Sensasi menjadi anak sulung yang memiliki adik bungsu dengan jarak antara kami yang lumayan jauh (14 tahun) sangat luar biasa. Kenapa? Karena bisa latihan menjadi seorang ibu,haha… Ketika orang tua berhalangan untuk menghadiri kegiatan si bungsu,si sulung  tentu akan menjelma menjadi orang tua baginya. Mulai dari menghadiri acara ulang tahun,acara perpisahan,wisuda,bahkan menjadi asisten antar jemput.# Benar-benar paket latihan menjadi ibu yang komplit,haha…

187903_bermain-di-kawasan-banjir_663_382

Nah,hari ini ceritanya  si bungsuku masuk sekolah.  Ini adalah hari kedua baginya ,yang mestinya menjadi hari ke empat. Dua hari tidak masuk karena ketidaktahuan akan jadwal sekolah yang telah berubah. Si bungsu, sang adik “bujang”, pagi ini ia memintaku untuk mengantarkannya ke sekolah. Asisten antar jemput adalah job pertamaku hari ini,fiuhh..

Pagi buta yang membahagiakan bagi si bungsu. Terbukti,sebelum pukul 7 saja,ia telah siap dengan pakaian merah putihnya dan langsung merengek kepadaku agar cepat bersiap-siap. Memang si bungsuku ini sangat bersemangat untuk  sekolah dari semenjak ia TK. Mungkin kenyamanan telah ia temukan di sekolah barunya ya…

Pukul 7.15
Sesampainya di sekolah,telah banyak kulihat anak-anak yang berdatangan. Ada yang diantar oleh orang tua nya (penanda bahwa anak ini masih kelas 1),ada juga yang tidak. Kami  (aku dan si bungsu) pun kemudian bergegas memasuki ruang kelas. #Wah… betapa bersemangatnya!  Hingga pegangan kami yang dari rumah begitu erat,kini terlepas darinya. Selama perjalanan menuju kelas, bak tour guide si bungsu pun menjelaskan kepadaku bagian-bagian dari sekolahnya. –Sekolah ku dulu dan kini telah banyak berubah yaa.

Ternyata masih terlalu pagi. Di dalam kelas,kami hanya menemukan dua orang anak perempuan. Dengan nada yang sedikit agak menggoda,aku bertanya pada si bungsu,“Rul,siapa nama teman Arul yang itu?” Tanpa menghiraukan pertanyaan,ia menarik tanganku keluar dari kelas,pertanda bahwa ia tidak ingin menjawab pertanyaanku itu. #Ahh.. dasar adik bujang ini. Kemudian kami pun berkeliling sejenak mengitari sekolah. Hingga akhirnya kembali lagi ke kelas. Beberapa menit ditinggal,kelas pun mulai ramai. Anak-anak telah berdatangan. Di ruangan itu juga tampak seorang ibu guru yang sedang membersihkan beberapa file di mejanya. Dengan sedikit basa-basi,aku mencoba mengajak si ibu berbincang-bincang. #basa-basi? Kebiasaan orang minang.

“Siapa nama anak ibu yang ganteng ini?”
“Fahrul” jawabnya pendek

Ketika seorang anak ditanyai oleh orang lain,biarkan ia mencoba menjawab pertanyaan tersebut sendiri. Karena hal itu,bisa melatih anak untuk menjadi lebih percaya diri. Kebanyakan orang tua,kadang sering “menyambar” pertanyaan yang diajukan pada anaknya. Sebenarnya hal itu tidaklah baik,karena hanya akan membuat si anak kurang percaya diri nantinya.

foto-anak-sekolah

Insting seorang guru. Dengan sigap,si ibu guru langsung merangkul beberapa anak dan mengajak mereka untuk bermain bersama teman barunya. Tak terkecuali si bungsu ku. Ia mendapatkan teman baru. Awalnya mereka malu-malu. Tapi setelah diminta untuk bermain bersama ,mereka pun menjadi layaknya sepasang sahabat,saling bergandengan. #Dasar anak-anak. Aku membiarkan si bungsu bermain dengan sahabatnya. Alhamdulillah,akhirnya aku bisa bebas melenggang ke sana ke sini sendirian tanpa harus ada lagi yang bertanya, “Anaknya ya,Bu?” -dengan raut muka penanya yang sedikit agak tidak percaya. Arrgh.. Inilah hal yang paling tidak kusukai setiap kali menghadiri acara atau kegiatan si bungsu. Para orang tua yang lain,selalu mengajukan pertanyaan semacam ini. Walaupun mereka sendiri,terkadang tidak yakin dengan pertanyaannya. Apa mungkin wajah ini sudah terlalu tua,seperti ibu-ibu? Huaaa… Tidaaaaak… Sudahlah,positive thinking. Mungkin saja wajahku keibuan,hahaha… Setelah beberapa menit berdiri di salah satu sudut sekolah,tiba-tiba muncul lah seorang anak  yang gelagatnya sangat ku kenal. #Ahh si bungsu! Cepat sekali ia selesai bermain,baru ditinggal 2 menit juga.

