang namanya New Zealand. Benar sekali! Kali ini aku ingin sedikit berbagi cerita dan informasi tentang NZ,especially about its education. #Karena tulisannya beraroma luar negeri,jadi dalam penulisan nanti,akan ada beberapa kata yang keinggris-inggrisan,harap dimaklumi ya sahabat,haha..😀

Baiklah,awal ceritanya seperti ini…
Beberapa hari yang lalu,sebelum keberangkatan ku ke Surabaya,dengan disengaja aku mampir ke halaman berandanya facebook. Dalam kesengajaan itu,aku menangkap sebuah postingan dari account nya New Zealand Embassy yang isinya bercerita tentang education fair di Jakarta dan Surabaya. Wah,kesempatan ini! It’s FREE,so wajib datang!!

25 Agustus 2013
Hari ini adalah hari terakhir PPKMB bagi program alih jenis. Itu artinya,kami,anak alih jenis,terkhusus lagi bidan,bisa lolos dari belenggu mereka,senior yang junior. Senior yang junior? Maksudnya senior dari segi lamanya sebagai penduduk  UA dan junior dari segi umur dibandingkan kami,haha…  Tepat pukul 12 siang,kami yang beranggotakan 7 orang,peserta PPKMB yang paling badung,suka datang  terlambat, dan selalu memaksa panitia PPKMB untuk memulangkan kami lebih awal,akhirnya bisa menghirup udara bebas😀. Sekilas mengenai anggota grup,dengan bangga aku perkenalkan diriku sendiri😀#wooo.. kePD-an. Next : Eci #berwajah polos,tetapi memiliki jiwa yang sedikit bertolak belakang dengan wajah polosnya,haha… Kemudian Lady #Nah,jika kami tidak mengetahui di mana suatu tempat berada dan angkot apa yang mesti dinaiki,dialah yang menjadi juru bicara kepresidenan kami,ciee… Kak Dessy,kak Pipit,dan Ridya. #Mereka ini adalah anggota grup yang paling netral menurut ku. Dan terakhir adalah kak Rezy #Senior kami atau lebih akrabnya sesepuh kami. Nah, beliau inilah yang menjadi penyelamat kami saat senior yang junior itu mulai merajalela. Salah satu bukti nyata nya,yaitu ketika aku dihadang untuk pulang lebih awal,disebabkan wajahku yang kurang meyakinkan,karena sedikit mungkin lebih junior dari mereka #merasa awet muda,haha… Dengan bantuan kak Rezy,sang hero, senior yang junior itupun langsung membebaskanku.# Give her applause😀 Itulah sedikit perkenalan dari kami. Ok lanjut…

Berdasarkan informasi yang diperoleh,tempat di mana pameran itu diselenggarakan,ternyata lumayan jauh juga. Mungkin taxi adalah alternative satu-satunya yang paling tepat untuk menjangkau daerah tersebut. Di samping kami tidak mengetahui lokasi pastinya,jika naik angkot pun,kami tidak tahu harus naik lyne berapa. So,taxi is the best choice. Tapi yang menjadi permasalahannya,1 taxi itu tidak bisa menampung 7 orang sekaligus. Setelah berdiskusi beberapa saat,akhirnya kami memutuskan untuk menyewa angkot kosong saja. Alhamdulillah,dia yang dinanti-nantikan datang juga. Dengan tarif 70 ribu,kami sampai di tempat tujuan. #Lumayan 10 ribu perkepala.

Shangri la hotel-ini dia tempat New Zealand Education Fair nya
Di dalam ruangan yang cukup luas itu,kini telah berjejer beberapa universitas-universitas terkemuka di NZ. Subhanallah luar biasa!!! Saat akan memasuki ruangan,sebagai sedikit gambaran,panitia memberitahukan kami beberapa pilihan stan yang sesuai dengan bidang ilmu yang kami cari. Khusus untuk midwifery,panitia menyarankan untuk mengunjungi stan AuT,Victoria University,dan Otago.

Baiklah,the first stan is Otago polytechnic. Kenapa? Begini,sewaktu D3,para dosen kami,khususnya Ibu Meilinda Agus dan Ibu Lisma Evareny,dulu selalu memotivasi kami untuk melanjutkan pendidikan ke Otago University. Otago,Otago,dan Otago! Kata-kata ini sering kali diucapkan berulang-ulang. Oleh sebab itulah,Otago serasa teman lama yang tidak pernah kami lihat wajahnya,dan kini di hadapan mata,so we have to meet it first!

