Bukan mempersempit cita-cita atau impian. Tapi mengemasnya menjadi indah bagi dua dunia,itu lebih baik

IMG_7940

Setelah lelah melahap beberapa soal yang memperlambat kerja otak,munculah sebuah pertanyaan : Apa impian dan cita-citaku?

Bagai batu yang tercelup ke dalam genangan air,aku pun tenggelam bersama pikiranku  ke masa 15 tahun  silam. Ketika ku masih menggunakan seragam lucu warna-warni.

“Riza,kalau udah besar mau jadi apa?”
“Mau jadi dokter,Buk!”

Aku seperti robot yang telah terprogram untuk memberikan jawaban yang sama setiap kali pertanyaan itu muncul dari mereka yang bertubuh besar. Begitulah aku menyebut riza kecil.
Semakin sering kata itu diucapkan,riza kecil pun mulai terbiasa dengan cita-citanya. #impian berjuta pasang mata.

Beranjak memasuki sekolah dasar

“Aku mau jadi dokter ah kalau udah besar!”
“Aku juga mau jadi dokter!”
“Ih kamu..yang jadi dokter satu aja,aku!”
“Kalau aku mau jadi arsitek!”
“Aku jadi astronot!” “Aku pilot!” “Polisi,polisi!” Aku.. aku.. aku..

Aku menemukan kata-kata baru dari mulut kecil sahabatku. Yang membuat ku berpikir,ternyata cita-cita tidak hanya menyediakan tempat bagi seorang dokter saja,tapi masih banyak yang lainnya. Aku pun mulai mendekorasi  impianku sendiri,tanpa bantuan siapapun. Dan munculah sebuah ide yang melesat bak roket,menjadi pramugari. Yah inilah yang kini menjadi cita-cita baruku . Alasanku saat itu hanya satu,aku ingin ke luar negeri. Dengan menjadi pramugari,aku berpikir aku bisa mengelilingi dunia #betapa lugunya pikiranku.

Memasuki remaja awal,aku pun mengalami masa kekosongan impian dan cita-cita. Hingga pada akhirnya,kembali kata itu menghantuiku. Saat itu aku mulai diperkenalkan dengan keindahan bahasa. Bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Kedua bahasa yang sungguh menarik perhatian ku,saat awal bertemu. Bertolak dari sanalah,bermunculan cita-cita baru,salah satunya menjadi seorang penerjemah. Yah,menjadi seorang penerjemah tentu akan membuatku bisa menetap di Jepang atau Negara Eropa lainnya #khayalanku.
— Dari sederetan impianku saat itu,ternyata mereka memiliki satu kesamaan,yaitu mengukir jejak di tanah yang berbeda.

Sekolah Menegah Atas (SMA)
Aku mengalami suatu fase kebuntuan imajinasi. Aku tidak dapat berpikir tentang cita-cita. Di mana seharusnya,pada masa ini gambaran tentang cita-cita harus sudah jelas,karena inilah gerbang awal penentu masa depan.Tapi aku justru dipermainkan dalam pusaran pertanyaan oleh diriku sendiri.

Apakah aku benar-benar ingin menjadi seorang dokter,merealisasikan sesuatu yang pernah diprogramkan dalam diriku?
Atau ,apakah ini hanya efek samping dari dokrin yang selalu kuterima,sehingga tak ada lagi pilihan?
Apakah cita-cita itu mesti ada?

Sederetan pertanyaan yang lambat laun berhasil ku jawab sendiri,seiring berakhirnya perjalanan di SMA. Aku membuktikan bahwa menjadi seorang dokter bukan hanya keinginan kedua orang tuaku. Aku pun juga memiliki ketertarikan terhadap profesi tersebut.
Saat itu aku menemani mama menemui seorang dokter obgyne (spesialis kandungan). Aku masih ingat,ketika itu mataku hampir tak bisa lepas mengamati setiap detail peralatan medis yang terhampar dalam ruangan sang dokter. Serasa mengulum pil ekstasi,aku pun dibuatnya terpana.

