Mengutip status facebook seorang teman,mbak ulfah Ls  yang direvisi sedikit
“Dulu mengospek sekarang diospek”.
Diospek,yah inilah kegiatan yang sedang ku jalani beberapa hari ini. Terhitung Senin,19 Agustus hingga hari ini.

Sebagai mahasiswa baru tentu ritual semacam ini,yang selanjutnya disebut ospek,wajib dijalani oleh seluruh mahasiswa baru tanpa terkecuali,termasuk aku,mahasiswa transfer D3 ke S1.Tidak ada keistimewaan bagi alih jenis,yang notabenenya lebih senior dari segi umur,bisa mengelak dari yang namanya ospek hari pertama #berarti ospek hari selanjutnya bisa yaa…Mau tidak mau ,suka tidak suka,harus ikut! Karena hari pertama adalah hari pengukuhan mahasiswa. Hari di mana para mahasiswa baru disahkan dan diakui secara de facto dan de jure sebagai keluarga besar suatu Universitas. Nah,istilah ospek sendiri,di kampusku dikenal dengan sebutan PPKMB-UA (Program Pembinaan Kebersamaan Mahasiswa Baru Universitas Airlangga).

Selama PPKMB,tentu ada momen-momen aneh yang terjadi  padaku dan lingkungan sekitar. Yang kadang membuatku merasa sedikit susah mengartikan rasa. Apakah aku harus benci,jengkel bahagia,bangga,tertawa ataupun marah.  Ah.. apapun itu,beginilah ceritanya…

kampus c

#Hari Pertama

Hari ini semua mahasiswa baru (maba) ,baik S1,D3,dan alih jenis, dikumpulkan dalam sebuah aula besar,ACC (Airlangga Convention Center). Aula yang menurutku cukup ajaib. Karena selain bisa menampung lebih dari 6000 mahasiswa,di sini kita juga bisa menemukan orang-orang  dengan suku yang berbeda-beda dari berbagai daerah di Indonesia,di dalamnya. Mulai dari Sabang sampai Merauke. Ada dari Jambi,Tarakan,Lombok,Bali,Bandung,Ambon,Palembang,tak ketinggalan ada dari Padang-Bukittinggi. #hehe. Karena keheterogenan mahasiswa ini,itulah kenapa kampusku disebut kampus peradaban #ini menurut analisa ku saja😀. Ok,lanjut… Sebelum memasuki aula,para maba dikumpulkan terlebih dahulu di halaman,di depan aula. Guna mengisi absensi kehadiran. Pada saat absensi inilah, aku dan teman-teman dari Padang,dan juga beberapa teman alih jenis lain dari Sumatera,sempat salah kamar. Maksudnya salah kamar,salah memasuki barisan. Kami yang seharusnya berada pada jalur mahasiswa pendidikan bidan,ternyata antrian panjang yang sedari pagi kami tunggui ini adalah barisan anak kedokteran. Alhasil,terpaksalah mengulang kembali antrian dari belakang. Tapi Alhamdulillah,karena mereka yang diterima dalam jurusanku tidak begitu banyak ,berkisar antara 70-100 orang,dan pagi ini sepertinya kamilah rombongan terakhir alih jenis bidan,jadi tidak perlu mengantri cukup lama untuk sekedar membubuhkan tanda tangan pada absensi. Hanya menunggu sekitar 5-10 menit dan kami pun kemudian memasuki aula di lantai duanya.

ACC (Airlangga Convention Center)
Ketika memasuki aula,aku merasakan atmosfer yang berbeda. Batinku seolah berbisik dan bertanya,

”Di sinikah nantinya aku akan diwisuda? Di tempat yang subhanallah megah ini?”

Berdialog dengan diri sendiri. Itulah yang ku lakukan saat kakiku mulai melangkah memasuki ACC. Rasa percaya dan tidak percaya terus berpacu untuk meyakinkanku,bahwa ini adalah kenyataan atau bukan. Aku pun sempat mencubit lengan kiriku,untuk membuktikan bahwa ini adalah kenyataan. Dan memang benar,cubitan itu sakit. Ini adalah kenyataan. Aku telah berada di kampus impianku. Kampus yang sejak semester akhir saat belajar di D3,menjadi target terbesar dalam hidupku. Alhamdulillah target itu telah ter checklist🙂

