Berbicara tentang taman kanak-kanak,tentu merupakan suatu hal yang paling menyenangkan untuk diceritakan. Kenapa? Karena masa ini adalah masa yang paing indah dalam sejarah kehidupan seorang pelajar. Masa di mana tidak ada tekanan akibat tugas yang serumah,ditambah lagi tidak adanya gossip tentang kehadiran guru-guru killer. Sebenarnya aku kurang sependapat dengan gelar “killer” ini,killer = pembunuh. Kurang pas ya,karena kenyataannya aku sendiri belum pernah menemukan kasus itu pada guru-guruku. Mungkin lebih pantas jika disebut guru horror/mengerikan,haha…

Fakta membuktikan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan,maka kadar keindahan terhadap masa tersebut semakin berkurang #pengalaman pribadi,hehe…

Kembali lagi ke topic awal,TK (taman kanak-kanak). Ketika kita ditanyai mengenai taman kanak-kanak,tidak cukup rasanya beribu kata mewakili apa yang kita rasakan pada saat itu,bukan? Intinya masa taman kanak-kanak itu adalah masa di mana kita bebas dari belenggu dunia dengan segala tuntutannya. Bebas berkarya,bermain,berekspresi. Namanya juga “Taman”. Mau berbuat apa saja terserah. Mau berlari,mau duduk,mau nangis,mau tertawa,mau bergelut/berkelahi,silahkan. Ups,kalau bergelut/berkelahi tentu akan mendapatkan hukuman. Contohnya adikku yang sewaktu TK dulu,dihukum tidak boleh membaca iqro’ gara-gara bergelut. Wah… horrornyaa…

Kindergarten

Nah kali ini,sedikit aku ingin bercerita tentang guru-guru  yang telah menghiasi lembaran kanak-kanakku.

Tahun 1999,itulah pertama kalinya aku menginjakkan kaki pada bangku sekolah,di TK Islam Jam’iyyatul Hujjaj.

Masih teringat,dulu aku dibimbing oleh seorang ibu yang cantik sekali. Yang tangannya selalu ingin kepegangi saat berjalan bebaris memasuki kelas. Buk Asna,beliaulah yang mendidikku selama setahun di TK. Guru yang paaaaaling baik menurutku. Pernah suatu ketika,aku mengalami suatu kejadian yang jika diingat-ingat,sungguh memalukan. Aku ngompol di sekolah,hahaha… #Namanya juga masih anak-anak yaa,hehe... Ketika itu dalam barisan aku menangis sekuat-kuatnya,dan tentu menjadi pusat perhatian para guru. Ibu Asna selaku wali kelas ku pun langsung mendekatiku dan bertanya,”Riza kenapa,Nak?”“Ngompol Bu.” Wah,langsung deh si Ibu memegang tanganku dan membimbingku ke kamar mandi. Setelah kejadian itu,aku maluuuu sekali kepada teman-teman. Selain dikenal sebagai anak yang bernyanyi pertama kali di depan kelas #gaya nyaa..,kini aku juga dikenal sebagai ratu ngompol,hahaha…

Di kelas A (seingatku,ini nama kelas ku dulu),aku bertemu dengan teman-teman yang subhanallah luar biasa. Pernah membayangkan sekelas dengan bule? Sama, aku juga tidak pernah membayangkannya. Tapi.aku mengalaminya. Bahkan kami duduk bersebelahan. Kulitnya putih,berambut ikal dan pirang,tapi matanya coklat. Tentu karena berbeda dengan teman-teman yang berambut hitam pada umumnya,aku berasumsi bahwa teman ku yang satu ini adalah bule. Ahh…ternyata setelah berbicara,ini mah asli orang Indonesia!