Rasa kagum dan minatku terhadap dunia kedokteran semakin hari semakin membara. Panasnya bara  kurasakan saat menghadapai  ujian masuk perguruan tinggi. Tak ada pilihan lain selain kedokteran. Itulah yang selalu ku cam kan tiap kali mengisi bagian kosong pada pilihan jurusan. Tapi, takdir dalam Lauh Mahfudzku berkata lain. Aku tidak diizinkan mencicipi pendidikan di bidang yang dulu ku sebut “cita-cita” itu. Aku pun terdampar di suatu tempat  yang sama sekali  tak pernah terpikirkan untuk memilihnya. Keilmuan yang sangat asing,Kebidanan.

Bidan,profesi yang memang berada dalam satu rumpun dengan dokter. Namun,aku tidak menemukan passion di sana. Tiap kali kesendirian menghampiri,aku terus berpikir.

Haruskah ku ubah cita-cita dan berusaha mencintai bidang ini?
Bidang yang mungkin  akan menjadi bagian masa depanku.

Mulai saat itu,aku tidak berani lagi untuk bercita-cita.

Kebingungan dan kekhawatiran terhadap masa depanku di sana,berhasil melepaskan seluruh hormone kortisol dalam tubuhku. Aku mengalami stress ringan. Jiwa ku terasa sedikit mengalami pergesekan. Ketika itu aku sempat berkonsultasi kepada seorang  psikolog,dengan harapan beliau mampu menjadi analgesik ku. Setelah melewati diskusi yang cukup panjang sampailah pada dua pilihan. Selesaikan sampai akhir atau berhenti dan mengorbankan waktu yang telah kuhabiskan 2 tahun di sana. Sesaat batinku mengalami pergolakan yang luar biasa hebatnya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tetap bertahan dan menyelesaikan apa yang telah ku mulai. Pertimbanganku  saat itu hanya satu. Aku telah mendapatkan banyak pelajaran hidup di sana,meski terkadang tak seindah yang kubayangkan,tapi itu sangat berharga.

Seperti kran yang telah diputar. Air harapan pun kembali mengalir membasahi tanah masa depanku yang telah lama kering akibat kegelisahan yang berkepanjangan . Aku kembali menemukan ritme dalam hidupku.  Seorang dosen yang sungguh luar biasa. Hanya butuh waktu sekejap,beliau telah berhasil menghipnotisku. Kata-kata yang melayang dalam ruang kerja beliau,seolah memberitahukan padaku bahwa

Batu kelam yang selama ini ku lihat di sini,sesungguhnya ia adalah permata rubi yang tertutup ribuan butir debu. Jika aku tidak membersihkannya,maka selama itu pula permata rubi tidak akan pernah terlihat bernilai. Dan tentunya akan terus menjadi batu hitam dalam pandanganku.

Kala itu,ribuan motivasi serasa telah diinjeksikan pada vena ku. Impian dan cita-cita hidup kembali. Setelah sekian lama,akhirnya aku kembali memproklamirkan, “Aku ingin di masa depanku menjadi seorang dosen!”. Kenapa dosen? Karena aku ingin menjadi seperti beliau.

Setelah wisuda,aku pun mulai mengambil langkah kecil mendekati impian. Aku mulai mengajar. Profesi yang tak pernah terlintas dalam benak ku. Namun,ia  kini diabadikan dalam catatan hidup seorang riza.

6141.04799596.pelangi-608x342

Sudah 20 tahun waktu berlalu
Dalam perjalanan sebuah cita-cita,aku mendapatkan sebuah kesimpulan.

Cita-cita dan impian yang selama ini kita bentuk dari sejak kecil hingga sekarang,semua itu merupakan hasil dari apa yang kita lihat dan kita rasakan. Cita-cita dan impian itu akan selalu berubah. Kenapa? Karena dalam setiap jengkal kehidupan,kita akan selalu dipertemukan dengan kondisi yang berbeda,yang secara tidak langsung akan memutar cita-cita dan impian.

Dan cita-citaku pun kembali berubah seperti bola yang dibolak-balikan. Tentang menjadi seorang penulis dan dosen.

Umm.. Mengajarkan anak-anak ilmu agama di sebuah mesjid,sepertinya juga menarik ya?
Apakah cita-citaku mulai menyempit?
Atau apa ini yang ku inginkan sebenarnya?
Cita-cita berorientasi akhirat.
Wallahu ‘alam.