Pukul 12.30. Aku bergegas menelusuri keramaian pasar siang hari itu. Tujuan ku satu-fulfil my belly-tempat yang terjangkau oleh kantong plus enak,ada ya?  Hampir 10 menit aku mencermati jejak yang pernah ku tinggalkan beberapa waktu silam. Kembali mengingat dan memastikan bahwa this is not wrong way. Yeah,akhirnya kapal ku pun berlabuh . Dengan uang 8000,rusuk ku pun kembali tegak dan mata ku mulai berbinar memancarkan sinarnya kembali.  5 menit sebelum pukul  1,aku mempercepat langkah kaki ku sembari menyapu  hasil kerja beberapa kelenjer keringat.

Tempat yang ku tuju berhasil ditemukan. Dengan langkah angun dan senyuman memesona (vomiting.. haha),aku memasuki ruangan itu sambil melirik apa yang sedang terjadi.Oh my God, It’s so crowded. Di mana-mana kutemukan bocah kecil berlarian dan beberapa orang tua yang tengah duduk in waiting room. Aku berpikir mungkin ini waktunya pulang. 30 detik pertama yang sempat mencuri perhatianku. Then,aku pun mengambil posisi tepat di depan kelas yang sebentar lagi akan menjadi milikku. Kubiarkan pikiranku melayang beberapa saat menembus galaxy Bima Sakti.

Miss baru ya? Siapa namanya Miss? “sapanya lembut,dia adalah Glory,gadis kecil yang pertama kali mendekatiku.

Loh? Miss? Siapa? Aku? Sejak kapan ?  Sedikit terkejut dan tertawa geli mendengar panggilan itu. Namun mau tidak mau aku harus mulai terbiasa. Ok Miss Riza!!

15 menit kemudian…

“Ok,Miss silahkan masuk!” pinta kakak,upss..I mean teacher yang akan menjadi pendamping orientasiku selama seminggu. Kak Dody,menurutku itulah nama kakak pendampingku. Aku belum sempat  sih bertanya perihal nama si kakak. Namun, dari obrolan yang berhasil kucuri bahwa dia yang memakai kaos biru,tinggi lebih kurang 165-170,yang kini berada dalam 1 ruangan dengan ku adalah kak Dody (read: teacher)

Kak Dody memberiku banyak pengarahan sebelum kelas dimulai. Ada 2 kata yang sempat berdiam dalam otakku ,dari sekian banyak petuahnya,character building.

Kita di sini bukan menuntut mereka paham,tapi membuat mereka  merasa nyaman. Mereka berbeda,tidak seperti orang dewasa. Character building ,ini juga point penting yang harus kita berikan kepada mereka.

Sedikit penjelasan kak Dody yang masih tersimpan dalam my short term memory.

1 jam pertama-1 orang

Feona,gadis kecil,bertubuh gemuk plus pipi chubby yang membuatnya terlihat menggemaskan ketika sebuah senyuman bergelayut di wajahnya. The first thing is… Kak Dody memberikan sepenuhnya Feona kepadaku.

Oh my God, seketika  aku merasakan sebuah  bom baru saja meledak di otakku. What should I do with  her?

Kak Dody meninggalkan kami berdua di dalam ruangan yang cukup nyaman,namun sedikit menciutkan pembuluh kapilerku. But its ok,the show must go on. Sebelum meninggalkan ruangan,kak Dody memberikan beberapa intruksi apa yang harus ku lakukan.

Ok,bismillah

Aku mulai memilin otakku,
Aha,ya aku teringat bahwa kuncinya hanya satu,pendekatan secara emosinal. Aku mulai mempraktekkan beberapa teori psychology  kepribadian yang pernah ku baca.

5 menit pertama,hmm.. ok,a lil bit strange dan kaku
10 menit kedua,perlahan gunung es itu mulai mencair
Selanjutnya,Feona is mine. Fiuh,finally I can see her smile

Well, sesi pertama Alhamdulillah terlewati dengan lancar. Very good!!

1 jam ke dua- 3 orang  (under 5 years old)

Brandon,Cici,and Yaya. Kebetulan mereka bertiga Chinese. Dari ketiganya,Yaya is the shining one,brilliant boy. Dia bisa menyebutkan beberapa kosa kata dalam bahasa Inggris. Di mana belum tentu semua anak yang seumuran dengannya bisa melakukan hal yang sama,he’s 3 years old.

Aku teringat sebuah teori yang pernah kudengar,bahwa  pada saat seorang anak berumur di bawah 5 tahun,itu adalah their golden age. Totally true. Apa pun ilmu pengetahuan yang disampaikan pada masa ini,reseptor  mereka akan menangkap stimulus yang diberikan dan  langsung menyimpannya dalam long term memory. Subhanallah.

Untuk sesi ini,honestly I quit. I could not face them. Jurus pendekatan yang ku berikan kepada Feona,ternyata tidak bekerja  pada mereka. Well,kelas berakhir pukul 4. It’s not as good as before,but at least I can learn how to face them. Next time I’ll try to do so

Last session

Ini adalah sesi terakhir hari ini. Fiuh,akhirnya bisa bernafas lega. 2 bocah lagi yang harus ku hadapi.  Boy and girl. Marcelino,kata kak Dody anak yang satu ini lebih bawel  dari yang lainnya. So it’s challenge for us. “Nah ini dia tantangannya,Za!”Marcelino,masih keturunan Chinese. Tapi Alhamdulillah muslim,orang tuanya mu’alaf.

Kebetulan hampir semua anak yang belajar di tempat ini adalah Chinese dan mereka berasal dari kalangan non muslim.

Another one is Viona,gadis kecil,kelas 3 SD. Untuk sesi terakhir,aku dan kak Dody menghadapi masing-masing 1 anak.Me-Viona. Viona,dibalik kelembutan suaranya,ternyata she is extremely smart. Hanya membutuhkan 1 kali pengucapan,dia telah bisa mengingat semuanya dengan baik. What a beautiful mind she has!

“Hmm..Masih ada yang lebih smart dari Viona. Namanya Reyner. Kebetulan hari ini dia tidak masuk  kelas. Very good in conversation,”jelas kak Dody.Yah.. next time.

Wow,it’s fucking great!! 5 jam yang sungguh memberiku berjuta  pengalaman baru. How about tomorrow? Let’s see!! Kejutan apa lagi selanjutnya?