Next. Selama di TK,di bawah bimbingan Buk Asna,aku dan teman-teman pernah menjuarai lomba shalat jenazah,seingatku juara 2 se-Kota Bukittinggi ,Alhamdulillah😀 Karena seringnya latihan shalat jenazah sebelum perlombaan,nasyid

Bila izrail datang memanggil,jasad terbujur dipembaringan,
Seluruh tubuh akan menggigil sekujur tubuh kan kedinginan…

sangat akrab di telingaku. Jika dihayati,liriknya begitu dalam dan bisa dijadikan pelajaran🙂

Itulah sedikit ceritaku bersama Buk Asna

wallpaper-kartun-tk

Satu lagi guru yang paling ku ingat sewaktu TK adalah Buk Ning. Buk Ning ini adalah ibu yang pertama kali mengajarkanku mengaji. Mulai dari Iqro’ 1 sampai Al-Qur’an,beliaulah yang membimbingku. Berbicara tentang mengaji bersama Buk Ning,ada satu memori yang sampai sekarang masih saja ku ingat. Ceritanya begini..

Suatu ketika,aku menemukan kesulitan dalam membaca iqro’,entah iqro’ berapa,aku lupa. Intinya halaman yang ku baca itu,sampai diulang lebih dari 3 kali pertemuan. Nah,pada pertemuan selanjutnya,aku masih saja belum lulus dari halaman tersebut. Mungkin karena masih anak-anak dan agak sensitive,sedikit saja nada bicara sang ibu berbeda dari biasanya,aku langsung mengartikan bahwa Buk Ning sedang marah kepadaku saat itu. Terang saja,sepulang sekolah aku menangis dan mengadu kepada kedua orang tuaku perihal si ibu. Hal ini pun berimbas pada keesokkan paginya. Aku tidak mau pergi ke sekolah,dengan alasan Buk Ningnya pemarah.#Wah padahal si Ibu baik sekali,akunya saja yang perasa,ckckckc. Segala bujuk rayupun dilakukan oleh kedua orang tuaku. Hingga akhirnya,orang tuaku datang ke sekolah dan menemui Buk Ning.

”Buk Ning,nggak marah kok sama Riza.”

Fiuh… Lega nyaa… Mendengarkan ucapan tersebut,serasa dunia kembali bernyanyi untukku.  Aku pun akhirnya mau kembali ke sekolah. Dan semenjak itu,hubungan ku dengan Buk Ning juga kembali membaik . Bahkan bertambah mesra hingga aku menamatkan pendidikan di TK tersebut.

Wah ternyata,di mata Buk Ning aku sungguh sangat special yaa,hehe.

Pernah waktu itu,ketika aku akan diantar ke Palupuh untuk melaksanankan praktek kebidanan.

Sebelum menuju rute perjalanan ke Palupuh,aku dan keluarga mampir dahulu ke sekolahan adikku,guna memberitahukan bahwa mungkin orang tuaku agak telat kembali ke rumah. Ketika kami sedang berhenti di depan sekolah,lewatlah sesosok ibu-ibu. Awalnya aku ragu untuk menyapa. Takut,jangan-jangan salah orang. Atau jikapun benar itu beliau,takut jangan-jangan beliau tidak mengenaliku sehingga tidak mengacuhkan sapaan itu. Tapi ternyata pandangan kamipun bertaut,lama sekali. Mungkin karena merasa pernah mengenal wajah satu sama lain yaa. Akhirnya keluar lah kata-kata yang telah ku persiapkan dari tadi.

“Buk Ning!”
“Eh iyaa.”
“Buk,ini Riza,murid ibu sewaktu di TK dulu!”
“Oh iyaa,pantesan tadi saya lihat wajahnya,rasa kenal sekali.”
“Iya buk,yang waktu itu orang tuanya ke sekolah gara-gara dikira Buk Ningnya  marah.”
“Haha.. iya,Ibu ingat. Wah sudah besar ya anak Ibu sekarang.”
……………
Subhanallah,Buk Ning masih ingat dengan wajahku! #Ternyata dari TK sampai sekarang wajahku tidak berubah ya.. haha..

Begitulah memori masa kanak-kanak yang sulit ku lupakan.

Aku teringat sebuah lagu yang dulu sering diperdengarkan sewaktu TK

Taman yang paling indah hanya taman kami
Tempat belajar dan bermain.
Tiada yang paling indah selain taman kanak-kanak
(Liriknya ingat-ingat lupa ,eh lupa-lupa ingat. Kebanyakan lupa dari pada ingat nya)

images