Melihat kondisi ruangan yang sudah ramai ditempati para maba,tidak mungkin rasanya kami yang berjumlah  8 orang ini ,untuk duduk berdekatan. Akhirnya,kami pun berpencar. Aku dan Eci,teman seperjuanganku. Sama-sama ikut tes Unair,sama-sama Alhamdulillah lulus,sama-sama satu kamar kost,dan insyaAllah akan selalu bersama mengejar benang-benang mimpi,mulai  mengamati tempat yang bisa kami tempati berdua. Menghadap ke para dosen dan LCD super besar,berdekatan dengan paduan suara,adalah posisi duduk yang sangat tepat dan paling strategis menurutku. Dan kamipun memilih tempat tersebut untuk ditempati. Di sana,tepat di sebelah kanan ku,ada seorang maba berwajah oriental yang sepertinya kesepian karena tidak ada teman yang satu sekolahan dengannya. #Kasihan,seperti anak hilang saja,hehe. Nah,untuk mengisi kesendirian si maba oriental itu,aku mulai mengajaknya bercakap-cakap. Percakapan yang sedikit agak kaku itu,ternyata sempat mengalirkan sebuah pertanyaan

”Kamu jurusan apa?”
”Alih jenis bidan”
Kata-kata Alih jenis bidan,sedikit banyak mempengaruhi ekspresi maba oriental
”Oh alih jenis! Aku kira regular dari SMA mbak. Habisnya wajahnya tidak seperti anak alih jenis.”

Anak alih jenis???? Apa maksudnya ini? Aku memang bukan anak alih jenis mbak. Aku anak manusia. Tapi kalau maba alih jenis bidan,nah itu baru aku mbak. Aduh adik ini,jangan dipotong bidannya, dik! Kalimatnya bisa berubah horror jika tidak lengkap disebutkan,hihihi😀

Baiklah,kita tinggalkan adik manis berwajah oriental itu. Kemudian,setelah sambutan dari beberapa dosen (tepatnya bukan sambutan,tapi peluru- peluru motivasi),nah ini dia yang ditunggu-tunggu. Sambutan dari Ketua BEM-UA. Kenapa? Karena istilahnya ketua BEM itu adalah Presidennya rakyat mahasiswa di negara kampus. Jadi,siapa sih yang tidak mau mengetahui presiden negaranya kan? Ok,komentarku tentang ketua BEM-UA ini : Subhanallah,sangat kharismatik. Bayangkan, tatapan awal dan senyuman yang dilemparkannya saja bisa mengundang antusiasme para maba untuk bersorak dan bertepuk tangan. Belum berkata se huruf pun lo… Itu baru awalnya saja. Kalau kata beliau “Ingat,ini baru kata sambutan ya!”. Belum lagi saat beliau membacakan sebuah pantun berbahasa Jawa. Tentunya dengan accent jawa yang begitu kental,ditambah lagi dengan bahasa tubuh yang berapi-api seperti sedang melakukan orasi. Sungguh luar biasa. Sosok yang juga memiliki selera humor yang tinggi. Sampai-sampai,bisa membuat orang yang biasanya tidak pernah senyum, tertawa terpingkal-pingkal,hahaha. Lebih lanjutnya tentang ketua BEM ini,akan ada nanti insyaAllah pada cerita ospekku yang ke 3.

Ada satu orang lagi yang menarik perhatianku dan beberapa maba lainnya,yaitu pemandu paduan suara. #Kalau tidak salah istilah untuk pemandu paduan suara,dirigen ya? Kenapa menarik,karena beliau adalah seorang laki-laki dengan gerakan tangan yang jauh lebih lembut dan indah dari pada gerakan tangan seorang perempuan. Selain itu,yang membuat beliau berhak untuk lebih dikagumi lagi adalah cara beliau  menginstruksi kepada anggotanya. Kapan mereka harus masuk pada nada-nada tertentu,kapan harus diam,dan kapan semuanya harus bernyanyi bersamaan. Keindahan gerakan tangan yang dikemas dengan sangat rapi dan tepat. Sungguh luar biasa. Jangan-jangan beliau adalah keponakannya Mas Adi MS atau Mas Erwin Gutawa ya? Hahaha

Ya begitulah hari pengukuhan mahasiswa baru.
Kata Sambutan,sambutan dan sambutan. Yuk mari disambut! hehe

Udahan,capek… Besok masih ada ospek di fakultas
to be continued…