Saat berada di stan nya Otago,secara reflek aku dan Lady memisahkan diri dari grup. Kami berkelana ke Victoria University. Tujuannya,agar waktu lebih efektif dan informasi yang didapatkan lebih cepat dan beragam.  Di stan Victoria University,kini  telah ada dua orang,satu representative dari NZ dan satu lagi dari Indonesia. Nah,yang representative dari NZ ternyata telah ada yang punya,maksudnya tengah melayani mahasiswa lain yang juga membutuhkan informasi. Yah… Mungkin belum rezeky buat ngobrol dengan bulenya ya,yaudah dengan yang Indonesia saja. Ibu yang dikenal dengan nama Susan Tjong,branch Director di SUN Education Group ini,memberikan begitu banyak info tentang Victoria University. Berikut rincian info yang masih ku ingat. Untuk mengambil Master of Midwifery di Victoria University,membutuhkan waktu lebih kurang 1 tahun. Nah,program masternya ini hanya menawarkan research saja. Tidak ada coursenya. Menurut si ibu,jika ingin melanjutkan master degree,sebaiknya research yang kita lakukan,berhubungan dengan penelitian professor yang akan kita jadikan target sebagai pembimbing. Jadi,kita harus rajin mengunjungi website yang berisi journals beliau dan menjalin hubungan baik. Untuk persyaratan lainnya,tentu kemampuan bahasa Inggris kita harus topcer. Bayangkan,mereka mempersyaratkan 7.0 untuk IELTS #MasyaAllah tinggi bangeeeeet. Selain itu, kita juga harus memiliki experience selama lebih kurang 2 tahun #wah… Sepertinya aku belum bisa masuk kategori ini. Karena ceritanya kan belum menyukai praktek,hehe… Untuk biaya pendidikannya selama setahun lebih kurang 22.600 dollarnya NZ. #Huaaaa…. Mahal sekali! Sempat juga kami bertanya tentang scholarship karena mendengar biaya kuliah yang luar biasa ini. Dan jawaban si Ibu, “Sayang sekali,kami di universitas tidak menyediakan beasiswa untuk biaya perkuliahan.” #Langsung  deh tarik nafas dan hufh… Menurut si ibu,kebanyakan di NZ,universitas tidak menyediakan scholarship untuk master degree nya. Tapi,tidak tertutup kemungkinan bagi kita untuk mendapatkan scholarship di NZ. Bisa melalui government atau mungkin melalui professor yang akan membimbing kita. Jadi coba saja,karena mencoba itu gratisss…😀

Victoria University

Itulah tadi Victoria University. Selanjutnya Otago. Eh,ngomong-ngomong ke mana perginya rombongan Eci dan kawan-kawan ya? Wah,kami terpisah ini. Tapi tidak mengapa,the show must go on. Nah di Otago,yang ada hanya representative  dari Indonesia,sayang sekali. No problem. Mother tongue is the easiest language! Lain di Victoria,lain lagi di Otago. Untuk menempuh master degree di Otago,kita harus melewati dulu yang namanya  postgraduate program. After that we can apply for master degree. Untuk postgraduate sendiri,membutuhkan waktu sekitar 1 tahun,ditambah 2 tahun master. So,untuk mendapatkan gelar MMid. ,kita harus menempuh study lebih kurang 3 tahun. Mungkin ada sahabat yang bertanya,kenapa harus mengikuti program postgraduate terlebih dahulu. Seperti yang kita ketahui,standar pendidikan di Indonesia dan NZ sungguh sangat berbeda,begitu juga dengan quality nya. Jadi,butuh diadakan yang namanya penyetaraan,atau bahasa kerennya matrikulasi. Dalam 3 tahun akan ada course dan research study juga. Persyaratannya hampir sama dengan Victoria University,your IELTS score must be over 7.0!! :( 