Masih pukul 7.45,bel sekolah belum juga berbunyi.
Inilah sisi kelam akibat pergi sekolah kepagian. Menunggu dan Bosan. Untuk menghilangkan kebosanan,aku pun kembali mengajak si bungsu ke kelasnya. Dalam hati aku berharap,mudah-mudahan si ibu guru masih di kelas. Sehingga,aku bisa bebas dari belenggu si bungsu ini,haha….Sayangnya si ibu yang diharapkan tidak ada lagi di tempat.

Awalnya,niat hati ingin mencoba hal yang sama seperti yang dilakukan si ibu. Eh… ternayata,malah gagal. Mungkin memang tidak berbakat menjadi guru,hehe. Eits… tapi tunggu dulu! Walaupun tidak berbakat,tapi wajahku memiliki pesona  dan kharisma seorang guru loh,cieee…😀  Terbukti,beberapa murid yang lalu lalang sempat melirik ku,rasa hati mereka ingin menyapa tapi tak terlalu berani.

“Bu guru namanya siapa?”
“Eh,kakak bukan bu guru,dik!”

Tanpa mengindahkan pernyataanku, ia kembali bertanya,dan akhirnya ku jawab juga. Mungkin dalam pikirannya aku guru baru yaa..

Tepat pukul 8.00,bel pun berbunyi.
Mungkin tidak perlu datang sepagi ini,jika bel baru berbunyi jam 8. Arrggh…

Anak-anak berlarian ke dalam barisannya,begitu juga si bungsu. Kali ini ku lepaskan genggamannya. Aku ingin melihat,apa yang akan  dilakukan adik bujang ini jika aku tidak membantunya mencari barisan. Sesaat tampak raut kebingungan hadir di wajahnya. Tapi ku biarkan saja. Bukan bungsuku namanya kalau tidak bisa memecahkan suatu masalah.  #Game sesulit apapun berhasil ia selesaikan. Dan hal semacam ini pun,juga mesti begitu. Setelah mondar-mandir beberapa kali dan tak kunjung mengetahui di mana barisan kelasnya,si bungsu pun mendekati salah seorang gurunya. Cerdas! Bertanyalah pada ahlinya. Ia pun akhirnya menemukan barisan kelasnya.

Di dalam barisan,aku melihat si bungsu hanya memperhatikan teman-teman barunya. Sedikit sok cool. Tapi ketika temannya mencolek,ia pun membalas tidak kalah jahilnya. Dan mereka pun tertawa bersama. Sungguh unik bagaimana seorang anak kecil berkenalan dengan teman barunya. Kalau orang dewasa,mana berani mencolek yang belum ia kenal. Katanya sih takut digampar,haha…

Setelah membaca ikrar,doa bersama,para siswa pun memasuki kelasnya masing-masing

“Ibu-ibu,maaf pintunya saya tutup ya”

Sedikit anggukan dan si bungsu pun membalas dengan kode yang sama. Komunikasi nonverbal yang artinya kira-kira, “Kakak pulang ya!” — “Oke!”

Aku pun berlalu dari kelasnya. Hanya beberapa langkah setelah aku meninggalkan kelas si bungsu,aku bertemu dengan guruku. #Wah si ibu masih tetap cantik seperti saat aku masih SD dulu. Aku heran,kenapa ya guru-guru itu,khususnya guru SD dan TK,tidak pernah kelihatan tua. Mungkin bertemu dan bermain bersama anak-anak membuat mereka menjadi awet muda ya? Hmm… Kami pun melakukan sedikit perbincangan,biasalah menanyakan perihal kabar dan beberapa pertanyaan yang menggunakan kata tanya apa,bagaimana,dimana,dan kapan.

Pukul 8.15,saatnya kembali pulang.
Tugas pertama seorang calon ibu telah terselesaikan,haha…
Tugas pertama? Berarti masih ada tugas kedua,ketiga dan selanjutnya

Wah……

21000_large