Otago polytechnic

Aku dan Lady,kini semakin kehilangan jejak teman-teman.  Tapi hal itu tidak menyurutkan langkah kami untuk terus mendatangi satu stan lagi yang masih tersisa,yaitu AuT. Tapi sayangnya,di stan AuT masih ada pasien yang sedang berkonsultasi. Sembari menunggu,kami pun mengelilingi ruang pameran. Target kami saat itu,hanya satu,practice our English. Maka jadilah kami singgahi beberapa stan. Sampai-sampai kami sempat memasuki universitas yang dari awal kami sudah mengetahu bahwa universitas tersebut tidak menyediakan program study midwifery. Iseng-iseng ingin mengobrol dengan bule ceritanya,hehe…

5 menit berlalu,dan kami pun telah berkeliling beberapa kali di ruangan yang sama. Tapi,si pasien yang di AuT belum juga beranjak. Akhirnya kami  celingak-celinguk dan berdiri mematung di tengah jalan,seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Hingga pada akhirnya seorang representative dari Lincoln University mendekati kami. Mungkin karena wajah kami yang polos ditambah dengan kerutan putus asa,membuat beliau tertarik mendekati kami yaa,haha…

“Hello! How’re you?
“I’m fine,how about you?”
“Fine too. Well,how can I help you?
“Hmm.. Actually we’re looking for some universities which have master of midwifery”
“Midwifery? Unfortunately we don’t have midwifery program here. But wait…”

Eh si bule pun bergegas menanyakan ke sohibnya dari universitas lain yang menyediakan program midwifery. Wah.. si bule tampan ini berhasil membuat teman-temannya juga ikut sibuk. Padahal…. Kami sudah tahu universitas mana saja Pak! Haha… Tapi tidak apa-apa. Sekali-kali ngerjain bule dan bikin mereka repot😀 Terima kasih kepada representative dari Lincoln University yang baik hati🙂

Wah.. ini lama sekali ya yang di AuT! Alhasil,kami pun berdiri dengan tampang yang sedikit memelas tepat di depan stan AuT. Berharap representative bulenya mendekati kami. Dan Subhanallah,ternyata sang bule,yang menceritakan bahwa istrinya baru saja melahirkan,berdiri dan mendekat. Dia memperlihatkan foto buah hatinya kepada kami . Ia juga menjelaskan bahwa anaknya ini,dilahirkan dengan bantuan forcep,dan bidanlah yang menolong persalinan istrinya. Oleh sebab itulah,ia sangat mengagumi seorang bidan. Dan kami merasa bangga mengaku dan menjadi bidan/mahasiswa bidan. Kita lanjutkan pada tujuan awal kita. AuT,Auckland University,ternyata menawarkan program master yang bisa ditempuh dalam waktu 1-1,5 tahun,tanpa dipersyaratkan harus memiliki  work experience #wah,aku banget ini,haha…  Tetapi,master degreenya ini,tidak berdiri sendiri. Maksudnya,midwifery tergabung dalam Master of Health Practice. Jika di Indonesia,seperti jurusan public health,di dalamnya akan ada berbagai bidang peminatan,seperti biostatistik,epidemiology,kespro,dan lainnya. Dan midwifery adalah bidang peminatan atau spesialisation dari Master of Health Practice. Eh tunggu dulu,setelah aku membaca buku panduannya,ternyata midwifenya butuh pengalaman kerja😦 wah,si bapak pemberi harapan palsu ini. Yang mana yang benar infonya? Ya sudahlah,nanti di searching aja di web untuk lebih jelasnya

AUT

Sudah hampir ashr,kemana perginya teman-teman yang lain ya? Eh ternyata sedang menikmati hidangan GRATIS. Subhanallah,informasi gratis,buku panduan gratis,dan sekarang makanan + kopi gratis. Rugi sekali jika dilewatkan. Aku dan Lady pun dengan sigap mengambil segala jenis hidangan yang tersaji. Semua rasa kami tumpuk,mumpung gratis,hehe…  Oh iya,cerita punya cerita,ternyata teman-teman serombongan Eci,tadi itu diajak oleh representative Otago menemui Ambassadornya New Zealand. Wow.. Subhanallah keren!!! Pantesan tadi di Otago cuman ada yang Indo… Ternyata… Eci dan teman-teman sempat berdiskusi dengan Ambassador NZ. Dalam diskusinya, beliau mengatakan bahwa masalah utama mahasiswa asing untuk study ke luar negeri adalah English dan Cost. Oleh sebab itu beliau menyarankan “Please Improve your English!!” Wah.. PR besar ini..

Itulah cerita kami at NZ Education fair…
Subhanallah,sungguh pengalaman yang luar biasa